BLITAR — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan adanya potensi gempa besar yang bersumber dari dua megathrust di Indonesia. Kedua segmen megathrust tersebut disebut telah lama tidak melepaskan energi tektoniknya dan tinggal menunggu waktu untuk kembali bergerak.
Peringatan ini disampaikan Kepala BMKG, Prof. Dwi Korita Karnawati, menanggapi gempa bermagnitudo 7,1 yang mengguncang Jepang pada Jumat lalu dan memicu tsunami dari sumber megathrust Nankai. “Kondisi serupa juga terdapat di Indonesia. Ada dua megathrust yang sudah lama tidak melepaskan energi, yaitu di Mentawai, Sumatera Barat, dan di Banten-Selat Sunda,” ujarnya.
Menurut BMKG, megathrust merupakan zona tumbukan antara lempeng samudra dan lempeng benua yang berpotensi menghasilkan gempa besar dan tsunami. Zona inilah yang menjadi “dapur” berbagai gempa kuat di Indonesia, mulai dari Aceh, Jawa, hingga Nusa Tenggara.
Dua Megathrust yang Masih Menyimpan Energi
Dwi Korita menjelaskan bahwa wilayah Indonesia terbentuk akibat pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, di antaranya Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Zona subduksi ini membentuk bidang megathrust yang memanjang dari barat Sumatera hingga selatan Jawa dan Nusa Tenggara.
“Data menunjukkan, di antara segmen-segmen megathrust yang ada, dua di antaranya—Mentawai dan Banten-Selat Sunda—belum menunjukkan pelepasan energi besar dalam periode ulangnya. Artinya, kedua segmen ini masih menyimpan tekanan yang sewaktu-waktu bisa lepas dalam bentuk gempa besar,” jelasnya.
Segmen lain seperti di selatan Jawa atau utara Sulawesi, lanjut Dwi, sudah beberapa kali mengalami pelepasan energi melalui gempa besar, sehingga relatif lebih stabil untuk sementara waktu. Namun, potensi tetap ada karena Indonesia berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).
Tantangan Sistem Peringatan Dini
Meski sistem peringatan dini tsunami di Indonesia sudah lebih baik dibanding dua dekade lalu, BMKG mengakui masih terdapat keterbatasan dalam hal deteksi dini gempa bumi. “Untuk gempa bumi, Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini seperti di Jepang. Di sana, warga bisa mendapat notifikasi beberapa detik sebelum gempa terjadi,” ujar Dwi.
Menurutnya, kendala utama terletak pada infrastruktur dan teknologi. Sebagian besar alat sensor gempa Indonesia dipasang di darat, sedangkan sumber gempa megathrust berada di dasar laut pada kedalaman 3.000 hingga 6.000 meter. “Kami sudah berupaya memasang sensor di dasar laut bersama BRIN dan ITB, tapi teknologi itu masih sangat kompleks dan biayanya besar,” ungkapnya.
Sebagai solusi, BMKG tengah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika agar setiap pemasangan kabel laut turut disertai sensor deteksi gempa dan tekanan air. Langkah ini diharapkan mempercepat sistem peringatan dini di masa depan.
Baca Juga: Dispusip Kabupaten Blitar Kejar Target Kunjungan Perpustakaan Meningkat, Ini Salah Satu Strateginya
Pentingnya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Selain faktor teknologi, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi gempa megathrust. BMKG bersama BNPB dan BPBD di berbagai daerah telah melakukan sosialisasi, sekolah lapang gempa, dan latihan evakuasi tsunami.
“Kami ingin masyarakat tidak panik. Yang penting adalah tahu harus berbuat apa ketika gempa terjadi. Misalnya, kalau di gedung tinggi dan terjadi tsunami, jangan turun, tapi naik ke lantai atas,” kata Dwi.
Standar bangunan tahan gempa juga menjadi perhatian serius. BMKG menilai, banyak kerusakan parah akibat gempa di Indonesia disebabkan oleh bangunan yang tidak memenuhi standar teknis. “Di Jepang, guncangan bisa sangat kuat tapi tidak banyak bangunan roboh karena mereka disiplin pada aturan konstruksi,” jelasnya.
Penerapan tata ruang juga penting. Daerah yang masuk zona merah rawan tsunami sebaiknya tidak dijadikan kawasan padat penduduk. Jika terpaksa, bangunan perlu dilengkapi fasilitas evakuasi vertikal seperti shelter atau lantai tinggi yang aman.
Reaksi Warga dan Harapan ke Depan
Pernyataan BMKG mengenai potensi gempa besar dari dua megathrust langsung ramai diperbincangkan warganet. Banyak yang mengapresiasi langkah pemerintah mengingatkan publik sejak dini. Salah satu pengguna X menulis, “Lebih baik waspada daripada menyesal. Megathrust bukan prediksi, tapi potensi nyata.”
Sementara itu, Dwi Korita menegaskan bahwa informasi ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. “Kami tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi. Tapi yang bisa kami lakukan adalah memastikan masyarakat siap dan pemerintah daerah tanggap,” katanya menutup wawancara.
Dengan potensi gempa besar yang mengintai dari segmen Mentawai dan Banten-Selat Sunda, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun selalu waspada. Upaya mitigasi dan edukasi harus terus dilakukan agar Indonesia benar-benar siap menghadapi kemungkinan terburuk dari aktivitas megathrust di masa mendatang.
Editor : Anggi Septian A.P.