BLITAR - Friska Nur Azizah, gadis asal Sambong Sawentar, Kanigoro, ini punya prestasi mebanggakan. Dia berhasil meraih penghargaan kategori digital edufluencer pada lomba Blitar 3rd Blitar 5.0 Competition 2025 yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar. Kini dia bergabung dengan komunitas Ruang Edit untuk mengasah kemampuan dan aktif membagikan konten edukatif.
Sebuah ponsel pintar dan tekad yang membara. Itulah modal awal Friska ketika memulai perjalanannya di dunia desain grafis. Penghargaan di bidang Young Digital Talent tersebut menjadi bukti konsistensinya dalam berbagi ilmu desain grafis melalui konten edukatif di media sosial.
Perkenalan Friska dengan dunia desain dimulai sejak bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Ayahnya mengajarkan cara membuat stiker nama untuk buku menggunakan Corel Draw di laptop. Namun, kecintaannya terhadap desain baru benar-benar menggelora saat pandemi Covid-19 melanda 2020 silam.
"Waktu itu sekolah online, tidak ada kegiatan di rumah selain mengerjakan tugas. Saya coba ikut beberapa lomba desain tapi belum pernah juara, karena memang sekedar desain tanpa tahu ilmu pastinya," kenang gadis 20 tahun ini.
Titik balik terjadi ketika menemukan karya seorang desainer di Instagram yang membuatnya terpukau. Setelah bertanya, dia mengetahui bahwa karya tersebut dibuat hanya menggunakan aplikasi Pixellab di ponsel.
Dari sinilah relasi mulai terbangun. Dia rajin mempraktikkan materi yang diberikan dan mengunggah hasil karyanya ke Instagram sebagai portofolio. Konsistensi dalam berkarya tak luput dari cemoohan teman sekolah. Ia kerap dipanggil "lab" atau "Pixellab" dan dijuluki "Si Paling Pixellab”.
"Terlepas itu ejekan atau bercanda, saya tidak terlalu memikirkannya. Malah menjadi salah satu bentuk personal branding," ujarnya santai.
Kerja keras Friska membuahkan hasil pada 2022. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah, ia mendapat undangan menjadi narasumber daring di salah satu fakultas Universitas Lampung untuk berbagi materi "Next Level Desain with Pixellab”.
Latar belakang pendidikan dari jurusan broadcasting TV dan ketertarikan sejak kecil pada kamera menjadi bekal kuat baginya. "Meskipun cita-cita waktu kecil jadi YouTuber belum terealisasi, sekarang bersyukur sudah ada di jalan ini sebagai konten kreator," ungkapnya.
Pada 2025, Friska mendaftar di kelas Konten Kreator Blitar Youth Festival (BYF). Baginya, mengikuti BYF bukan sekadar untuk mengasah kemampuan, tetapi juga mencari relasi di industri kreatif yang menurutnya masih sulit ditemukan di Blitar. "Saya berharap bisa menjadi jembatan untuk kenal dan bertemu dengan orang-orang kreatif di Blitar, terutama anak mudanya. Alhamdulillah sekarang sudah mulai nampak apa yang dulu saya cari," jelasnya.
Sebagai social media designer, Friska tidak hanya fokus pada estetika visual. Ia memastikan setiap desain mampu menyampaikan informasi secara efektif kepada audiens. "Saya selalu memperhatikan hierarki atau komposisi terlebih dahulu karena itu hal dasar yang wajib diperhatikan. Copywriting juga menentukan engagement di media sosial," paparnya.
Friska menekankan pentingnya personal branding bagi generasi muda yang ingin berkarya. Ia mengutip kata-kata Sherly Annavita, panutannya, "Kesempatan akan lebih suka datang kepada siapa yang siap dan terlihat siap". (*/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah