Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menikmati Buku Bacaan ala Perpustakaan Keliling Pijar yang Tetap Eksis di Tengah Gempuran Teknologi

Rahma Nur Anisa • Rabu, 22 Oktober 2025 | 19:30 WIB

 

BERTAHAN SEJAK 2016, PERPUSTAKAAN PIJAR UBAH SIKAP SKEPTIS  VARIATIF: Koleksi buku mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terjajar rapi.
BERTAHAN SEJAK 2016, PERPUSTAKAAN PIJAR UBAH SIKAP SKEPTIS VARIATIF: Koleksi buku mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terjajar rapi.

BLITAR - Perpustakaan Pijar, salah satu perpustakaan jalanan, kembali beroperasi pada September lalu setelah vakum akibat pandemi. Perpustakaan ini diinisiasi mahasiswa bernama Klana yang terinspirasi kegiatan literasi di Bandung. Menyediakan banyak buku gratis untuk dibaca dan dipinjam tanpa kartu anggota atau biaya.

Setiap Jumat dan Sabtu sore, salah satu sisi Alun-Alun Kabupaten Blitar disulap menjadi perpustakaan terbuka. Puluhan buku dari novel hingga komik tersedia gratis untuk sekadar dibaca atau dipinjam. Inilah Perpustakaan Pijar, perpustakaan jalanan yang kembali aktif setelah vakum selama beberapa tahun.

Setiap akhir pekan, ketika matahari mulai terbenam, Perpustakaan Pijar hadir sebagai oasis literasi. Pintu terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin menimba ilmu atau sekadar menikmati bacaan ringan. Sangat cocok untuk menikmati akhir pekan yang santai ditemani senja dan sepoi angin.

Mulanya, Perpustakaan Pijar diinisiasi oleh Klana, mahasiswa asal Blitar yang gemar membaca sejak SMA. Ketika menempuh kuliah di Bandung, dia terpapar berbagai kegiatan literasi yang marak di Kota Kembang. Atmosfer itulah yang kemudian menginspirasinya membawa semangat serupa ke kampung halaman.

Bersama sejumlah teman, Klana memulai lapak baca pertama pada 2016 di kawasan Kebon Rojo. Modal awalnya murni dari koleksi buku pribadi. Seiring waktu, donasi masyarakat mulai berdatangan seperti komik, novel, puisi, buku anak, hingga buku pengetahuan umum.

Dua pengelola, Ratna dan Kumbang, nama pena, hadir rutin membawa buku-buku untuk warga. Meski hanya Ratna dan Kumbang yang hadir secara fisik, di balik layar terdapat tim yang terus mendukung operasional.

Sistem peminjaman yang diterapkan sangat sederhana. Tanpa kartu anggota, tanpa biaya. Cukup catat nama, nomor kontak, judul buku yang dipinjam, dan mengikuti akun Instagram Perpustakaan Pijar. Pengembalian pun tidak dibatasi waktu alias fleksibel.

"Kalau orang-orang tidak memiliki akses atau kurang bisa menjemput buku bacaan di perpustakaan, maka buku itu yang akan menghampiri mereka," ujar Ratna.

Aktivitas Perpustakaan Pijar sempat berhenti 8 tahun lalu. Pandemi Covid-19 dan kesibukan para pengelola menjadi kendala utama. Namun, tekad untuk menghidupkan kembali gerakan literasi tidak pernah padam. September tahun ini, perpustakaan jalanan tersebut kembali beroperasi dengan memilih lokasi lebih strategis. Yakni di alun-alun kabupaten yang ramai dikunjungi warga setiap akhir pekan.

Awal mula kehadiran Perpustakaan Pijar tidak serta-merta disambut antusias. Pada 2016 lalu, masyarakat masih skeptis terhadap kegiatan literasi semacam ini. Untuk apa membaca buku? Suatu ironi jika disandingkan dengan zaman sekarang.

Namun, konsistensi membuahkan hasil. Perlahan, pandangan warga mulai berubah. Kini tidak jarang terlihat orang tua membacakan buku untuk anak-anaknya yang belum lancar membaca. Ada pula yang meminta bantuan pengelola untuk membacakan cerita.

Ratna mengaku perubahan sikap masyarakat sangat terasa. "Sekarang orang lebih terbuka. Mereka lihat ada buku disediakan, gratis, langsung dibaca. Bahkan, ada yang rutin datang setiap minggu," katanya.(*/c1/ady) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#perpustakaan jalanan #literasi #buku gratis #tanpa biaya #pandemi #Perpustakaan Pijar