BLITAR KAWENTAR - Bagi banyak orang, menjadi anak pertama berarti menjadi panutan, tumpuan, sekaligus eksperimen pertama bagi orang tua. Di balik senyum dan tanggung jawabnya, tersimpan beban emosional yang jarang terlihat.
Dalam video yang menampilkan kisah beberapa anak sulung seperti Jennifer Alexandra (25), Nada Zarfania (24), dan Sista Anjani (23), terungkap sisi lain dari peran anak pertama yang sering kali penuh tekanan. Mereka mengaku dibebani ekspektasi, baik disadari maupun tidak, sejak kecil.
“Kadang aku merasa jadi anak pertama itu enggak benar-benar jadi anak,” ujar Jennifer dengan nada reflektif. Ia menyebut bahwa sebagian tanggung jawab orang tua sering kali ikut dipikul oleh anak pertama.
Baca Juga: Rahasia Otak di Balik Ingatan: Mengapa Emosi Negatif Lebih Melekat?
Sementara itu, Nada mengakui bahwa meski orang tuanya tidak menuntut banyak, ada tekanan yang muncul secara tidak langsung. “Aku enggak pernah diminta jadi tulang punggung keluarga, tapi tetap aja merasa harus berbuat lebih,” katanya.
Psikolog keluarga dari UI, dr. Ratna Kusuma, menjelaskan bahwa fenomena ini lazim terjadi. Anak pertama menjadi “cetak biru” pengasuhan karena orang tua masih belajar, sehingga tekanan emosi dan tanggung jawab lebih sering diarahkan kepadanya.
Selain itu, rasa tanggung jawab untuk menjaga adik-adiknya sering membuat anak sulung menekan perasaannya sendiri. Mereka cenderung mengutamakan stabilitas keluarga daripada kebutuhan emosional pribadi.
Menjadi anak pertama tidak selalu tentang menjadi kuat, tapi juga belajar menerima bahwa lelah itu manusiawi. Kesadaran orang tua untuk berbagi peran dan memberi ruang emosi bagi anak sulung menjadi langkah penting agar mereka tumbuh sehat secara mental.
Baca Juga: Resmi! Rapel Kenaikan Gaji Pensiunan PNS 2025 Cair November, Ini Rinciannya
Editor : M. Subchan Abdullah