BLITAR - Dunia batik Blitar terus terjaga dan berkembang sebagai warisan budaya lokal yang tak kenal zaman. Itu ditunjukkan dengan terus munculnya pembatik yang tekun dan tak menyerah. Salah satunya Siti Fatonah, pemilik batik Puspayindra, Kanigoro, yang sejak 2017 mulai mewarnai dunia batik khas Blitar.
Perjalanan Fatonah di dunia batik dimulai sejak mengikuti pelatihan dari dinas pemerintah. Dari seorang peserta pelatihan, kini menjadi perajin senior yang bahkan juga mengajar di sekolah-sekolah dan acara edukasi. "Dari situ terus belajar, dan pada 2019 mulai mengurus perizinan untuk mendirikan rumah batik sendiri," ungkapnya.
Keahlian Fatonah tidak terbatas pada satu teknik. Batik celup, batik colet, batik tulis, batik cap, hingga batik ciprat, semuanya dikuasai. Fleksibilitas ini menjadikannya mampu melayani berbagai permintaan pelanggan, dari syal, blangkon, udeng lembaran, jarik, sarung, hingga baju sesuai pesanan.
Dalam setiap karyanya, Fatonah sering menyelipkan motif Cakrapala, motif khas yang diambil dari relief Candi Penataran. Motif ini menghubungkan warisan budaya lokal Blitar dengan seni batik.
Proses pemesanan dimulai dengan konsultasi. Pelanggan menyampaikan keinginan mengenai gambar dan warna, lalu Fatonah membuat desain terlebih dahulu sebelum dikonsultasikan kembali. Untuk pesanan rumit, dia tidak segan berkolaborasi dengan desainer batik profesional.
Sistem manajemen pesanan yang tertata membuat Fatonah mampu melayani pelanggan tanpa overload. Pesanan dijadwalkan berdasarkan urutan masuk, memastikan setiap pelanggan dilayani dengan baik. Ketika pesanan banyak, dia dibantu oleh rekan-rekan perajin lainnya.
"Membatik perlu proses," ujar Fatonah menjelaskan filosofi kerjanya. Batik cap memerlukan waktu 2-3 hari secara keseluruhan, sementara batik tulis bisa memakan waktu hingga satu bulan karena harus menimpa warna berkali-kali.
"Dan ini yang membuatnya lebih berharga," tambahnya.
Fatonah menekankan bahwa nilai batik tidak ditentukan oleh kain, tetapi prosesnya. Batik mahal dan murah menggunakan kain yang kurang lebih sama. Namun, kerumitan, lama proses pembuatan, dan makna yang terkandung di dalamnya yang membedakan harganya. Sama seperti barang lainnya, harga membawa kualitas.
Dalam pewarnaan, Fatonah menggunakan remasol yang membuat warna tetap muncul meskipun kain hanya dianginkan tanpa terkena sinar matahari langsung. Pewarna ia racik sendiri untuk menghasilkan warna yang diinginkan. Bahan-bahan ia peroleh dari Solo, pusat pembatik di Indonesia, baik dengan cara jastip melalui kolega maupun online. Sebab, penggunaan kain untuk batik tidak boleh sembarangan.
Baca Juga: Nasib PSBI Blitar usai Terancam Gagal Jadi Tuan Rumah Liga 4
Bagi Fatonah, batik adalah seni kebebasan. "Untuk pemilihan warna, warna daun tidak selalu hijau. Bisa merah, bisa cokelat," jelasnya.
Dalam batik, warna bergantung pada warna dasar dan tidak bisa dipatok seperti alam. "Ada kalanya bunga matahari berwarna biru," ujarnya, menekankan fleksibilitas artistik dalam membatik.
Namun, kebebasan ini tetap memerlukan keahlian teknis. Air dengan kandungan kapur tinggi membuat warna batik lebih pucat cerah. Pemilihan kain juga tidak bisa sembarangan karena memengaruhi hasil akhir. Setiap perajin batik memiliki ciri khas dan karakter sendiri sehingga karyanya mudah dikenali.
Kendala terbesar yang dihadapi adalah pemasaran dan persaingan. Lebih dari itu, dia menyoroti kurangnya pengenalan batik asli kepada masyarakat. Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah pengenalan batik ke masyarakat, karena masih banyak dari kita yang belum tahu bagaimana batik asli.
"Karena meskipun demikian, masih ada yang belum mengetahui batik asli seperti apa," ungkapnya prihatin.
Menurut Fatonah, batik asli harus dibuat secara manual menggunakan malam panas. "Kalau malam dingin itu sudah bukan batik. Apalagi yang printing, itu hanya motif batik," jelasnya tegas.
Fatonah berharap masyarakat mendapatkan edukasi tentang batik asli. Dia menekankan bahwa batik tidak harus dipakai hanya saat acara resmi, tetapi juga bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari dan acara nonformal.
"Batik sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda di Indonesia, tapi masyarakatnya sendiri kurang menaruh antusias terhadap batik," keluhnya. Keprihatinan ini bukan tanpa alasan. "Nanti kalau diklaim negara lain bingung juga, jadi butuh diperhatikan," tambahnya, mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap warisan budaya. (*/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah