BLITAR - Women's March Blitar adalah komunitas yang memperjuangkan hak perempuan dan kelompok rentan. Bangkit usai vakum sejak 2022, Ana sebagai koordinator kembali dengan menggelar diskusi buku pada 22 November mendatang menggandeng komunitas lain. Berikut perjalanan komunitasnya.
Sejak dirintis, Women’s March Blitar telah menyelenggarakan beragam kegiatan mulai dari pembahasan gender, diskusi buku, isu lingkungan, nobar, hingga webinar keamanan digital bersama SAFEnet. Puncak aktivitas terjadi pada 2020 saat Women’s March Blitar berpartisipasi dalam Feminist Festival di Jakarta.
Babak baru Women's March Blitar dimulai usai vakum semenjak 2022. Mulai perjuangkan kembali hak perempuan dan kelompok rentan di Blitar. Berbeda dengan organisasi formal, Woman’s March Blitar hanya memiliki struktur koordinator tanpa hierarki lengkap. "Kalau di BM itu nggak ada sistem kayak organisasi lengkap itu nggak ada. Jadi cuma koordinator aja," jelas Ana sebagai koordinator.
Women's March Blitar memiliki cakupan advokasi yang melampaui isu perempuan dalam pengertian konvensional. Ana menegaskan bahwa komunitas ini juga menyuarakan isu hak-hak kelompok rentan yang sering terpinggirkan. Selain menerima aduan pelecehan seksual di lingkungan kampus dan sekolah, Women’s March Blitar juga mendampingi individu atau kelompok yang sedang memperjuangkan hak atas wilayah.
Puncak aktivitas terjadi pada 2020 saat Women’s March Blitar berpartisipasi dalam Feminist Festival di Jakarta. "Women's March Blitar ikut serta dalam agenda Feminist Festival di Jakarta," kenang Ana.
Festival selama satu minggu itu menghadirkan aktivis gender dari berbagai daerah termasuk Malang, Pasuruan, dan Indramayu. Narasumber seperti Lies Marcoes yang dikenal dengan pendekatan gender dalam perspektif Islam dan Dina Rahma yang mewakili perspektif kelompok queer turut hadir. Format kegiatan mencakup forum group discussion (FGD), pameran kerajinan komunitas Jurnal Perempuan, hingga webinar nasional.
"Isu yang diangkat pun juga beragam karena tidak berkutat pada isu-isu lingkungan atau yang lain, tetapi kompleks, utamanya yang berdampak bagi perempuan," ujar Ana.
Meski bernama Women's March, cakupan isu komunitas ini melampaui persoalan perempuan. "Sebenarnya, Women's March itu gak hanya isu tentang perempuan, tapi juga isu adat, kemudian isu konflik kelompok-kelompok rentan," terang Ana.
Women’s March Blitar menerima aduan pelecehan seksual di kampus dan sekolah, sekaligus mendampingi individu atau kelompok yang memperjuangkan hak atas wilayah dan isu lainnya tanpa mengesampingkan isu utamanya tentang hak-hak perempuan.
Kesulitan regenerasi menjadi hambatan utama keberlanjutan Women’s March Blitar. "Sebenarnya kalau di komunitas ini itu lebih-lebih ke regenerasi, sih. Jadi memang aku merasa sulit untuk regenerasi karena relasi yang sulit dijangkau," jelas Ana.
Konteks geografis dan demografis Blitar memperumit upaya ini. "Lagi Blitar itu kota kecil yang mungkin orang-orang belum begitu peduli dengan isu-isu tentang perempuan dan dampak-dampak yang lain," imbuhnya.
Bersamaan dengan diskusi buku 22 November mendatang, Women’s March Blitar membuka rekrutmen relawan. Langkah ini bertujuan memperkuat basis organisasi yang sempat melemah selama masa vakum. Rekrutmen terbuka diharapkan menjaring aktivis baru dari berbagai latar belakang yang peduli isu gender dan keadilan sosial.
Harapannya, Women's March semakin dikenal. Artinya ketika dikenal, banyak orang ingin bergabung untuk menghidupkan Women's March di Blitar utamanya.
Target operasional komunitas adalah menjadi wadah pendampingan korban ketidakadilan gender. "Jadi ketika di Blitar terjadi suatu hal yang mungkin ya berkaitan dengan isu perempuan, Women's March bisa mendampingi untuk mendapatkan pendampingan hukum dan lain-lain," jelasnya.
Selain fungsi pendampingan, Women’s March Blitar juga bertujuan menjadi ruang edukasi publik. "Semoga ke depan banyak orang yang tertarik juga untuk mengetahui apa sih Women's March itu, bagaimana gerakan-gerakannya, kemudian isu apa saja yang diperjuangkan," harap Ana.(*/c1/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah