BLITAR - Di tengah embusan angin Pantai Serang yang asin dan lembap, aroma khas ikan asap menyeruak dari gubuk sederhana milik Medianto.
Di sinilah, dia setiap hari menjaga bara arang agar tetap menyala. Memastikan setiap potong ikan benggol, pari, hingga sapit, matang sempurna dan siap dikirim ke berbagai kota.
“Ikan benggol, sapit, ikan pari, pokoknya macam-macam saya jual. Kalau musim tenggiri, kepiting, atau udang juga banyak,” ujarnya sambil mengipasi tungku dengan tenang.
Medianto sudah bertahun-tahun menekuni usaha ini. Dia bukan hanya menjual ikan segar hasil tangkapan nelayan sekitar, melainkan juga mengolahnya menjadi ikan asap yang kini menjadi ciri khas dagangannya.
Dalam seminggu, dia bisa menghasilkan hingga dua juta rupiah, terutama saat akhir pekan ketika wisatawan memadati pantai.
“Kalau hari biasa ya alhamdulillah, ya rezeki pasti ada saja,” katanya sambil tersenyum tipis, sambil tangannya terus berayun mengipasi ikan di atas bara.
Keunggulan ikan asap bikinannya terletak pada kepraktisan dan keawetannya. Karena bisa bertahan hingga seminggu, misalnya dalam perjalanan. Asalkan dibungkus dengan rapi dan rapat.
“Kalau ikan segar harus pakai es, kalau ikan asap cukup diasap saja, enggak mudah basi,” jelasnya.
Permintaan datang tak hanya dari sekitar Blitar. Medianto pernah mengirimkan ikan asap ke Mojokerto, Sidoarjo, bahkan Bandung dan Jakarta. Semua berawal dari pembeli yang jatuh cinta pada rasa gurih khas ikan asap buatannya. (mg2/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah