BLITAR - Tidak semua langkah besar dimulai dari percaya diri. Berawal dari keraguan karena merasa tak piawai berdandan dan berbicara di depan umum, kini Almas Putri Prayitno justru menjadi salah satu contoh pemudi inspiratif di kabupaten. Finalis Gus Jeng Kabupaten Blitar 2023 ini kini dikenal sebagai Jeng Almas yang membidangi advokasi seksi inovasi dan karya.
Perjalanan Almas bermula dari sebuah poster pendaftaran di media sosial. Awalnya ragu karena tak pandai berdandan dan belum memahami dunia pariwisata. “Saya dulu bahkan tidak tahu banyak soal wisata Blitar. Tapi karena dukungan keluarga, akhirnya saya beranikan diri ikut seleksi,” tutur gadis asal Resapombo, Doko, ini.
Keputusan itu ternyata menjadi titik balik hidupnya. Setelah lolos seleksi dan karantina, Almas berhasil masuk 12 besar finalis Gus Jeng 2023, yang kemudian membuka jalan baginya menjadi pengurus paguyuban hingga kini.
Di luar aktivitas kepariwisataan, Almas kini menempuh pendidikan S-1 Manajemen di Universitas Terbuka Surabaya dan bekerja sebagai freelance model. Kesibukan itu tidak menghalanginya menjalankan tanggung jawab di paguyuban. “Kuncinya disiplin dan tahu prioritas. Saya selalu membuat jadwal harian agar semua berjalan seimbang,” ungkapnya.
Sebagai pengurus bidang advokasi seksi inovasi dan karya, Almas memegang peran penting dalam pengembangan program paguyuban. Seksi ini menjadi motor ide dan kolaborasi kreatif yang menyasar pendidikan, UMKM, hingga promosi wisata digital. Salah satu program andalan yang digagas adalah Saba Sekolah, yakni kegiatan literasi dan sosialisasi budaya lokal bagi pelajar SD.
“Melalui Saba Sekolah, kami memperkenalkan potensi wisata dan budaya Blitar sejak dini,” jelasnya. Program lain yang tak kalah menarik adalah Podcast Gus Jeng, media digital yang dikembangkan untuk menampung gagasan generasi muda sekaligus mempromosikan pariwisata daerah dengan cara kekinian.
Ide-ide baru lahir dari diskusi rutin dan brainstorming bersama anggota paguyuban, bekerja sama dengan dinas pariwisata dan pelaku UMKM. Pendekatan kolaboratif ini membuat kegiatan Gus Jeng semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hasilnya, sektor pariwisata Blitar kini semakin aktif dan dinamis.
Menurut Almas, tantangan utama dalam promosi wisata Blitar adalah minimnya minat generasi muda terhadap destinasi lokal. “Banyak yang lebih mengenal tempat wisata populer di luar daerah. Padahal, Blitar punya potensi besar,” katanya. Untuk itu, dia dan timnya berupaya membangun kebanggaan terhadap kearifan lokal lewat media sosial dan kegiatan edukatif.
Baginya, anak muda memegang peran penting sebagai penggerak inovasi. “Kreativitas mereka bisa menjadi kekuatan baru dalam promosi wisata. Kami ingin Gus Jeng menjadi wadah untuk menampung karya-karya itu,” tuturnya. (*/c1/ady) (*)