BLITAR - Berawal dari penolakan beberapa kelas yoga karena statusnya sebagai pria, Tegar Aditya Pratama lantas belajar yoga secara otodidak. Kini, dia berhasil menunjukkan menjadi instruktur yoga hingga menggelar event berbasis komunitas dengan peserta dari berbagai daerah.
Ya, melalui konsep unik yang menghadirkan yoga di lokasi tidak biasa seperti rooftop, coffee shop, hingga kebun, Tegar mengubah yoga dari aktivitas eksklusif menjadi gerakan massal yang memprioritaskan kesehatan fisik dan mental.
Pengalamannya sebagai Kangmas Diajeng menjadi fondasi penting dalam mengembangkan kemampuan public speaking dan manajemen event yang kini ia terapkan dalam setiap kegiatan yoga.
Sebelum terjun menekuni yoga, dia mengakui bahwa semula adalah pribadi yang kaku, pendiam, dan tertutup. Namun, pada usia 23 tahun, dia merasa memasuki masa keemasannya. Fase yang menurutnya sayang jika dihabiskan hanya dengan rutinitas tanpa upaya berkembang. Kesadaran itu mendorongnya untuk mencoba hal baru.
Kesempatan datang ketika dia melihat flyer pendaftaran Kangmas Diajeng. Dengan penuh keraguan namun tetap memberanikan diri, dia mengikuti proses seleksi. “Meski sempat merasa tertekan karena menjadi peserta paling tua dan melihat peserta lain tampil percaya diri serta menunjukkan berbagai bakat, ia tetap berusaha menjalani setiap tahap sebaik mungkin,” kata pemuda warga Kecamatan Sananwetan ini.
Usaha itu berbuah manis. Dia dinyatakan lulus seleksi dan terpilih sebagai Kangmas Persahabatan Kota Blitar.
Setelah pengalaman di Kangmas Diajeng membantunya keluar dari zona nyaman, dia kembali mencari ruang pengembangan diri. Karena sudah memiliki latihan strength dan endurance, dia merasa perlu melatih fleksibilitas. Biaya pilates yang tinggi membuatnya memilih belajar yoga secara otodidak, apalagi beberapa studio menolak kehadirannya hanya karena dia pria.
Dari video-video latihan yang ia buat, muncul permintaan teman-temannya untuk yoga bersama. Sesi kecil pertama berisi delapan orang berkembang menjadi event yang lebih besar setelah dokumentasinya menarik banyak minat. Beragam brand kemudian mengajak bekerja sama, dan peserta meminta lokasi yang variatif, mulai coffee shop, rooftop, hutan, hingga kolam renang.
Konsep Yoga Blitar berbasis event lahir karena dua hal: tingginya animo yang tidak mungkin ditampung kelas kecil, serta kebutuhan peserta akan pengalaman berbeda lengkap dengan fasilitas, suasana, dan berbagai benefit dari sponsor.
Baca Juga: Kabar Baik Jelang Derbi! Ernando Ari Siap Tampil Melawan Arema FC, Persebaya Dapat Tambahan Amunisi
“Yoga adalah cara menemukan ketenangan di tengah hidup modern,” ungkapnya. Dia bangga melihat antusiasme warga Blitar dan daerah sekitar, yang kini ikut mendorong berkembangnya komunitas serta kelas-kelas yoga baru.
Tegar menegaskan bahwa ketertarikannya pada yoga muncul jauh setelah ia terpilih sebagai Kangmas Diajeng. Beberapa tahun terakhir ia menekuni yoga sebagai latihan fleksibilitas untuk dirinya sendiri, yang kemudian berkembang hingga ia menjadi instruktur.
Pengalaman selama mengikuti Kangmas Diajeng turut membentuk kemampuan dasarnya mulai dari public speaking, cara menyambut peserta, hingga membangun kepercayaan diri. Semua itu menjadi fondasi penting dalam mengelola kelas yoga hingga berskala besar seperti sekarang.
Terkait pembagian waktu, dia mengaku beberapa waktu terakhir jarang menghadiri penugasan resmi paguyuban. Namun di luar itu, ia tetap menjalankan perannya sebagai duta wisata dengan mempromosikan destinasi, ekonomi kreatif, dan UMKM Kota Blitar.
Kendala yang dialaminya sebagai instruktur, dia harus memastikan kondisi fisik dan mental selalu prima; sedangkan sebagai Kangmas Diajeng, tantangannya adalah membagi waktu di tengah kesibukan pribadi.
Dia berharap anak muda Blitar lebih berani mengikuti aktivitas pengembangan diri, termasuk paguyuban Kangmas Diajeng yang menurutnya dapat membuka banyak peluang. Dia juga mengajak masyarakat lebih sadar pentingnya kesehatan fisik dan mental, salah satunya melalui yoga.(*/c1/sub) (*)