BLITAR-Nama Francisco Rivera kembali menjadi sorotan besar setelah performanya yang “nggak ada obat” bersama Persebaya Surabaya di pekan ketiga Indonesia Super League (ISL) 2025. Dalam diskusi kanal YouTube Bicara Bola, trio analis Wasiatul Akmal, Kenza, dan Andika membeberkan bagaimana gelandang asing tersebut menjadi nyawa permainan Persebaya, sekaligus alasan mengapa Persib justru dinilai “dalam masalah”.
Dalam tiga paragraf pertama ini, isu Francisco Rivera disorot sebagai kata kunci yang menggambarkan pengaruh besarnya terhadap stabilitas Persebaya dan dampaknya pada persaingan papan atas, termasuk tekanan di tubuh Persib Bandung yang baru saja ditahan imbang PSIM Yogyakarta.
Rivera Jadi Motor Persebaya, Lawan Mulai Cari Cara “Matikan”
Performa Francisco Rivera disebut benar-benar menentukan arah permainan Persebaya. Dalam laga kontra Bali United di Gelora Bung Tomo, gelandang berkumis tebal itu tampil eksplosif dengan satu gol, satu assist, serta lima peluang yang ia ciptakan.
Kenza menyebut, musim lalu pun Rivera sudah menjadi penggerak utama permainan meski influence-nya terbatas. Begitu ia cedera, performa Persebaya langsung terjun bebas. Kondisi serupa disebut masih bisa terjadi musim ini bila pelatih Eduardo Pérez tidak menemukan alternatif skema saat lawan mulai membaca pola Rivera.
“Bahaya ketika tim-tim lawan sudah tahu cara matiin Rivera. Persebaya harus punya plan B,” ujar Kenza.
Persebaya Efektif: 24 Peluang, 5 Gol, dan Perovic Pecah Telur
Persebaya tampil efisien di hadapan publik sendiri. Meski Bali United menguasai bola hingga 68 persen, Bajul Ijo justru mampu memaksimalkan peluang. Laga berakhir 5–2, salah satu kemenangan paling dominan di pekan ketiga.
Striker Mihalo Perovic akhirnya mencetak gol pertamanya. Selebrasinya yang langsung memeluk pelatih Eduardo Pérez menandakan besarnya tekanan yang ia pikul. Kedatangan striker baru dari Liga India sehari sebelum laga semakin memperketat persaingan posisi ujung tombak.
“Gol itu mengurangi beban besar di pundaknya Perovic,” kata Kenza.
Statistik Pekan Ketiga: 30 Gol, 10 Penalti, Tanpa Clean Sheet
ISL pekan ketiga mencatatkan sederet fakta menarik.
- 30 gol dari 9 pertandingan (rata-rata 3,3 gol per pertandingan).
- Tidak ada satu pun tim yang mencatat clean sheet.
- 10 penalti diberikan wasit, dan 8 di antaranya berbuah gol.
- Borneo FC menjadi satu-satunya tim dengan rekor sempurna (9 poin).
- PSM Makassar mencatat tiga laga beruntun dengan skor identik 1–1.
Temuan ini menunjukkan intensitas tinggi dan gaya bermain menyerang dari hampir semua klub.
Krisis Efektivitas Bali United: Banyak Peluang, Minim Gol
Bali United melepaskan sekitar 22 tembakan, tetapi hanya dua yang berujung gol. Striker utama mereka, Boris Kopit—top skor Liga Singapura—dinilai masih belum menemukan ketajaman.
“Dia dapat peluang paling banyak di antara striker lain, tapi finishing-nya belum maksimal,” jelas Andika.
Kondisi ini menjadi salah satu penyebab kenapa Bali United tampak kesulitan mengimbangi Persebaya, meski mendominasi penguasaan bola.
Francisco Rivera “Free Roll”: Kreatif, Bebas, dan Menonjol
Perubahan terbesar Persebaya musim ini adalah kebebasan gerak Rivera. Bila musim lalu ia harus mengikuti sistem yang membatasi kreativitas, kini Pérez memberi ruang lebih luas untuk eksplorasi.
Hasilnya terlihat jelas: koneksi cair dengan Bruno Moreira, kreasi peluang meningkat drastis, serta kontribusi pada fase defensif dan ofensif sama kuatnya.
“Kalau Rivera dikasih ruang bebas, sihirnya keluar semua,” kata Andika.
Rivera bahkan menjadi pemain yang paling sering menciptakan peluang, membuatnya terpilih sebagai Man of The Match dan menerima dua hadiah HP dalam dua pertandingan beruntun.
Persib dalam Masalah: Imbang Lagi dan Suporter Ricuh
Di luar performa Persebaya, Persib Bandung justru sedang disorot karena hasil imbang beruntun dan insiden keributan suporter di luar Stadion Sultan Agung. Meski ada larangan away, ratusan pendukung tetap datang dengan penyamaran.
Kenza menyebut aturan larangan away terbukti tidak efektif. “Kalau dilarang, justru makin ditantang. Akses itu lebih baik dikoordinir, bukan dilarang,” katanya.
Baca Juga: Yahya Alkatiri Dipecat Persebaya, Suporter Mengamuk hingga Krisis Striker Kian Parah
Hasil seri 1–1 melawan PSIM juga membuat tekanan terhadap Persib meningkat, terutama pada kinerja lini depan yang belum stabil.
Kesimpulan: Rivera On Fire, Persaingan Makin Panas
Dengan performa Francisco Rivera yang “nggak ada obat” dan Persebaya yang semakin efisien, persaingan papan atas ISL 2025 kian memanas. Di sisi lain, Persib Bandung dianggap dalam masalah: performa kurang maksimal, tekanan suporter, serta belum stabilnya permainan.
Musim masih panjang, tetapi satu hal jelas: klub yang mampu menjaga konsistensi permainan akan melaju jauh—dan untuk saat ini, Rivera menjadi pembeda terbesar.
Editor : Ichaa Melinda Putri