BLITAR – Dunia fotografi satwa liar Indonesia bukan hanya tentang keindahan gambar. Di balik setiap bidikan kamera, ada perjuangan panjang, semangat, bahkan kegilaan positif dari para fotografer yang mendedikasikan hidupnya untuk mengenalkan alam dan satwa kepada publik. Salah satu sosok yang menaruh hati sepenuhnya dalam bidang ini adalah seorang fotografer senior yang dikenal sebagai pionir fotografi satwa liar Indonesia.
Menurutnya, untuk bertahan di dunia wildlife photography, seseorang tidak cukup hanya bermodal suka. “Saya di sini bukan hanya harus suka, tapi juga harus gila. Gila dalam arti positif. Kalau tidak total, kita tidak akan dikenal sebagai fotografer satwa liar Indonesia,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Sejak awal, ia menegaskan bahwa orientasinya bukan pada materi. Dunia fotografi satwa liar memang tidak menjanjikan keuntungan besar. Biaya perjalanan yang tinggi, peralatan mahal, dan waktu tunggu yang panjang menjadi tantangan utama. “Kalau orientasinya materi, pasti gugur dari awal,” katanya tegas.
Banyak orang mengira harus kaya dulu untuk bisa menjadi fotografer satwa liar. Namun menurutnya, pemikiran seperti itu justru membuat langkah semakin tertunda. “Apa kita harus nunggu kaya dulu, nunggu alat lengkap, atau nunggu jago? Menurut saya itu terlambat,” tambahnya.
Dari berbagai perjalanan yang sudah dilakukan, ia menyaksikan langsung perubahan besar di alam liar Indonesia. Banyak satwa yang dulunya mudah ditemui, kini semakin langka. “Dulu saya enggak perlu lensa panjang untuk memotret burung atau primata. Sekarang makin sulit. Banyak binatang yang diburu, diperdagangkan, atau dikonsumsi,” ujarnya prihatin.
Ia menegaskan, fotografi satwa liar Indonesia tidak hanya soal estetika gambar, tetapi juga menjadi bukti otentik tentang keberadaan satwa itu sendiri. “Foto adalah bukti bahwa kita pernah lihat dan pernah punya. Kalau tidak ada foto, no picture, hoax,” katanya.
Kesulitan utama dalam memotret satwa liar adalah ketidakpastian. Berbeda dengan manusia yang bisa diarahkan, satwa tidak bisa diperintah untuk bergaya atau berpose. “Kalau motret orang bisa disuruh nengok kiri, kanan. Tapi binatang enggak bisa. Kita harus sabar menunggu momen,” ujarnya.
Kegagalan sudah menjadi bagian dari proses. Ia menceritakan pengalamannya pada tahun 2004 saat bertugas di Halmahera selama 14 hari. “Selama 12 hari itu hujan terus. Saya cuma dapat foto hujan. Tapi itu bagian dari perjuangan. Kita enggak bisa mengeluh,” kenangnya.
Selain cuaca, tantangan teknis juga berat, terutama di era analog. Saat itu fotografer tidak bisa langsung melihat hasil jepretan di kamera. “Zaman dulu, enggak bisa preview. Harus nunggu hasil cetak dulu. Tapi kita tetap jalan terus, karena enggak tahu kapan dunia digital lahir,” katanya.
Tujuan utamanya kini bukan lagi sekadar dokumentasi, tetapi juga untuk menggerakkan masyarakat agar lebih peduli terhadap satwa dan alam. Ia menggunakan hasil karyanya sebagai medium edukasi dan pengaruh sosial. “Saya ingin mempengaruhi orang lewat foto. Sekarang sudah banyak yang mulai tertarik. Saya bikin grup di media sosial, dan ternyata banyak yang ikut,” ungkapnya.
Ia percaya bahwa foto bisa berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Gambar satwa di habitat aslinya bisa menumbuhkan empati dan rasa tanggung jawab untuk melindungi mereka. “Kalau orang lihat sendiri keindahan satwa itu, mereka akan lebih menghargai,” ujarnya.
Meski usia tak lagi muda, semangatnya untuk terus memotret alam Indonesia tak pernah padam. Ia sadar bahwa waktu mungkin tak lama, tapi harapannya tetap besar. “Saya enggak tahu sampai kapan masih bisa jalan. Tapi semoga saya sehat terus, karena saya senang melakukan ini,” tutupnya.
Dalam dunia yang semakin sibuk dengan urusan ekonomi dan digitalisasi, kisah sang pionir fotografer satwa liar Indonesia menjadi pengingat bahwa ada nilai yang
Editor : Anggi Septian A.P.