BLITAR KAWENTAR - Apakah cinta mampu mengubah seseorang? Pertanyaan klasik ini menjadi pembuka diskusi menarik antara Maudy Ayunda dan psikiater Dr. Alvin Gunawan, pendiri Mental Hub Indonesia, dalam program Spotlight. Percakapan tersebut membahas dinamika hubungan manusia baik romantis, persahabatan, maupun keluarga dan bagaimana pola asuh membentuk cara kita berinteraksi di masa dewasa.
Dr. Alvin menjelaskan, fondasi hubungan seseorang terbentuk sejak kecil melalui interaksi dengan orang tua atau pengasuh. Pola hubungan yang aman, cemas, atau penuh penolakan akan membentuk cara individu memandang dunia dan orang lain. “Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik sering kali membawa pola kekacauan itu ke hubungan dewasa,” ujarnya.
Ia mencontohkan dua ekstrem: anak yang selalu berusaha menyenangkan orang lain (people pleaser) dan anak yang sulit percaya pada siapa pun karena pernah ditolak. Keduanya, menurutnya, berakar pada pola keterikatan masa kecil. Proses penyembuhan, lanjut Dr. Alvin, dimulai ketika seseorang menyadari polanya dan memiliki keinginan untuk berubah.
Namun, bisakah seseorang benar-benar berubah karena cinta? Dr. Alvin menjawab tegas, “Bisa, kalau kedua belah pihak mau berubah.” Perubahan sejati tak cukup dengan harapan, tetapi harus disertai kemauan dan tindakan nyata. Jika hanya satu pihak yang berjuang, hubungan itu cenderung menjadi tidak sehat. “Cinta bukan tentang menyelamatkan orang lain, tapi tumbuh bersama,” tambahnya.
Ia juga menyoroti istilah “toxic relationship” yang kini sering digunakan berlebihan. Hubungan disebut toksik ketika membuat seseorang tidak bahagia dan tidak berkembang. Tanda-tandanya bisa berupa kelelahan emosional, tidak adanya ruang tumbuh, atau dominasi salah satu pihak.
Menurutnya, penting bagi setiap individu untuk mengenali batas diri atau boundaries sebagai pagar yang melindungi kesehatan mental. “Kalau tahu rumahmu sering kemalingan, pasang pagar. Jangan berharap malingnya berhenti,” ujarnya memberi perumpamaan.
Lebih jauh, Dr. Alvin menekankan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan modern, terutama di dunia kerja. Batasan waktu kerja, ruang pribadi, dan kemampuan berkata “tidak” menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Ia mengingatkan, “Emosi kita selalu valid, tapi tidak semua tindakan kita valid.” Pada akhirnya, hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi ruang bagi dua pihak untuk tumbuh, belajar, dan saling memahami. Cinta memang bisa menjadi pemicu perubahan, tetapi hanya jika kedua pihak memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang sama. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah