BLITAR – Bagi para penggemar kuliner pedas, Kota Malang tampaknya semakin mempertegas diri sebagai salah satu surganya makanan “membara”. Belum lama ini, sebuah kedai yang dijuluki sebagai bakso terpedas Malang kembali viral setelah dua food vlogger, Ces dan Marsya, mengunggah pengalaman ekstrem mereka saat mencoba menu kuah bledek yang diklaim sebagai salah satu level pedas paling brutal di kota itu.
Dalam video berdurasi lebih dari sepuluh menit tersebut, keduanya sejak awal sudah menantang diri untuk mencari kuliner pedas paling “gong” di Malang. Momen itu sekaligus menjadi bagian dari perayaan ulang tahun kanal mereka yang keenam. Pencarian pun berakhir di sebuah kedai bakso legendaris yang terkenal dengan kuah pedasnya yang membuat banyak pengunjung kelojotan.
Kedai Bakso yang Terkenal dengan Kuah Bledek
Begitu memasuki kedai, Ces dan Marsya langsung disuguhi aroma pedas yang cukup menusuk. Warna merah pekat dari kuah bledek membuat keduanya saling pandang dan tertawa gugup. “Ini sih bukan kuah bakso, ini kuah ranjau,” celetuk salah satu dari mereka sambil melihat tumpukan cabai yang mengambang di permukaan.
Kedai ini menyediakan berbagai pilihan bakso, mulai dari bakso halus, bakso urat, bakso besar, hingga bakso beranak. Selain itu, pembeli juga bisa menambah beragam jeroan seperti kikil, babat, dan paru. Semua pilihan itu kemudian diguyur dengan kuah bledek yang menjadi primadona sekaligus momok bagi para pecinta pedas.
Tantangan Sesungguhnya: Kuah Bledek
Sebelum mencicipi bakso, keduanya terlebih dahulu mencoba menyeruput kuahnya. Hasilnya? Keduanya langsung terkejut. “Pedasnya no gimik, Besti! Sekali seruput langsung bikin mata melotot,” ujar mereka. Sensasi panas langsung menjalar ke tenggorokan hingga ke belakang kepala. Keringat pun mengucur bahkan sebelum mereka mulai menyantap baksonya.
Namun pedas bukan satu-satunya karakter kuah ini. Di balik sensasi membakar, kuah bledek tetap menyimpan rasa gurih yang membuatnya tetap nikmat. Kombinasi pedas, gurih, dan minyak cabai membuat kuah ini menjadi favorit para pengunjung yang suka tantangan.
Bakso Urat Jadi Juara
Saat mulai menyantap bakso uratnya, keduanya sepakat bahwa tekstur bakso di kedai ini menjadi salah satu yang terbaik. Bakso uratnya padat, berisi, dan memiliki sensasi “grenjel-grenjel” khas urat daging. Rasanya gurih dan tidak hambar, bahkan tanpa kuah sekalipun tetap terasa nikmat.
“Walaupun harganya ramah di kantong, tapi isian dagingnya real. Enggak ada yang kaleng-kaleng,” kata mereka. Keduanya bahkan menyebut bakso urat sebagai menu paling “ancaman” karena kelezatan dan teksturnya yang memuaskan.
Jeroan yang Tak Kalah Menggoda
Tak hanya bakso, jeroan di kedai ini juga mencuri perhatian. Kikil, babat, dan paru disajikan dengan potongan besar dan tampak empuk. Saat dicampur dengan kuah bledek, bumbunya langsung meresap hingga ke dalam.
“Parunya lembut banget, babatnya enggak amis sama sekali. Ini sih endul,” kata Marsya sambil mengangkat potongan babat yang masih mengepul.
Sedia Amunisi untuk Melawan Pedas
Menikmati bakso terpedas Malang tentu bukan perkara ringan. Di tengah sesi makan, Ces dan Marsya mulai merasakan efek pedas yang membuat tenggorokan panas. Untungnya, mereka sudah menyiapkan “amunisi” berupa minuman herbal Adem Sari Herbal Lemon yang mereka sebut sangat membantu menetralkan sensasi menyengat di tenggorokan.
Minuman itu disebut membuat tenggorokan terasa adem dan cocok dinikmati setelah mengonsumsi makanan pedas dan berminyak.
Wajib Dicoba Pecinta Pedas
Di akhir video, keduanya sepakat bahwa bakso ini pantas menyandang gelar bakso terpedas di Malang. Sensasi pedas yang ekstrem namun tetap lezat menjadi perpaduan yang sulit dilewatkan bagi para petualang rasa.
“Kalau kalian pecinta pedas, wajib banget ke sini. Ini sih pedasnya bukan main, benar-benar membara, tapi nagih!” ujar mereka.
Dengan semakin populernya konten kuliner ekstrem, kedai bakso kuah bledek ini diprediksi semakin ramai dikunjungi pencari tantangan rasa. Malang pun semakin menegaskan posisinya sebagai kota dengan ragam kuliner unik yang selalu menggugah selera.
Editor : Findika Pratama