BLITAR – Pemerintah Kabupaten Jember berkomitmen menghidupkan kembali potensi budaya dan sejarah lokal sebagai bagian dari pengembangan wisata edukatif berbasis kearifan lokal. Salah satunya melalui pelestarian Candi Deres, peninggalan era Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember.
Langkah ini disampaikan langsung oleh Bupati Jember Hendy Siswanto saat mengunjungi situs Candi Deres pada Jumat sore (tanggal tidak disebut). Ia menegaskan, keberadaan situs purbakala ini bukan hanya menjadi warisan sejarah bangsa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar jika dikembangkan secara optimal.
Candi Deres merupakan salah satu peninggalan yang diyakini berasal dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Candi ini ditemukan sekitar tahun 1980 dan tersusun dari tumpukan batu bata merah berukuran besar khas arsitektur Majapahit. Menurut Kitab Negara Kertagama karya Mpu Prapanca, Candi Deres dibangun pada tahun 1359 Masehi, tepat saat Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan panjang mengelilingi Pulau Jawa sejauh 1.700 kilometer.
Perjalanan tersebut termasuk wilayah selatan Pulau Jawa, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Jember. Candi Deres disebut sebagai salah satu tempat yang disinggahi Hayam Wuruk dalam ekspedisi spiritual dan politiknya. Karena itu, situs ini dianggap sebagai bukti nyata jejak Majapahit di kawasan Jember Selatan.
“Kami akan menggali kembali kekuatan budaya dan kearifan lokal yang ada di Jember,” ujar Bupati Hendy dalam kunjungan tersebut. “Banyak sekali artefak dan situs bersejarah seperti Candi Deres ini yang perlu kita lestarikan dan kenalkan kepada masyarakat luas.”
Pemerintah desa bersama para pemerhati budaya telah berupaya merawat tumpukan batu bata Candi Deres agar keasliannya tetap terjaga. Meski kondisi fisik candi tidak lagi utuh, struktur yang tersisa tetap menjadi simbol penting bagi sejarah peradaban Majapahit.
Bupati Hendy juga menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat dalam pelestarian warisan budaya. Ia berharap warga sekitar dapat turut menjaga dan mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi pelajar, peneliti, dan wisatawan umum.
“Semakin banyak orang mengenal, semakin banyak pula yang akan datang dan melestarikan,” ungkapnya. “Dengan meningkatnya kunjungan, otomatis akan tumbuh kegiatan ekonomi di sekitar Candi Deres, mulai dari kuliner, cenderamata, hingga jasa pemandu wisata.”
Selain memiliki nilai sejarah tinggi, Candi Deres juga menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata edukatif. Melalui pengembangan yang tepat, kawasan ini bisa menjadi pusat pembelajaran tentang sejarah Majapahit, arkeologi, dan kebudayaan lokal.
Menurut pengamatan di lapangan, lokasi Candi Deres yang berada di wilayah pedesaan membuatnya ideal untuk dijadikan wisata berbasis masyarakat. Konsep ini memungkinkan warga sekitar berperan aktif sebagai pengelola, sehingga hasil ekonomi dapat dirasakan langsung oleh komunitas lokal.
Bupati Hendy menambahkan, pemerintah daerah akan mendorong langkah konservasi dan rekonstruksi terhadap struktur candi. “Kami berharap pemerintah pusat juga ikut mendukung agar bangunan ini bisa direkonstruksi kembali,” katanya. “Candi Deres adalah warisan budaya yang wajib kita lestarikan bersama.”
Keberadaan Candi Deres menegaskan bahwa wilayah Jember bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang bernilai tinggi. Warisan Majapahit ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya mengenali dan menjaga peninggalan nenek moyang.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan para pemerhati budaya, Candi Deres diproyeksikan menjadi ikon baru wisata sejarah Jember yang tidak hanya menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga setempat.
Editor : Anggi Septian A.P.