Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bahaya Tersembunyi di Balik Sarapan Manis Lonjakan Konsumsi Gula dan Krisis Kesehatan Indonesia

Nikmah Laila • Minggu, 19 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Bahaya Tersembunyi di Balik Sarapan Manis Lonjakan Konsumsi Gula dan Krisis Kesehatan Indonesia
Bahaya Tersembunyi di Balik Sarapan Manis Lonjakan Konsumsi Gula dan Krisis Kesehatan Indonesia

BLITAR KAWENTAR - Konsumsi gula dan karbohidrat berlebih menjadi masalah serius di Indonesia. Data dari Statista mencatat, rata-rata masyarakat Indonesia mengonsumsi 120 kilogram beras, 30 kilogram tepung terigu, dan 30 kilogram gula tambahan per tahun.

Artinya, total 180 kilogram karbohidrat dan gula dikonsumsi setiap orang per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi protein hewani yang hanya 10 kilogram. Ketimpangan ini dinilai menjadi akar meningkatnya kasus obesitas, diabetes, hingga penyakit metabolik lain yang membebani sistem kesehatan nasional.

Fenomena ini dijelaskan oleh pakar nutrisi Feliz Zulhendri dalam kanal Kelas Pakar. Ia menegaskan, nasi, roti, mie, dan berbagai produk tepung mengandung pati (starch) yang sebenarnya merupakan rantai gula.

Artinya, hampir semua makanan pokok di Indonesia berubah menjadi glukosa di dalam tubuh. Kondisi ini diperparah dengan tingginya konsumsi minuman manis dan jajanan ultraprocessed, terutama di kalangan remaja. Studi di Bali bahkan menemukan satu dari empat remaja sudah berada pada tahap pra-diabetes, menandakan ancaman serius bagi generasi muda.

Zulhendri menyoroti bahwa gula bersifat adiktif karena memicu pelepasan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang. Inilah alasan mengapa banyak orang sulit menghindari makanan manis meski sadar dampak buruknya.

Ketergantungan ini membuat pola makan masyarakat semakin sulit dikendalikan, sehingga kadar gula darah terus meningkat dan berujung pada berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

Ia menekankan pentingnya detoksifikasi gula secara bertahap. Salah satu langkah yang disarankan adalah meningkatkan konsumsi protein dan lemak sehat, terutama dari sumber hewani seperti telur dan daging. Zat ini dapat menstimulasi hormon kenyang seperti peptide YY dan cholecystokinin yang membuat tubuh merasa puas lebih lama. Sebaliknya, makanan tinggi karbohidrat cepat dicerna dan memicu rasa lapar berulang hanya dalam waktu dua jam.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam memilih asupan karbohidrat sesuai kebutuhan fisik. Menurut Zulhendri, karbohidrat sebaiknya dikonsumsi hanya ketika tubuh memerlukannya, misalnya setelah aktivitas fisik intensif. Ia juga menyarankan masyarakat memantau kondisi tubuh secara sederhana, seperti memperhatikan perubahan lingkar perut, untuk menilai keseimbangan asupan gula dan karbohidrat.

Feliz menutup pesannya dengan peringatan keras: Indonesia kini hidup di lingkungan ekstrem yang dipenuhi makanan olahan tinggi gula. Tanpa kesadaran nutrisi, masyarakat berisiko terjebak dalam pola makan merusak. Alternatif pemanis alami seperti stevia atau monk fruit extract dapat menjadi pilihan untuk mengurangi risiko. Namun, kuncinya tetap satu

kendalikan konsumsi gula dan fokus pada makanan bergizi seimbang agar generasi mendatang tak terjebak dalam krisis kesehatan kronis.

Editor : M. Subchan Abdullah
#akibat terlalu banyak konsumsi gula #Konsumsi gula Indonesia #batas aman konsumsi gula #konsumsi gula secara berlebihan #konsumsi gula membuat lapar #konsumsi gula berlebih #tips mengurangi konsumsi gula #batas konsumsi gula garam lemak