Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Konflik Bonek Aremania Terungkap: Dari Konser 1990 hingga Tragedi Kanjuruhan

Rendra Febrian Permana • Senin, 17 November 2025 | 03:25 WIB
Sejarah Konflik Bonek Aremania Terungkap: Dari Konser 1990 hingga Tragedi Kanjuruhan
Sejarah Konflik Bonek Aremania Terungkap: Dari Konser 1990 hingga Tragedi Kanjuruhan

BLITAR KAWENTAR – Sejarah konflik Bonek Aremania kembali ramai dibahas setelah berbagai tragedi sepak bola Indonesia memantik ingatan publik tentang rivalitas panjang dua kelompok suporter terbesar di Jawa Timur itu. Permusuhan antara pendukung Persebaya Surabaya dan Aremania pendukung Arema bukanlah pertikaian baru. Ia berakar puluhan tahun lalu dan terus membekas hingga sekarang.

Awal Konflik yang Tak Pernah Reda

Dalam banyak catatan sejarah, sejarah konflik Bonek Aremania bermula sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Pada masa itu, pertandingan Arema melawan Persebaya di Stadion Gajayana, Malang, selalu berpotensi menimbulkan kerusuhan. Pertikaian yang mulanya terjadi di dalam stadion merembet hingga ke jalanan kota.

Kala itu, kendaraan berpelat L milik warga Surabaya menjadi sasaran amuk massa di Malang. Sebaliknya, pelat N dari Malang juga tak berani melintas di Surabaya karena berisiko menjadi korban balasan. Kondisi tersebut memaksa mahasiswa perantau menyembunyikan motor di kos-kosan selama berhari-hari.

Konflik Memuncak di Tambaksari

Salah satu momen paling dikenang dalam sejarah konflik Bonek Aremania terjadi pada 23 Januari 1990. Saat konser Kantata Takwa digelar di Tambaksari, Surabaya, kedua kelompok suporter terlibat bentrokan besar. Area depan panggung yang dikuasai kelompok Malang memicu amarah Bonek sebagai tuan rumah.

Ketegangan meningkat ketika Aremania menolak mundur dan melawan di luar stadion. Tawuran hebat pecah di sekitar Tambaksari hingga Gubernur Suryo. Dua tahun kemudian, peristiwa serupa kembali terjadi. Bonek lebih dulu menguasai area depan panggung dan mencegah Aremania masuk kawasan konser, menyebabkan bentrokan tak terhindarkan.

Media Dinilai Memperkeruh Suasana

Dalam transkrip video yang menjadi dasar artikel ini, disebutkan bahwa beberapa versi lain menyebut rivalitas keduanya juga dipicu pemberitaan media Jawa Timur pada masa itu. Aremania merasa klub kebanggaan mereka jarang mendapat sorotan positif ketika menang, sedangkan Persebaya dianggap “diistimewakan” oleh pemberitaan provinsi.

Dugaan diskriminasi media itu memupuk kecemburuan. Suporter Arema merasa disepelekan dan mulai menaruh benci terhadap Persebaya dan pendukungnya. Narasi adu domba dalam pemberitaan semakin memperburuk suasana.

Tak hanya itu, pernyataan tokoh-tokoh sepak bola Surabaya era sebelumnya yang meremehkan kemampuan klub Malang turut memetic bara. Mereka menganggap tim-tim Malang mustahil menang atau bahkan seri ketika berhadapan dengan Persebaya. Ungkapan itu dilaporkan tertulis di beberapa media lama dan menyulut kemarahan pendukung Malang.

Ketegangan Merembet ke Berbagai Kota

Konflik yang berakar sejak lama itu akhirnya meluas. Ketika terdengar kabar Bonek akan datang ke Malang, Aremania sering bersiap mencegat di berbagai titik seperti Karanglo dan Singosari. Namun polisi kerap menghadang. Ketidakpuasan yang tak mampu disalurkan akhirnya meledak menjadi tindakan perusakan kendaraan berpelat L di beberapa lokasi.

Spanduk provokatif muncul di banyak sudut kota, menegaskan betapa panasnya suasana saat itu. Rivalitas dua suporter yang seharusnya menjadi unsur hiburan sepak bola berubah menjadi permusuhan turun-temurun.

Duka Kanjuruhan Mengubah Perspektif

Namun sejarah panjang itu sempat memperlihatkan titik terang. Setelah tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang menelan ratusan korban, Bonek menunjukkan solidaritas kemanusiaan. Melalui Green Nord 27, mereka mengirim karangan bunga dan pesan belasungkawa kepada Aremania.

Ungkapan “Dukamu duka kita dan duka bangsa Indonesia” menjadi simbol bahwa kemanusiaan jauh lebih penting daripada permusuhan antarsuporter. Gestur itu mengundang harapan baru bagi pecinta sepak bola Indonesia bahwa perseteruan dua kubu besar ini dapat mereda.

Harapan Damai di Masa Depan

Banyak pihak berharap tragedi yang menyedihkan itu menjadi momentum rekonsiliasi. Masyarakat sepak bola Indonesia membutuhkan suasana baru yang lebih aman, manusiawi, dan dewasa. Jika suporter Eropa dan Amerika Latin bisa berdamai setelah rivalitas berpuluh tahun, maka tak ada alasan Bonek dan Aremania tidak dapat meraih hal serupa.

Apalagi keduanya berasal dari dua kota bertetangga yang secara budaya dekat dan sering bekerja sama dalam berbagai bidang. Jalan damai tidaklah mustahil selama semua pihak menempatkan kemanusiaan di atas ego kelompok. (*)

Editor : Rahma Nur Anisa
#Arema #tragedi Kanjruhan #bonek #persebaya #aremania