BLITAR - Komunitas Barongsai Kelenteng Poo An Kiong menjadi simbol semangat muda-mudi Tionghoa dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur. Sejak dihidupkan kembali, barongsai tampil sebagai seni pertunjukan yang memukau dan juga wujud kebanggaan, persatuan, serta identitas budaya di tengah keberagaman masyarakat.
Di balik dentuman drum dan gemerincing simbal yang mengiringi tarian naga singa, tersimpan kisah panjang perjuangan menjaga budaya dari keterlupaan. Komunitas Barongsai Kelenteng Poo An Kiong, Kota Blitar, menjadi saksi bagaimana semangat muda-mudi kembali bergelora setelah sekian lama terkungkung larangan budaya.
Ketua Sie Barongsai Kelenteng Poo An Kiong sekaligus Ketua Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Kota Blitar, Daniel, menuturkan bahwa awal mula kebangkitan barongsai di Blitar tidak lepas dari kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid. “Semuanya mulai kembali sekitar tahun 2000, setelah dicabutnya Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Saat itu, pengurus kelenteng berinisiatif mengumpulkan muda-mudi untuk menghidupkan kembali kegiatan barongsai,” kenangnya.