BLITAR – Labuan Bajo kembali menjadi destinasi wisata yang paling banyak dibicarakan wisatawan domestik maupun mancanegara. Sebagai satu dari lima destinasi super prioritas Indonesia, kawasan ini menawarkan perpaduan eksotis antara gugusan pulau, pantai berpasir unik, dan habitat satwa purba Komodo. Dalam sebuah perjalanan liburan yang dibagikan melalui video, wisatawan membagikan pengalaman lengkap mengeksplorasi Labuan Bajo sekaligus informasi bujet, rute, hingga tips penting bagi pemula.
Dari Jakarta ke Labuan Bajo: Rute dan Biaya
Perjalanan menuju Labuan Bajo dimulai dari Jakarta pukul 05.30 menggunakan taksi online menuju Bandara Soekarno–Hatta. Harga tiket pulang-pergi Jakarta–Labuan Bajo berada di kisaran Rp2,5 juta per orang. Bagi yang ingin menikmati pemandangan laut Flores dari udara, disarankan memilih kursi pesawat di sisi kanan.
Setibanya di Bandara Komodo, perlu dicatat bahwa waktu setempat lebih cepat satu jam dari Jakarta. Transportasi umum seperti taksi konvensional atau taksi online memang tidak tersedia, tetapi wisatawan dapat memanfaatkan layanan antar hotel, jasa ojek lokal, hingga rental motor dan mobil yang semuanya bisa ditemui langsung di bandara.
Hotel Terjangkau Dekat Pelabuhan
Pada hari pertama, wisatawan memilih menginap di hotel El Bajo dengan tarif sekitar Rp400 ribu per malam. Lokasinya dekat pelabuhan sehingga memudahkan akses menuju trip ke berbagai pulau. Dari jendela kamar, pengunjung bisa menikmati panorama dermaga Labuan Bajo dan suasana sunset yang tenang.
Bagi yang ingin ikut open trip atau private trip, disarankan tiba D-1 karena perjalanan laut biasanya dimulai sangat pagi, bahkan sebelum pukul 06.00.
Trip Sehari Penuh: 6 Destinasi Ikonik
Hari kedua dimulai dengan penjemputan dari hotel menuju pelabuhan. Paket perjalanan ini menggunakan speedboat berfasilitas lengkap—mulai AC, toilet, hingga minibar. Tersedia dua pilihan: open trip (mulai Rp1,45 juta per orang) atau private trip dengan harga menyesuaikan ukuran kapal.
Speedboat membawa wisatawan menuju enam destinasi paling populer di Labuan Bajo:
Pulau Padar
Pink Beach
Pulau Komodo
Taka Makassar
Manta Point
Pulau Kanawa
Pendakian Pulau Padar yang Melelahkan tapi Membayar Lunas
Pulau Padar menjadi pemberhentian pertama. Tracking sejauh 800 anak tangga dilakukan sejak pagi agar terhindar dari panas. Jalan menanjak dan cukup curam, sehingga wisatawan disarankan memakai sepatu yang nyaman serta membawa air minum.
Pendaki dapat beristirahat di beberapa pos yang tersedia. Pemandangan khas pulau berbukit dengan tiga teluk berwarna berbeda terlihat sempurna dari puncak. “Masya Allah, perjuangan terbayar lunas,” begitu testimoni wisatawan saat mencapai titik tertinggi.
Menikmati Pink Beach dan Keunikan Pasir Merah Muda
Destinasi berikutnya adalah Pink Beach—pantai berpasir merah muda akibat campuran pasir putih dan serpihan organisme foraminifera. Dari atas, gradasi warna pink terlihat menawan. Wisatawan dapat berenang, bermain air, atau sekadar bersantai di warung sekitar.
Melihat Komodo Secara Langsung di Habitat Asli
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pulau Komodo. Di sini, wisatawan ditemani ranger berpengalaman untuk menyusuri jalur melihat Komodo di alam liar. Mereka beruntung melihat tiga ekor sekaligus, termasuk satu Komodo jantan besar yang sedang beristirahat di tepi pantai.
Selain Komodo, di pulau ini hidup rusa, kerbau, dan kambing yang menjadi bagian dari rantai makanan.
Taka Makassar, Manta Point, dan Snorkeling di Kanawa
Taka Makassar menyuguhkan pasir putih berbentuk menyerupai bulan sabit dengan air sejernih kristal. Di Manta Point, wisatawan bisa melihat manta ray yang kerap muncul ke permukaan. Trip ditutup dengan snorkeling di Pulau Kanawa, tempat karang dan ikan warna-warni menyambut pengunjung dengan ramah.
Labuan Bajo Terus Berkembang
Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan hotel mewah dan fasilitas wisata terus meningkat. Meski berada di wilayah dengan tingkat ekonomi rendah, geliat pariwisata kini menjadi penggerak utama pendapatan masyarakat lokal. Tidak heran bila Labuan Bajo diprediksi menjadi destinasi kelas dunia dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Editor : Findika Pratama