Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sanggar Langen Kusuma Terus Lestarikan Seni-Budaya Jawa Lewat Generasi Muda

Rahma Nur Anisa • Selasa, 4 November 2025 | 20:00 WIB

 

 

SEMANGAT: Suasana minggu pagi di tempat latihan dipenuhi siswa dari berbagai jenjang usia.
SEMANGAT: Suasana minggu pagi di tempat latihan dipenuhi siswa dari berbagai jenjang usia.

BLITAR - Setiap Minggu pagi pukul 08.00 di sudut kantor Kecamatan Sanankulon, anak-anak TK hingga SMA berlatih ragam gerak tari Blitaran dengan serius, dipandu mentor yang profesional. Sanggar Seni Langen Kusuma, begitu nama komunitas seni yang kini menjadi rumah kedua bagi 88 siswa aktif ini. Ada seniman muda yang memiliki misi besar mencetak generasi peduli budaya.

Dhimaz Anggoro Putro, 31, kini menjadi founder Sanggar Seni Langen Kusuma, pertama kali menginisiasi ide sanggar ini pada 2013 saat masih duduk di bangku kuliah Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. "Setelah lulus pada 2018, saya memutuskan untuk membuka sanggar. Awalnya hanya 10 siswa dari tingkat SD dan SMP," kenang Dhimaz.

Dia memahami betul bahwa mendidik seni bukan soal kuantitas, melainkan kualitas proses pembelajaran. Latihan diadakan seminggu sekali, setiap Minggu selama dua jam efektif. Jadwal yang terlihat sederhana ini sebenarnya merupakan pondasi dari sistem pembelajaran yang kemudian berkembang menjadi lebih terstruktur.

Dalam perjalanannya membangun reputasi, Sanggar Langen Kusuma mengambil jalan yang tidak mudah. Melalui kompetisi demi kompetisi dari tingkat lokal, regional, hingga nasional, nama sanggar ini mulai terukir di berbagai panggung lomba.

Strategi ini membuahkan hasil. Deretan penghargaan mulai berdatangan. Finalis 10 Besar Tari Kelompok audisi tari Ksatria (2022), juara-juara tingkat Kota Blitar (2023), hingga merajai berbagai lomba se-Jawa Timur sepanjang 2024-2025. Yang paling membanggakan, tiga gelar juara I kategori tari tunggal tingkat Jawa Timur diraih sekaligus pada 2025 oleh tiga kategori berbeda. Hal ini merupakan bukti bahwa sistem pembinaan mereka bekerja efektif di semua jenjang usia.

"Kami sering mendapatkan juara sehingga sanggar mulai dikenal masyarakat banyak. Namun saat rekrutmen siswa baru, kami selalu membatasi kuota untuk menghindari overload agar sistem pelatihan berjalan efektif dan kondusif," jelas Dhimaz.

Dalam setahun, siswa menerima dua materi tari. Semester pertama (Januari-Juni) dan semester kedua (Juli-Desember). Sistem evaluasi pun mengadopsi mekanisme pendidikan formal. Terdapat Ujian Tengah Semester di bulan Juni dan Uji Kompetensi di November/Desember, lengkap dengan rapor yang menjadi dasar penilaian kompetensi.

"Setiap ujian melibatkan penguji eksternal dari luar daerah sehingga penilaian benar-benar objektif," ujar Dhimaz.

Siswa tidak hanya belajar tari nusantara dan tari etnis Mataraman, khususnya ragam tari Blitaran, tetapi juga tari tematik seperti hewan elang dan kijang yang lebih kontemporer.

Baca Juga: Semangat Pelajar di Blitar Mengikuti TKA Meski Usai Kecelakaan, Ada juga yang Absen karena Proses Hukum

Selain mahir menari, para siswa juga dilatih untuk berkesenian secara profesional. Kini mereka kerap dilibatkan dalam event lokal, regional, bahkan nasional seperti delegasi promosi wisata dan budaya Kabupaten Blitar hingga ke Brunei Darussalam (2023). (*/ady) (*)

Resep tempe katsu yang bikin anak2 lahap makan
Resep tempe katsu yang bikin anak2 lahap makan
Editor : M. Subchan Abdullah
#ragam gerak tari Blitaran #kantor Kecamatan Sanankulon #Sanggar Seni Langen Kusuma #komunitas seni