BITAR KAWENTAR - Ternyata MSG Aman dan Punya Manfaat TersendiriMonosodium Glutamate (MSG) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai micin selama bertahun-tahun sering dianggap sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan mulai dari menurunkan IQ hingga memicu kanker.
Namun, berbagai penelitian ilmiah terbaru justru menunjukkan bahwa anggapan tersebut hanyalah mitos yang tidak memiliki dasar kuat. MSG adalah penyedap rasa yang berasal dari asam glutamat, yaitu asam amino alami yang juga ditemukan pada tomat, keju parmesan, hingga air susu ibu (ASI).
Dalam ilmu kimia, MSG merupakan gabungan antara natrium dan glutamat yang berfungsi untuk memperkuat cita rasa umami atau gurih alami pada makanan. Artinya, micin bukanlah bahan sintetis berbahaya, melainkan turunan alami yang sudah lama dikenal dalam dunia kuliner.
Menurut sejumlah studi ilmiah, tubuh manusia sebenarnya memproduksi glutamat secara alami hingga sekitar 50 gram per hari. Glutamat ini berperan penting dalam sistem saraf dan metabolisme energi di usus.
Sebuah penelitian dari Journal of Nutrition tahun 2020 bahkan menunjukkan bahwa penggunaan MSG dapat membantu mengurangi konsumsi garam hingga 40% tanpa mengurangi kenikmatan rasa. Dengan demikian, MSG justru berpotensi membantu menurunkan risiko tekanan darah tinggi akibat konsumsi natrium berlebih.
Lalu dari mana asal mitos bahwa MSG berbahaya? Semua bermula dari tahun 1968 ketika Dr. Robert Homan Kwok menulis surat ke New England Journal of Medicine tentang keluhan lemas dan mati rasa setelah makan di restoran Tiongkok. Ia menduga MSG sebagai penyebabnya.
Tanpa bukti ilmiah, media kemudian memperbesar isu tersebut dan lahirlah istilah Chinese Restaurant Syndrome. Namun penelitian lanjutan menunjukkan bahwa dugaan itu tidak konsisten dan tidak terbukti secara klinis. Banyak pihak kemudian menilai isu tersebut sarat dengan bias rasial, bukan fakta medis.
Terkait tuduhan MSG menyebabkan penurunan kecerdasan atau kanker, berbagai studi telah membantahnya. Journal of Neuroinflammation (2019) menegaskan bahwa glutamat dari MSG tidak bisa menembus sawar darah otak pada orang dewasa yang sehat, sehingga tidak memengaruhi fungsi otak atau IQ.
Sementara International Agency for Research on Cancer (IARC) tidak memasukkan MSG dalam daftar zat karsinogen atau penyebab kanker. Studi lain di jurnal Obesity (2015) juga menunjukkan tidak ada hubungan antara konsumsi MSG dan peningkatan berat badan. Badan kesehatan dunia seperti WHO dan FAO telah mengkategorikan MSG sebagai aman untuk dikonsumsi tanpa batas harian tertentu. Di Indonesia, BPOM juga menetapkan MSG dalam daftar GRAS (Generally Recognized As Safe).
Hasil meta-analisis di Critical Reviews in Food Science (2020) memperkuat kesimpulan ini: hanya sekitar 1,5% orang dengan riwayat asma atau alergi tertentu yang mungkin sensitif terhadap MSG, dan itu pun dengan gejala ringan.
Artinya, konsumsi MSG dalam batas wajar tidak berbahaya. Yang lebih perlu diwaspadai justru adalah pola makan yang tinggi makanan ultra-proses seperti junk food, minuman bergula, dan makanan tinggi lemak jenuh.
Kandungan tersebut jauh lebih berkontribusi terhadap penyakit kronis dibanding MSG itu sendiri. Jadi, sebelum menuduh micin sebagai biang keladi berbagai penyakit, ada baiknya kita memahami faktanya. MSG bukan musuh, melainkan bahan penyedap yang aman bila digunakan secara bijak.
Editor : M. Subchan Abdullah