BLITAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat mengenai potensi bencana besar yang bisa terjadi kapan saja di wilayah selatan Pulau Jawa. Ancaman tersebut berupa gempa bumi megathrust dan tsunami, yang menurut kajian para ahli, masih berpotensi terjadi akibat aktivitas tektonik tinggi di kawasan tersebut.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Dwi Korita Karnawati, dalam acara Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) yang digelar di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa, 23 September 2025.
“Selama sepuluh tahun terakhir, wilayah DIY dan sekitarnya tercatat mengalami lebih dari seratus kejadian gempa dengan magnitudo di atas 5, termasuk beberapa yang menimbulkan kerusakan signifikan,” ujar Dwi Korita dalam sambutannya yang dikutip dari laman BMKG.go.id.
Menurutnya, fakta tersebut menjadi pengingat nyata bahwa risiko gempa dan tsunami di selatan Jawa masih tinggi. Karena itu, masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan memahami langkah-langkah penyelamatan dini ketika terjadi bencana.
Apa Itu Gempa Megathrust?
Istilah megathrust berasal dari kata mega yang berarti besar, dan thrust yang berarti patahan naik. Secara sederhana, gempa megathrust adalah gempa berskala besar yang terjadi akibat pergeseran lempeng bumi di zona subduksi, di mana lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua.
Fenomena inilah yang memicu potensi tsunami besar seperti yang pernah terjadi di Aceh pada tahun 2004. Di wilayah selatan Jawa, pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia menjadi sumber utama potensi gempa megathrust.
Dwi Korita menegaskan, “Aktivitas seismik di wilayah selatan Jawa cukup tinggi. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat pesisir untuk memahami tanda bahaya dan sistem peringatan dini sangat penting.”
Upaya BMKG Tingkatkan Kesiapsiagaan
Melalui program Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG mendorong masyarakat agar memahami langkah mitigasi dengan benar. Program ini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga aparat pemerintah daerah, relawan, hingga pelaku wisata di kawasan pesisir selatan Jawa.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajarkan cara mengenali tanda-tanda awal tsunami, membaca peringatan dini dari BMKG, serta menyusun jalur evakuasi aman. “Kesiapsiagaan adalah kunci menyelamatkan diri. Semakin sering kita berlatih, semakin cepat kita merespons,” jelas Dwi Korita.
Baca Juga: Simulasi TKA Resmi Pusmendik Bikin Penasaran! Cuma 10 Soal Matematika, Tapi Banyak yang Kelabakan
Ia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program Tsunami Ready Community yang sebelumnya telah mendapat pengakuan dari UNESCO. Program tersebut telah sukses diterapkan di enam desa di DIY, termasuk Desa Glagah, Kulonprogo, pada tahun 2022.
“Dengan pengetahuan yang semakin luas, masyarakat pesisir selatan kini lebih siaga. Wisatawan pun akan merasa lebih aman berkunjung dan berpetualang di wilayah Jawa Selatan, khususnya di Kulonprogo,” tambahnya.
Wisata Aman, Waspada Tetap Diperlukan
Meski ancaman bencana tidak dapat diprediksi kapan datangnya, Dwi Korita menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Yang terpenting adalah memahami langkah antisipasi dan terus memperbarui informasi resmi dari BMKG.
BMKG juga bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan media massa untuk menyebarluaskan edukasi kebencanaan secara masif. Hal ini sejalan dengan misi nasional dalam membangun masyarakat tangguh bencana.
“Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama. Dengan pengetahuan yang cukup, kita bisa mengurangi dampak bencana secara signifikan,” tegasnya.
Selain di DIY, BMKG juga berencana memperluas kegiatan Sekolah Lapang ke wilayah pesisir selatan lain seperti Pacitan, Blitar, dan Banyuwangi. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan lintas daerah menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami di masa depan.
Dengan meningkatnya kesadaran dan pelatihan rutin, diharapkan masyarakat selatan Jawa semakin tangguh menghadapi risiko bencana. BMKG menegaskan bahwa peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan setiap warga siap, siaga, dan selamat jika bencana benar-benar terjadi.
Editor : Anggi Septian A.P.