BLITAR KAWENTAR – Isu Arema FC bubar kembali mengemuka setelah tekanan besar datang dari berbagai sisi, baik dari suporter, komunitas sepak bola nasional, hingga dinamika internal manajemen. Klub berjuluk Singo Edan itu kini berada dalam situasi paling rumit dalam sejarah perjalanan mereka, terutama setelah gelombang penolakan dan aksi demonstrasi Aremania yang tak kunjung mereda.
Akar Masalah: Dualisme yang Tak Pernah Selesai
Jauh sebelum wacana Arema FC bubar muncul, persoalan pelik ini berakar dari dualisme kompetisi Indonesia pada 2011. Saat itu pengusaha Arifin Panigoro mendirikan Liga Primer Indonesia (LPI) yang menjadi saingan langsung Indonesia Super League (ISL). Situasi tersebut membuat sejumlah klub terbelah, termasuk Arema Indonesia.
Manajemen Arema Indonesia mengikuti LPI sesuai keputusan petinggi Yayasan Aremania Indonesia, Luki Ayub Zainal. Namun faksi lain yang dipimpin mantan sekretaris yayasan, Rendra Kresna, memilih jalur berbeda dengan mendirikan klub baru bernama Arema Kronus untuk bermain di ISL. Kehadiran dua Arema inilah yang kemudian membelah dukungan Aremania.
Dari Arema Indonesia ke Arema FC
Setelah dualisme kompetisi berakhir dan ISL menjadi satu-satunya liga resmi, PSSI memberi kesempatan klub-klub eks-LPI untuk kembali. Namun, mereka wajib memulai dari kasta terendah, Liga Nusantara atau Liga 3. Alhasil, lahirlah dua entitas sah di bawah PSSI: Arema Kronus—yang kemudian berubah menjadi Arema FC—dan Arema Indonesia yang tertahan di Liga 3.
Pada fase ini, Aremania kembali harus menentukan klub mana yang layak didukung. Ketika Arema Kronus mendatangkan deretan pemain bintang seperti Kurnia Mega, Ahmad Alfarisi, hingga Dendi Santoso, dukungan mulai mengalir ke klub tersebut. Puncaknya terjadi pada 2012 ketika Pelita Jaya, di bawah Grup Bakrie, melebur dengan Arema FC dan membawa bintang-bintang seperti Greg Nwokolo dan Joko Sasongko.
Tragedi Kanjuruhan Mengubah Segalanya
Namun momentum emas itu seketika runtuh pada 2022. Tragedi Kanjuruhan menjadi bencana paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Liga dihentikan, Arema FC dilarang bermain di Malang, dan klub hanya diperbolehkan menggelar laga kandang minimal 25 kilometer dari kota.
Bukan hanya itu, banyak komunitas suporter menolak kehadiran Arema FC di kandang alternatif. Mereka menuntut kejelasan dan sikap tegas klub dalam proses pengusutan tragedi. Sikap manajemen yang dinilai pasif memperkeruh suasana. Demonstrasi Aremania di kantor Arema FC pun pecah menjadi kericuhan, melukai enam orang dan memperdalam jurang perpecahan.
Tekanan Bertubi-Tubi: Jalan Buntu Manajemen
Dengan tekanan internal dan eksternal yang tak kunjung mereda, isu Arema FC bubar kembali mencuat. Komisaris PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia, Tatang Dwi Arvianto, menyebut bahwa proses pembubaran mulai dipertimbangkan karena klub memahami duka berkepanjangan pasca tragedi Kanjuruhan.
Menurut Tatang, manajemen kini tengah melakukan konsolidasi untuk menentukan langkah berikutnya. Pertimbangannya tidak hanya soal teknis, tetapi juga aspek emosional yang menyangkut hubungan klub dengan Aremania. Duka yang belum pulih menjadi alasan kuat yang memperberat pergerakan Arema FC saat ini.
“Direksi dan manajemen sudah berkumpul. Semua opsi dibicarakan, termasuk kemungkinan Arema FC bubar, baik sebagai entitas maupun rehat sementara,” ujar Tatang dalam pernyataannya.
Konsekuensi Berat Jika Mundur dari Liga 1
Namun keputusan membubarkan diri dari kompetisi bukan tanpa risiko besar. Regulasi PSSI menyatakan bahwa klub yang mundur dari Liga 1 terancam denda besar dan hukuman terdegradasi ke kompetisi level bawah. Arema FC tentu harus menanggung konsekuensi tersebut jika benar-benar mengambil langkah radikal tersebut.
Kini, masa depan Singo Edan berada di persimpangan paling tajam. Apakah Arema FC memilih bertahan dalam tekanan atau benar-benar mengambil langkah pahit? Semua mata publik sepak bola Indonesia tertuju pada keputusan final klub yang selama puluhan tahun menjadi simbol kebanggaan Malang ini. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa