Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mendengar Cerita Inspiratif Eksportir Tahu Petis Blitar setelah Ditinggal Merantau sang Ibu Puluhan Tahun ke Negari Seberang

Anggi Septian Andika Putra • Senin, 20 Oktober 2025 | 21:00 WIB

 

Mendengar Cerita Inspiratif Eksportir Tahu Petis Blitar setelah Ditinggal Merantau sang Ibu Puluhan Tahun ke Negari Seberang
Mendengar Cerita Inspiratif Eksportir Tahu Petis Blitar setelah Ditinggal Merantau sang Ibu Puluhan Tahun ke Negari Seberang

BLITAR - Usaha tahu petis milik Erwin Suntoro berhasil tembus hingga pasar Internasional. Warga Lingkungan Jajar, Kelurahan/Kecamatan Kanigoro, ini tengah berjuang sebagai eksportir tahu petis. Saat ini, produknya laris manis dikirim ke Hongkong dan berharap bisa berkembang lebih luas lagi.  

“Capek itu bukan soal badan saja, Mas. Hati juga butuh sandaran.” Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Erwin Suntoro, matanya menerawang seolah menelusuri kembali jejak panjang hidup yang telah dia lalui.

Lelah baginya bukan lagi sekadar perkara tenaga. Ada kerinduan yang dia pelihara sejak kecil, rindu pada sosok ibu yang merantau jauh sebagai pekerja migran demi membesarkan tiga anaknya seorang diri.

Erwin lahir dan besar di Lingkungan Jajar, Kelurahan/Kecamatan Kanigoro. Sejak usia lima tahun, dia harus menerima kenyataan: ibunya pergi ke Hongkong sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). “Ibu pernah bilang, ‘Enggak apa-apa, Nak. Jawab dulu enggak apa-apa.’ Itu kalimat yang saya ingat sampai hari ini,” tuturnya. Di balik kata ‘enggak apa-apa’, ada perasaan yang tak pernah benar-benar tersampaikan – sebuah kerelaan yang penuh air mata.

Namun hidup itu berjalan. Erwin tumbuh menjadi pemuda yang tak menyerah pada keadaan. Dia pernah menjadi guru SD selama empat tahun, lalu banting setir menjadi sopir pengantar telur ke Jakarta.  “Saya merasakan betul rasanya mulai dari nol. Rasanya sepi saat dagangan tak laku, rasanya sedih saat pulang bawa sisa,” kenangnya.

Hingga pada tahun 2021, ibunya memberikan satu instruksi sederhana: “Goreng tahu petis.” Instruksi yang awalnya dianggap biasa itu rupanya menjadi pintu perubahan besar dalam hidup Erwin. “Saya sempat jawab, ‘Lah Bu, aku iki goreng wae ra iso’. Tapi ibu tetap keras. Disuruh belajar. Satu kompor, satu wajan, mulai dari nol,” ujarnya.

Hari pertama produksi, dia hanya menggoreng 20 biji tahu. Tak lama, permintaan naik jadi 50, lalu 100. Bahkan sang ibu yang tinggal di Hongkong mulai mengenalkan produknya ke komunitas pekerja migran Indonesia (PMI) di sana. Tahu petis yang digoreng dari dapur kecil di rumahnya itu berhasil terbang melintasi lautan hingga ke Hongkong.

Kini, usahanya bernama Tahu Goreng Petis Kang Tagor, memiliki dua outlet – satu di Jalan Teratai Kota Blitar dan satu lagi di Kanigoro. Produksinya kini tak lagi 20 atau 50 biji per hari. Dalam sehari, Erwin mampu menggoreng hingga 500 biji untuk pasar lokal, belum termasuk permintaan khusus ekspor ke Hongkong. “Kalau dihitung total, outlet dan produksi ekspor bisa tembus 750 bahkan 1.000 biji per hari,” ujarnya.

Namun keberhasilan itu tak membuatnya lupa pada hal yang paling penting: kebermanfaatan. “Kalau ditanya pencapaian, saya jawab yang paling membahagiakan itu saat bisa ngajak teman-teman kerja bareng. Sekarang ada tujuh orang yang ikut bekerja di sini. Itu rasanya lebih dari sekadar materi,” ucapnya.

Meski usahanya terus berkembang, Erwin tak tergesa-gesa. Sang istri selalu menjadi penyeimbang. “Saya ini kalau semangat bisa langsung geber. Tapi istri selalu bilang, ‘Pelan-pelan. Yang penting kuat di bawahnya.’ Dan itu betul. Usaha itu bukan soal cepat, tapi soal kuat dan bermanfaat.”

Di sela-sela kesibukannya menggoreng tahu dari pagi hingga dini hari, kerinduan pada ibunya tetap ada. Tapi kini, rindu itu berubah wujud menjadi tekad. Tekad untuk membuktikan bahwa pengorbanan ibunya tidak sia-sia. Bahwa anak yang dulu ditinggal sejak usia lima tahun, kini tumbuh bukan hanya sebagai pengusaha, tapi sebagai pemberi manfaat.

“Ke depan, saya ingin setiap kecamatan ada outlet Kang Bagor. Biar manfaatnya menyebar. Biar lebih banyak yang bisa kerja, bisa punya penghasilan,” harapnya.(*/c1/sub) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Tahu Petis #usaha #pasar internasional #hongkong #laris manis #eksportir