Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Semakin Dewasa, Semakin Cuek: Belajar Hidup Tenang dengan Memilih Hal yang Tak Perlu Dipedulikan

Nikmah Laila • Selasa, 21 Oktober 2025 | 05:00 WIB
Semakin Dewasa, Semakin Cuek: Belajar Hidup Tenang dengan Memilih Hal yang Tak Perlu Dipedulikan
Semakin Dewasa, Semakin Cuek: Belajar Hidup Tenang dengan Memilih Hal yang Tak Perlu Dipedulikan

BLITAR KAWENTAR - Banyak orang beranggapan bahwa semakin dewasa, seseorang harus semakin banyak memikirkan dan peduli terhadap berbagai hal. Namun, bagi sebagian orang, justru sebaliknya yang terjadi. Kedewasaan sering kali ditandai dengan kemampuan untuk memilah mana hal yang pantas dipedulikan dan mana yang sebaiknya diabaikan demi ketenangan hidup. Inilah yang menjadi refleksi dalam salah satu episode podcast Biar Enggak Nyesal, di mana pembicara mengajak pendengar untuk belajar “cuek” terhadap hal-hal yang tidak relevan dengan kebahagiaan dan tujuan pribadi.

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah pentingnya berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Mimpi orang lain bukanlah standar hidup yang harus diikuti. Sejak masa sekolah, banyak orang terbiasa menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur keberhasilan diri, padahal setiap individu memiliki jalan dan ambisi yang berbeda. Fokus pada mimpi sendiri diyakini dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan bahagia tanpa terbebani ekspektasi eksternal, termasuk dari keluarga maupun lingkungan sosial.

Selain itu, pembicara juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan emosional dengan tidak larut dalam drama pertemanan. Pertemanan yang sehat bukan diukur dari banyaknya teman, melainkan dari kualitas hubungan dan dukungan yang diberikan.

Orang dewasa cenderung lebih memilih lingkaran sosial kecil yang tulus dan hangat dibandingkan hubungan luas yang penuh dengan konflik dan kepura-puraan. “Setiap fase kehidupan akan membawa teman-temannya sendiri,” ujar sang pembicara, menegaskan bahwa kehilangan teman lama bukanlah kegagalan, melainkan bagian alami dari pertumbuhan.

Kehidupan di era digital juga menjadi sorotan, khususnya tentang kebutuhan akan validasi di media sosial. Banyak orang merasa bahwa jumlah “likes” mencerminkan kualitas diri atau karya mereka. Padahal, menurut pembicara, angka tersebut tidak selalu relevan. Sering kali orang memberi tanda suka hanya karena ingin menghargai, bukan karena benar-benar terkesan. Dengan menyadari hal itu, seseorang bisa lebih fokus pada niat asli di balik setiap unggahan, bukan pada reaksi orang lain.

Hal lain yang disorot adalah tentang kebisingan digital dan tekanan mengikuti tren. Dari notifikasi ponsel yang tiada henti hingga tren gaya hidup seperti gadget terbaru, fashion, atau olahraga viral, semuanya bisa menjadi distraksi yang menguras energi dan waktu.

Pembicara mengajak pendengar untuk berani menolak ikut arus, dan hanya memperbarui gaya hidup ketika benar-benar dibutuhkan. “Hidup lebih ringan saat kita berhenti mengejar hal yang tidak relevan dengan kebutuhan kita,” ujarnya.

Pada akhirnya, kedewasaan bukan diukur dari seberapa banyak hal yang bisa dipikirkan, tetapi seberapa banyak hal yang secara sadar diputuskan untuk tidak dipedulikan. Dengan menghemat energi, perhatian, dan waktu untuk hal-hal yang benar-benar penting, seseorang bisa menjalani hidup lebih damai dan fokus pada tujuan pribadi.

Dalam konteks yang lebih luas, pesan ini relevan bagi generasi muda yang tengah belajar menyeimbangkan ambisi, ekspektasi sosial, dan kesehatan mental di tengah dunia yang serba cepat.

Editor : M. Subchan Abdullah
#hidup tenang #arti kedewasaan #Kedewasaan Emosi #tips hidup tenang #Hidup Tenang dan Nyaman