BLITAR KAWENTAR - Industri fashion global tengah menghadapi krisis besar akibat budaya fast fashion tren pakaian murah dan cepat berganti yang kini menjadi penyumbang limbah tekstil terbesar di dunia. Setiap tahun, sekitar 100 miliar pakaian diproduksi, namun 92 juta ton di antaranya berakhir di tempat pembuangan akhir. Angka ini setara dengan satu truk pakaian yang dibuang setiap detik. Jika tren ini berlanjut, volume limbah tekstil diprediksi meningkat hingga 134 juta ton pada akhir dekade ini.
Masalahnya tak hanya berhenti pada produksi berlebih, tetapi juga pada siklus konsumsi yang instan. Rata-rata orang kini hanya memakai satu pakaian tujuh hingga sepuluh kali sebelum menggantinya dengan yang baru. Akibatnya, tumpukan pakaian yang nyaris baru menumpuk di gudang, dibuang, bahkan dibakar. Beberapa merek ternama pernah ketahuan menghancurkan stok pakaian baru untuk menjaga eksklusivitas merek, menambah beban lingkungan dan ekonomi global.
Produksi fast fashion juga menyumbang hampir 10% dari total emisi karbon dunia lebih besar dari gabungan emisi sektor penerbangan dan pelayaran internasional. Industri ini menghabiskan jutaan meter kubik air setiap tahun, terutama dalam proses produksi kapas dan pewarnaan kain. Untuk membuat satu celana jeans saja, dibutuhkan sekitar 7.500 liter air. PBB mencatat bahwa industri pakaian bertanggung jawab atas 20% dari total limbah air global.
Selain itu, sekitar 60% bahan pakaian modern terbuat dari serat sintetis seperti poliester dan nilon yang berbasis plastik. Saat dicuci, serat-serat mikro ini lepas ke air limbah dan mencemari laut. Diperkirakan 35% dari seluruh mikroplastik di lautan berasal dari pakaian sintetis. Artinya, setiap potongan baju yang kita kenakan bisa meninggalkan jejak plastik yang abadi di lingkungan.
Masalah limbah fast fashion juga merambah lintas negara. Banyak pakaian bekas dari negara maju diekspor ke Afrika dan Asia dengan label “donasi kemanusiaan”. Namun, hanya sekitar 20% yang benar-benar dapat dipakai kembali, sementara sisanya menumpuk di pasar loak atau tempat pembuangan sampah. Negara-negara berkembang akhirnya menanggung dampak ekologis dan sosial dari limbah tekstil global yang sejatinya bukan milik mereka.
Meski perdagangan pakaian bekas ini menciptakan peluang ekonomi di negara berkembang, kenyataannya banyak dari barang tersebut dalam kondisi rusak atau tidak layak pakai. Situasi ini menimbulkan paradoks: di satu sisi, memberi akses pakaian murah dan pekerjaan bagi jutaan orang; di sisi lain, menimbun sampah dan menghancurkan industri tekstil lokal. Fenomena ini menjadi cerminan gelap industri fashion modern—di mana kemewahan dan gaya hidup cepat bertransformasi menjadi krisis lingkungan yang tak terbendung.
Editor : M. Subchan Abdullah