BLITAR – Jelang laga panas Persebaya vs Arema, tensi rivalitas dua klub besar Jawa Timur kembali meninggi. Sebuah video dokumenter yang berisi suara-suara suporter dan mantan pemain Persebaya memperlihatkan betapa derby ini bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan soal harga diri, kebanggaan, dan tradisi panjang yang mengakar sejak puluhan tahun lalu.
Euforia Jelang Derby: “Wajib Menang, Rek!”
Dalam video tersebut, banyak suporter menggambarkan bagaimana atmosfer pertandingan Persebaya vs Arema selalu membawa perasaan yang berbeda. “Kalau sampai kalah di kandang, bahaya. Ini soal gengsi, soal kota, soal darah,” ujar salah satu Bonek yang mengaku antre tiket sejak subuh pada era Tambaksari.
Bagi mereka, pertandingan melawan Arema adalah laga wajib tiga poin. Tidak ada kata lain. Bahkan sebagian suporter rela menggadaikan barang demi mendapatkan tiket. Tradisi ini terus hidup dari generasi ke generasi.
“Pertandingan besok wajib menang. Saya sampai kerja ekstra ngebit buat beli tiket,” kata seorang suporter lain.
Rivalitas yang Mengikat Identitas
Derby Jawa Timur sering disebut El Clasico-nya Jawa Timur, sebuah laga sarat emosi yang telah berlangsung dari masa ke masa. Mantan pemain dan legenda Persebaya pun mengakui bahwa tensinya selalu berbeda.
“Lawan Arema itu enggak ada kata kalah. Dulu manajer selalu bilang, haram hukumnya kalah,” ujar salah seorang mantan gelandang Persebaya.
Karakter permainan khas Surabaya—ngeyel, ngosek, wani—disebut sebagai identitas yang tidak boleh hilang. Bagi para pemain, tekanan dari suporter bukan untuk menakut-nakuti, melainkan pemantik semangat.
“Tekanan itu justru bikin pemain lebih semangat. Yang penting main lepas, tunjukkan karakter Surabaya,” tambahnya.
Suporter: Dari Tegang, Merinding, Hingga Harus Tetap Tertib
Suasana jelang laga besar ini juga terlihat dari antusiasme di toko merchandise. Banyak Bonek datang rombongan keluarga untuk membeli atribut anyar menghadapi pertandingan. Namun, antusiasme ini tetap diiringi pesan agar suporter tertib dan tidak memicu kericuhan.
“Kita ini warga teredukasi. Kita tunjukkan Surabaya aman dan tertib,” ujar seorang Bonita.
Beberapa suporter juga membagikan kisah lucu sekaligus menegangkan. Ada yang dilarang orang tuanya pergi ke stadion karena takut kericuhan, namun tetap nekat karena merasa pertandingan Persebaya vs Arema adalah “harga diri arek Suroboyo”.
“Lek Arema teko, wong tuaku mesti ngomong ojo budal. Tapi yo opo, aku tetep budal,” ucap seorang Bonek sambil tertawa.
Koleksi Jersey dan Kenangan Kejayaan
Salah satu narasumber terlihat menunjukkan koleksi jersey Persebaya, mulai dari jersey juara Liga Indonesia 2004 hingga jersey Liga 2 2017 saat Persebaya kembali bangkit.
“Ini identitas. Aku lahir di Surabaya, besar di Surabaya, dan bercita-cita jadi pemain Persebaya. Jersey ini simbol sejarah,” katanya sambil memperlihatkan koleksi ikoniknya.
Pesan untuk Pemain: Ngeyel, Ngosek, Wani!
Dari berbagai suara suporter, satu pesan inti selalu muncul: jangan menyerah. Para Bonek meminta pemain menunjukkan permainan terbaik, penuh determinasi, dan tetap menjunjung sportivitas.
“Lambang di dada lebih besar daripada nama di punggung. Wajib menang,” teriak seorang suporter dengan penuh semangat.
Ada pula yang mengingatkan pentingnya tertib agar stadion Gelora Bung Tomo (GBT) tidak terkena sanksi.
“Jangan ricuh. Kalau ricuh, kita yang rugi. Kita sudah beda, harus bisa berubah,” ujarnya.
Meski penuh tekanan, para suporter percaya para pemain Persebaya mampu tampil maksimal. Bagi mereka, kemenangan di laga Persebaya vs Arema bukan hanya soal poin, tetapi soal martabat Surabaya.
“Ini laga besar. Main sing ngosek, sing wani. Rivalitas tanpa batas. Salam satu nyali, wani!” tutup seorang suporter dengan lantang.
Editor : Dimas Galih Nur Hendra Saputra