BLITAR - Baru setahun ini Ridha Ramadina Widiatma serius menekuni olahraga lari. Awalnya sekadar untuk menjaga kebugaran, kini dia rajin mengikuti lomba lari di sejumlah daerah. Baginya, lari bukan hanya hobi, melainkan investasi kesehatan demi masa depan yang lebih baik.
Di sela-sela waktu luang berpraktik sebagai dokter, Ridha Ramadina Widiatma memanfaatkannya untuk olahraga. Lari dipilih karena merupakan olahraga yang sederhana dan tidak ribet. Tak hanya memperkuat otot jantung, tetapi juga otot kaki yang jadi fondasi tubuh untuk beraktivitas sehari-hari.
Di tengah rutinitas yang padat, dokter spesialis kulit dan kelamin ini merasa beruntung bisa menekuni olahraga lari dan menjadi hobi baru. Sejak serius menekuni lari pada 2024, perlahan semangat dan cintanya pada lari makin tumbuh kuat. “Lari menjadi ruang refleksi. Rasanya damai, pikiran lebih jernih, stres berkurang,” ungkap dokter yang berpraktik di RSUD Soegiri Lamongan ini.
Dorongan untuk terus berkembang—melihat pace membaik, menambah jarak tempuh, atau sekadar menyelesaikan long run di akhir pekan—menjadi motivasi tersendiri.
Sebagai dokter, warga Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, ini memahami betul manfaat olahraga ini. Lari, baginya, adalah investasi kesehatan: memperkuat jantung, meningkatkan kualitas tidur, hingga menurunkan risiko penyakit kronis. Lebih dari itu, dia melihat efeknya pada kesehatan mental. Endorfin yang dilepaskan tubuh membuat mood lebih stabil dan pikiran lebih ringan.
Namun tidak menutup mata bahwa lari juga menyimpan risiko cedera. Kunci utamanya adalah progres yang bertahap. “Jangan memaksa tubuh. Dengarkan sinyalnya. Pemanasan, pemilihan sepatu yang tepat, dan strength training sangat membantu,” jelas perempuan 36 tahun ini.
Kesibukan sebagai dokter membuat manajemen waktu menjadi tantangan tersendiri. Jadwal latihan dia susun jauh-jauh hari, disesuaikan dengan waktu praktik. Dia biasanya berlatih 4–5 kali seminggu dengan variasi sesi mulai dari lari ringan, speed training, long run, hingga latihan kekuatan. “Konsistensi adalah segalanya,” ujarnya.
Dari semua pengalaman lari, full marathon menjadi momen paling emosional. Garis finis bukan hanya penanda akhir lomba, melainkan pembuktian pada diri sendiri bahwa dia mampu melewati batas yang dia kira tidak mungkin. Tapi bukan berarti perjalanan selalu mulus. Ada masa-masa stagnan, tubuh terlalu lelah, atau mental goyah.
“Tapi momen seperti itu justru membuat saya belajar. Kadang kita perlu berhenti sebentar untuk kembali menemukan ritme,” tutur ibu dua anak ini.
Lari pun membawa pengaruh besar pada cara dia melihat pasien. Dia memahami betapa pentingnya keseimbangan hidup sehingga semakin sering mengajak pasien menerapkan gaya hidup aktif. Edukasi kesehatan adalah kunci membangun masyarakat yang lebih sehat.
dr Ridha tengah mempersiapkan diri untuk maraton dengan target waktu lebih baik. Selain itu, bersiap mengikuti ultra trail run 50 km. ”Mimpi saya bisa berlari di ajang-ajang besar dunia, seperti World Marathon Majors. Sedangkan di dunia medis, dia ingin terus memperkuat edukasi publik tentang kesehatan kulit dan pencegahan penyakit,” pungkasnya. (*/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah