BLITAR-Teguran keras Aremania menggema setelah kericuhan yang mewarnai laga Arema FC kontra Persija Jakarta di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (8/11/2025). Kekalahan 1-2 tersebut tak hanya meninggalkan kekecewaan, tetapi juga menciptakan gelombang kritik terhadap sikap emosional pemain dan tim pelatih. Dalam berbagai pesan terbuka yang tersebar di media sosial, Aremania menilai tindakan itu telah mencoreng nama baik klub yang sedang berusaha bangkit.
Aremania Geram: “Jangan Mudah Terprovokasi!”
Suasana panas pascalaga disebut Aremania sebagai momen paling memalukan musim ini. Mereka menyoroti tindakan sejumlah pemain yang terpancing emosi di penghujung pertandingan usai insiden tackel keras Paulin Homoelin kepada Alan. Keributan yang melibatkan pemain dan ofisial kedua tim dinilai tidak mencerminkan jati diri Singo Edan.
Aremania menyampaikan pesan menohok: seluruh elemen tim diminta menahan diri dan menjaga kehormatan Arema FC. “Jangan mudah terprovokasi dan jangan memprovokasi pihak lain. Jaga nama baik Arema FC,” tulis salah satu pernyataan yang ramai dibagikan.
Menurut mereka, insiden tersebut justru merusak proses panjang perbaikan yang sedang dilakukan manajemen, panel, hingga suporter. Mereka menegaskan bahwa teguran keras Aremania bukan bentuk kebencian, melainkan peringatan agar pemain dan pelatih kembali fokus pada sportivitas dan kerja profesional.
“Ini Memalukan, Tidak Boleh Terulang”
Kemarahan Aremania bukan tanpa alasan. Sikap emosional sebagian pemain membuat publik Malang merasa menanggung malu bersama. “Kejadian kemarin telah mencoreng apa yang selama ini kita bangun. Ini sangat memalukan,” demikian isi salah satu pesan yang tersebar.
Suporter juga meminta insiden serupa tidak terulang. Mereka menegaskan bahwa Arema FC saat ini sedang berproses menuju pembenahan total, sehingga tindakan tidak sportif hanya menghambat langkah itu. “Ayo kembali ke jati diri Arema. Berikan contoh yang baik di dalam maupun luar lapangan,” tambah mereka.
Marcos Santos Ungkap Pemicu Keributan
Di tengah panasnya suasana, pelatih Arema FC Marcos Santos akhirnya buka suara terkait pemicu keributan. Laga berlangsung tegang dan memuncak saat Paulinho Hawk terlibat duel keras dengan pemain Persija. Santos mengaku niat awalnya maju ke lapangan hanya untuk memisahkan pemain.
Namun saat mencoba menenangkan situasi, ia menyebut seorang ofisial Persija justru memaki Paulinho dan pemain Arema lainnya. “Saya tidak bisa menerima itu. Kami adalah pendidik terlatih dan perilaku seperti ini tidak dapat diterima,” ujarnya.
Pelatih asal Brasil itu juga meminta maaf kepada seluruh pendukung Arema FC. Ia mengakui kejadian ini menjadi pelajaran penting agar tim lebih tenang dan profesional. “Saya minta maaf kepada para penggemar. Itu tidak boleh terjadi, meskipun terkadang emosi sulit dikendalikan,” tutupnya.
Euforia Besar di Kanjuruhan: Rekor 10.774 Penonton
Di balik kericuhan, laga ini juga mencatat sejarah baru. Atmosfer luar biasa di Kanjuruhan menjadi bukti pulihnya kepercayaan publik terhadap stadion kebanggaan Malang. Total 10.774 penonton hadir, jumlah tertinggi sejak renovasi 2024.
Mayoritas berasal dari kelas ekonomi, sementara gabungan VIP dan VVIP mencapai lebih dari 300 orang. Pengamanan berjalan sempurna setelah Polres Malang menerapkan sistem empat ring dengan melibatkan 1.515 personel gabungan TNI, Polri, Satpol PP, Dishub, dan unsur keamanan stadion.
Kapolres Malang AKBP Danang Setio Pambudi Soekarno mengapresiasi kedisiplinan suporter. “Pertandingan berjalan lancar dan penuh sportivitas. Ini rekor tertinggi setelah renovasi,” ujarnya.
Selain itu, polisi menerjunkan tim khusus untuk memastikan area luar stadion steril dari gangguan dan potensi peredaran miras. “Kami ingin masyarakat merasa aman,” tegas AKP Bambang Subinajar, Kasih Humas Polres Malang.
Jack Mania & Aremania Beri Contoh Kedewasaan
Di dalam stadion, suasana justru menunjukkan kedewasaan luar biasa. Ribuan Jack Mania di tribun barat berdampingan dengan Aremania tanpa gesekan. Keduanya saling bernyanyi, berbalas salam, dan berjoget bersama.
Meski kericuhan terjadi di lapangan, para suporter memilih merespons dengan dewasa. Bahkan setelah pertandingan, Aremania justru mengantar Jack Mania kembali ke bus masing-masing. Sebuah momen yang menegaskan bahwa persaudaraan di tribun tetap menjadi pemenang sejati.
Dengan catatan rekor penonton, atmosfer megah, dan teguran keras Aremania terhadap pemain dan pelatih, laga panas ini meninggalkan pelajaran besar: Arema FC diminta kembali fokus, lebih dewasa, dan menjaga nama baik klub di setiap momen.
Editor : Ichaa Melinda Putri