BLITAR KAWENTAR - Istilah social butterfly belakangan sering muncul di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang mudah bergaul dan memiliki jaringan luas. Namun, di balik pesonanya, seorang social butterfly juga dituntut memiliki etiket dan kesadaran diri agar tetap berkelas.
Menurut konsultan etiket sosial Dahlia Sarjono, social butterfly menggambarkan seseorang yang aktif berinteraksi dan memiliki kemampuan tinggi dalam menjalin hubungan. “Dia bisa cantik, anggun, berkelas, mempesona, dan hadir di berbagai acara serta situasi sosial,” ujarnya dalam kanal Maxi Media Channel.
Berbeda dari sosialita yang identik dengan kemewahan dan eksklusivitas, seorang social butterfly lebih dikenal karena keterampilannya dalam beradaptasi di berbagai lingkungan. Mereka cenderung terbuka, hangat, dan mampu menyesuaikan diri dengan siapa pun.
Istilah social butterfly sendiri sudah digunakan sejak tahun 1830-an, berakar dari metafora kupu-kupu yang berpindah dari satu bunga ke bunga lain. “Analogi ini menggambarkan seseorang yang dengan mudah berpindah dari satu lingkaran sosial ke lingkaran lain, menikmati kebersamaan, dan menjalin hubungan dengan banyak orang,” jelas Dahlia.
Namun, menjadi social butterfly tidak sekadar aktif bersosialisasi. Ada nilai penting yang harus dijaga, yaitu kesadaran diri dan etiket sosial. Dengan keduanya, seseorang bisa menyeimbangkan antara kebutuhan pribadi dan tuntutan pergaulan.
Seorang social butterfly sejati bukan hanya populer di setiap acara, tetapi juga dihargai karena keramahannya, empatinya, dan sikap sopan santunnya. Menjadi pribadi yang luwes sekaligus beretiket membuat pesona mereka tak lekang oleh waktu.
Baca Juga: Mulai Trading dan Investasi di Bibit Hanya dengan Rp100.000, Begini Caranya
Editor : M. Subchan Abdullah