BLITAR KAWENTAR - Pernahkah seseorang yang biasanya rasional tiba-tiba melakukan hal-hal tak masuk akal demi orang yang disukainya? Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan hasil dari proses biologis yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang manusia.
Menurut pemaparan Ru Hasan dalam program Kelas Pakar Malaka, jatuh cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan reaksi biologis kompleks yang memiliki akar evolusioner. Ia menjelaskan bahwa cinta merupakan mekanisme alami yang membantu manusia untuk mempertahankan keturunan.
Secara ilmiah, proses jatuh cinta dimulai dengan “gempa testosteron” lonjakan hormon yang memicu ketertarikan awal. Ketika dua individu saling memberi respons positif, muncul “tsunami dopamin” yang menimbulkan rasa senang luar biasa dan euforia. Setelah itu, otak manusia memasuki fase “badai oksitosin” yang menciptakan rasa rindu, kedekatan emosional, dan kepercayaan mendalam terhadap pasangan.
Reaksi berantai ini membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir logis. “Waktu terjaga bisa lebih dari 90 persen digunakan untuk memikirkan orang yang dicintai,” ujar Ru Hasan. Fenomena ini menjelaskan mengapa orang yang jatuh cinta sering kali membuat keputusan di luar nalar, seperti rela menempuh jarak jauh hanya untuk melihat rumah orang yang disukai.
Menurut Hasan, kondisi ini berlangsung sekitar enam hingga delapan bulan, sampai kadar hormon-hormon tersebut menurun kembali. Namun, selama periode itu, otak manusia memang benar-benar kehilangan sebagian kemampuan rasionalnya.
Rasionalitas yang “mati” saat jatuh cinta sejatinya bukan kelemahan, melainkan warisan evolusi yang membantu spesies manusia bertahan. Jadi, ketika seseorang kehilangan logika karena cinta, itu hanyalah cara alam memastikan keberlanjutan kehidupan.
Editor : M. Subchan Abdullah