BLITAR KAWENTAR - Menjadi dewasa sering dianggap berarti harus peduli pada banyak hal mulai dari karier, tren, sampai pandangan orang lain. Tapi kenyataannya, justru semakin bertambah usia, hidup bisa terasa lebih ringan kalau kita belajar cuek terhadap hal-hal tertentu. Dalam salah satu episode podcast “Biar Nggak Nyesel”, sang pembicara membagikan refleksi pribadi tentang enam hal yang kini ia putuskan untuk tidak lagi dipedulikan.
Pertama, mimpi orang lain. Ia menyadari bahwa setiap orang punya jalan dan tujuannya sendiri. Mimpi orang tua, teman, atau bahkan figur publik bukan tanggung jawab kita untuk diwujudkan. Terinspirasi boleh, tapi menjadikan impian orang lain sebagai standar hidup justru membuat kita kehilangan jati diri.
Kedua, drama pertemanan. Dulu, kehilangan teman terasa seperti kehilangan dunia. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa setiap fase kehidupan membawa lingkar pertemanan baru. Tak perlu memaksakan hubungan yang hanya menguras energi. Lebih baik punya sedikit teman tapi tulus, daripada banyak teman tapi penuh drama.
Ketiga, jumlah likes di media sosial. Pernah merasa bangga atau kecewa hanya karena jumlah likes di postingan? Sekarang tidak lagi. Likes hanyalah interaksi singkat, bukan tolok ukur kualitas diri atau isi konten. Validasi sejati datang dari ketulusan dan makna, bukan angka yang terus naik-turun.
Keempat, notifikasi di ponsel. Hidup di era digital berarti terus dibombardir oleh notifikasi. Tapi, semakin banyak notifikasi bukan berarti semakin produktif. Ia memilih untuk mematikan sebagian besar pemberitahuan agar bisa fokus pada hal yang benar-benar penting. Hasilnya? Hidup jadi lebih tenang dan terkendali.
Kelima, tren gaya hidup. Mulai dari tren gadget, fashion, sampai olahraga seperti pilates atau padel semua terasa seperti “harus diikuti”. Namun, kini ia hanya memilih tren yang benar-benar dibutuhkan. Mengikuti tren bukan kewajiban, apalagi jika itu tidak sesuai dengan nilai dan kebutuhan diri.
Keenam, asumsi orang terhadap kita. Ini yang paling berat, tapi juga paling membebaskan. Ia menyadari bahwa banyak keputusan hidup sering tertunda hanya karena takut “apa kata orang”. Padahal, banyak dari komentar itu bahkan belum diucapkan hanya asumsi semata. Dan jika terus dipikirkan, hidup akan berhenti di tempat.
Pesannya sederhana tapi bermakna: waktu, energi, dan perhatian adalah sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Jadi, gunakan untuk hal-hal yang benar-benar berarti. Semakin dewasa, bukan berarti semakin banyak yang harus kamu pikirkan, tapi semakin pandai memilih apa yang tidak perlu kamu pikirkan.
Editor : M. Subchan Abdullah