BLITAR KAWENTAR - Nasihat tentang cinta sering kali tak mempan. Sebab, ketika seseorang jatuh cinta, otaknya sudah dikendalikan oleh hormon yang membuat logika berhenti bekerja.
Dalam sesi bincang ringan Kelas Pakar Malaka, Ru Hasan menyoroti fenomena umum: seseorang yang biasanya rasional bisa berubah total saat jatuh cinta. Ia menjelaskan bahwa ini bukan karena lemahnya karakter, tetapi karena otak memang sedang “dibajak” oleh sistem biologis.
“Jatuh cinta itu bukan kesalahan, tapi strategi evolusi,” katanya. Otak manusia mengaktifkan serangkaian hormon testosteron, dopamin, dan oksitosin—yang membuat seseorang rela berkorban, percaya tanpa alasan, bahkan mengabaikan logika.
Efek ini berlangsung selama enam hingga delapan bulan. Setelahnya, kadar hormon menurun, dan seseorang mulai “sadar” kembali. Sayangnya, pada fase awal cinta, nasihat rasional hampir selalu ditolak, karena bagian otak yang bertanggung jawab atas logika sedang dalam kondisi tidak aktif.
Ru Hasan menambahkan, rasa sakit akibat perpisahan juga nyata. Ia menyarankan, “Kalau ingin mengurangi nyerinya, cukup minum parasetamol 500 mg. Secara ilmiah, rasa sakit karena cinta dan sakit fisik memicu area otak yang sama.”
Cinta memang membutakan logika, tapi justru di sanalah letak keindahannya. Bukan untuk dihindari, melainkan untuk dipahami. Dengan mengenali mekanismenya, manusia bisa mencintai dengan lebih sadar tanpa kehilangan sepenuhnya rasionalitasnya.
Editor : M. Subchan Abdullah