Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengapa Logika dan Perasaan Tak Sejalan Saat Jatuh Cinta: Pandangan Saintifik dari Ferry Irwandi

Nikmah Laila • Jumat, 17 Oktober 2025 | 19:00 WIB
Mengapa Logika dan Perasaan Tak Sejalan Saat Jatuh Cinta: Pandangan Saintifik dari Ferry Irwandi
Mengapa Logika dan Perasaan Tak Sejalan Saat Jatuh Cinta: Pandangan Saintifik dari Ferry Irwandi

BLITAR KAWENTAR - Rasa cinta sering digambarkan sebagai hal yang indah, namun di baliknya tersimpan paradoks: mengapa seseorang bisa kehilangan logika ketika jatuh cinta? Fenomena ini dibahas oleh kreator konten Ferry Irwandi dalam salah satu episode YouTube-nya yang berjudul Teman Makan. Ia mengupas topik tersebut melalui pendekatan ilmiah yang ringan dan mudah dipahami, menjelaskan hubungan antara hormon, otak, dan perilaku manusia saat mencintai.

Menurut Ferry, ketika seseorang jatuh cinta, bagian otak bernama Ventral Tegmental Area (VTA) aktif dan menghasilkan dopamin, hormon yang menciptakan rasa bahagia, nyaman, dan euforia. Kondisi ini membuat seseorang cenderung impulsif dan sulit berpikir rasional. “Kalau lu belum merasa bego, berarti lu belum jatuh cinta,” ujarnya dengan gaya khasnya yang jenaka.

Selain dopamin, dua hormon lain yaitu oksitosin dan vasopresin berperan dalam menciptakan rasa percaya, kasih sayang, serta ketergantungan emosional terhadap pasangan. Inilah alasan mengapa hubungan yang semakin dalam kerap menimbulkan keterikatan yang sulit dilepaskan, bahkan ketika hubungan tersebut tidak lagi sehat. Oksitosin juga menekan hormon stres, membuat seseorang merasa lebih tenang saat bersama orang yang disayangi.

Namun, efek dopamin ternyata juga dapat menekan kerja prefrontal cortex — bagian otak yang berfungsi untuk berpikir logis dan mengambil keputusan. Akibatnya, seseorang yang sedang jatuh cinta cenderung mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sudah tidak masuk akal. Kondisi ini diperparah dengan menurunnya kadar serotonin, yang bisa menimbulkan perasaan obsesif, cemas, dan tidak stabil secara emosional.

Ferry juga membahas mengapa banyak orang sulit lepas dari hubungan toksik. Ketika hubungan itu berakhir atau menimbulkan rasa sakit, bagian otak bernama insular cortex aktif dan memicu rasa sakit emosional yang mirip dengan luka fisik. Rasa sakit itu justru sering membuat seseorang kembali mengingat momen bahagia masa lalu bersama pasangan, sehingga VTA kembali aktif dan menghasilkan dopamin. Siklus ini membuat seseorang seperti “kecanduan” terhadap hubungan yang sebetulnya merugikan.

Meski begitu, Ferry menegaskan bahwa otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan pulih. Ia menyarankan agar seseorang menerima rasa sakit, tidak menolak kenyataan, serta mengisi waktu dengan aktivitas yang menenangkan seperti berbincang dengan teman, menekuni hobi, atau beribadah. Dengan kesadaran dan kesabaran, keseimbangan hormon dan logika akan kembali seperti semula.

Ferry menutup pembahasannya dengan pesan reflektif: tidak ada luka yang abadi. “Cepat atau lambat, tiap luka akan pulih dan mengering. Mungkin meninggalkan bekas, tapi tidak lagi menyakitkan,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa jatuh cinta adalah bagian dari proses biologis dan emosional yang wajar yang terpenting adalah bagaimana seseorang belajar mengelolanya.

Editor : M. Subchan Abdullah
#jatuh cinta pada orang yang salah #penyebab seseorang sulit jatuh cinta #jatuh cinta tidak sederhana #mengapa susah jatuh cinta lagi #hampir jatuh cinta #penjelasan psikologis jatuh cinta