BLITAR KAWENTAR - Banyak orang memiliki ide brilian, tetapi gagal meyakinkan orang lain karena tidak mampu mengomunikasikannya dengan jelas. Hal ini diungkap oleh Agus Halim, seorang mentor komunikasi, yang menceritakan pengalamannya saat presentasi di depan calon investor. Meski membawa ide bagus, ia justru dianggap gagal karena tidak bisa menyampaikan pesan dengan efektif.
Kisah itu menjadi titik balik penting yang menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi akan menjadi salah satu keterampilan paling dibutuhkan di masa depan. Sejumlah laporan global pun memperkuat hal ini: kemampuan berbicara, berpikir kritis, dan memecahkan masalah kini lebih dicari dibanding kemampuan teknis semata.
Agus menjelaskan bahwa inti komunikasi efektif terletak pada kemampuan membangun koneksi melalui storytelling. Dengan cerita, pesan lebih mudah diterima, diingat, dan dipercayai oleh pendengar. Ia memperkenalkan konsep “LATED” Location, Action, Thought, Emotion, dan Dialogue sebagai formula sederhana dalam bercerita. Dengan menguraikan di mana peristiwa terjadi, apa yang dilakukan, apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, serta dialog yang terlibat, pesan dapat tersampaikan lebih hidup dan meyakinkan.
Ia juga menyoroti pentingnya latihan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kemampuan ini membuka akses pada sumber belajar internasional serta memperluas jaringan profesional. Dalam video tersebut, Agus menunjukkan aplikasi pelatihan bahasa bernama Elsa Speak, yang membantu pengguna meningkatkan pelafalan dan kelancaran berbicara lewat simulasi percakapan interaktif.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kemampuan menulis juga dapat memperkuat keterampilan berbicara. Melalui tulisan, seseorang belajar menyusun ide dengan runtut dan logis. Agus merekomendasikan tiga buku penting untuk memperdalam kemampuan storytelling: On Writing Well karya William Zinsser, How to Tell a Story, dan Storytelling yang mengajarkan tentang membangun narasi pahlawan dalam sebuah cerita.
Menurut Agus, komunikasi bukan hanya tentang berbicara, melainkan juga tentang bagaimana menyampaikan makna hingga lawan bicara benar-benar memahami konteksnya. Ia menegaskan, kemampuan ini bisa menjadi “senjata utama” di era 2030, baik bagi pelajar, profesional, maupun pebisnis.
Ia menutup pesannya dengan refleksi pribadi: “Dulu gue dibilang pasti gagal, tapi ternyata bukan idenya yang salah cuma cara gue menyampaikannya yang belum tepat.” Dengan komunikasi yang efektif, ide tak lagi berhenti di kepala, melainkan bisa menginspirasi dan mengubah dunia.
Editor : M. Subchan Abdullah