BLITAR – Popularitas Rumah Sambal Seruit kian melejit setelah konten kuliner para food vlogger mengulas keunikan sambal rampai khas Lampung yang disajikan di kedai tersebut. Buka 24 jam nonstop, Rumah Sambal Seruit menjadi solusi para pemburu kuliner pedas yang sering tiba-tiba kelaperan tengah malam. Tak heran, keyword Rumah Sambal Seruit kini ramai dicari warganet yang penasaran dengan sensasi pedas dan aromanya yang disebut-sebut “nendang sampai ubun-ubun”.
Begitu masuk, aroma sambal rampai langsung menyambut pengunjung. Di video yang viral itu, sang food vlogger menunjukkan bagaimana sambal seruit diolah menggunakan rampai—jeruk khas Lampung yang memberikan bau segar dan rasa pedas-asam yang khas. Tak hanya itu, hampir 90 persen karyawan di sini merupakan orang Lampung asli demi menjaga keautentikan cita rasa. Bahkan, bahan rampai yang digunakan dikirim langsung dari Lampung setiap hari. Total kebutuhan bahan mentah mencapai sekitar 5 ton per bulan untuk tiga cabang yang mereka kelola.
Sambal Rampai Jadi Andalan
Salah satu daya tarik Rumah Sambal Seruit adalah cara penyajiannya. Tak seperti sambal pada umumnya yang sekadar dicocol, sambal ini justru menjadi “bumbu utama” yang dicampur dengan nasi dan lauk sekaligus dalam satu wadah. Cara makan yang disebut seruit ini memang dalam budaya Lampung berarti “makan bersama”. Karena itulah sensasi makan di sini terasa lebih otentik.
Menurut pengakuan pengunjung yang datang, sambal rampai di Rumah Sambal Seruit menjadi nilai jual utama. Pedasnya kuat, asamnya segar, dan aromanya menggugah selera. Tidak sedikit yang mengaku langsung berkeringat begitu menyendok sambal untuk pertama kali. Sang pemilik menegaskan bahwa sambal selalu dibuat fresh di dapur—habis refill, langsung bikin lagi. Inilah rahasia kenapa rasa sambal tetap konsisten meski banyak pengunjung.
Menu Andalan yang Selalu Laris
Selain sambal rampai, Rumah Sambal Seruit juga punya sejumlah menu lauk yang menjadi favorit pengunjung. Mulai ayam kalasan, ikan bawal, sate-satean, hingga bebek manis yang lembut dan kaya bumbu. Pada video, food vlogger tampak terkesan dengan tekstur bebek yang empuk dan tidak amis. Ternyata, setiap potong bebek diungkep selama lebih dari empat jam untuk mendapatkan hasil yang lembut tanpa alot.
Menu ayam kalasan juga tak kalah menarik perhatian. Dengan bumbu khas Jawa seperti lengkuas, kemiri, bawang putih, dan ketumbar, ayam di sini punya aroma wangi yang menggugah selera. Ketika ditarik, daging ayam langsung terlepas dari tulangnya—tanda bahwa bumbunya meresap sempurna.
Tak hanya lauk utama, bagian tusukan alias sate-satean juga ramai diburu pembeli. Kulit ayam yang digoreng hingga crunchy menjadi primadona. Banyak pelanggan yang mengaku sering membeli sampai belasan tusuk untuk dibawa pulang karena rasanya yang gurih dan teksturnya renyah.
Selalu Ramai, Siang hingga Tengah Malam
Meski buka 24 jam, bukan berarti Rumah Sambal Seruit sepi pada waktu-waktu tertentu. Justru sebaliknya, tempat ini kerap penuh saat jam makan siang hingga larut malam. Bahkan, pada waktu dini hari pun masih banyak pelanggan yang datang untuk makan atau sekadar menikmati sambal rampai yang menggoda.
Lokasinya berada di Jalan Mangga Besar 3 nomor 3C, Jakarta Barat. Kawasan ini memang dikenal sebagai pusat kuliner malam yang tak pernah tidur. Hal itu membuat Rumah Sambal Seruit semakin mudah diakses para pemburu kuliner dari berbagai daerah Jabodetabek.
Harga Terjangkau, Rasa Tidak Main-main
Salah satu alasan Rumah Sambal Seruit banyak dikunjungi adalah harganya yang masih cukup ramah di kantong. Dengan porsi mengenyangkan dan cita rasa yang khas, pengunjung merasa mendapatkan pengalaman kuliner berbeda tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Sambal fresh, lauk variatif, dan porsi besar membuat tempat ini menjadi destinasi wajib untuk pecinta pedas.
Seiring viralnya video ulasan tersebut, nama Rumah Sambal Seruit makin melambung. Para penghobi kuliner pedas pun mulai menandai tempat ini sebagai lokasi yang harus dikunjungi saat mencari hidangan otentik Lampung yang diolah secara modern. Bagi mereka yang ingin mencicipi sambal dengan tingkat “huhah” maksimal, Rumah Sambal Seruit menjadi jawaban paling tepat.
Editor : Findika Pratama