Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Persebaya Ditahan Arema FC, Imbang 1-1 Berujung Pemecatan Pelatih Eduardo Perez

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 25 November 2025 | 05:50 WIB
Persebaya Ditahan Arema FC, Imbang 1-1 Berujung Pemecatan Pelatih Eduardo Perez
Persebaya Ditahan Arema FC, Imbang 1-1 Berujung Pemecatan Pelatih Eduardo Perez

BLITAR – Hasil imbang 1-1 antara Persebaya dan Arema FC pada lanjutan Super League kembali menyita perhatian publik. Tidak hanya karena duel klasik dua tim besar Jawa Timur itu berlangsung ketat, tetapi juga karena pertandingan ini menjadi momen berakhirnya masa jabatan pelatih Persebaya, Eduardo Perez, yang resmi dilepas manajemen usai laga. Hasil seri ini membuat Persebaya dan Arema FC masih tertahan di papan tengah klasemen.

Persebaya Masih Belum Konsisten

Persebaya sebenarnya memiliki materi pemain yang mumpuni, namun performa di bawah Eduardo Perez dinilai tidak berkembang. Dalam 11 pertandingan, Persebaya terlihat kesulitan menunjukkan gaya bermain yang konsisten. Banyak kritik muncul mengenai pola permainan yang cenderung lambat karena para pemain sering menahan bola terlalu lama, baik di area pertahanan maupun lini tengah. Kondisi ini membuat lawan lebih mudah melakukan pressing.

Minimnya kreativitas juga menjadi sorotan. Persebaya jarang melakukan umpan terobosan dari lini tengah meski memiliki gelandang berkualitas seperti Milos dan Rivera. Rivera yang berperan sebagai free role pun jarang melepaskan tembakan dari luar kotak penalti, padahal momen-momen seperti itu diperlukan saat tim mengalami deadlock.

Serangan Monoton dan Deadlock

Permainan Persebaya disebut membosankan karena bola hanya berputar di sektor sayap tanpa variasi serangan. Meski memiliki pemain cepat seperti Bruno, Gali Freitas, dan Malik Risaldi, serangan dari sisi lapangan kerap terbaca oleh pertahanan Arema FC. Beberapa kali peluang justru tercipta dari situasi bola mati, bukan dari skema open play.

Kesulitan Persebaya dalam membangun progresi serangan terlihat ketika Milos harus naik membantu, namun ruang di belakangnya terbuka lebar. Jika Tony Firmansyah juga maju bersamaan, transisi bertahan menjadi rapuh. Ini menunjukkan kurangnya keseimbangan (balance of play) antara menyerang dan bertahan.

Arema FC Tampil Lebih Taktis

Berbeda dengan Persebaya, Arema FC tampil lebih disiplin secara taktis. Pelatih Marcos Santos meminta pemainnya memperkuat lini tengah dan menutup ruang serangan Persebaya. Rapatnya koordinasi lini pertahanan membuat Persebaya kesulitan menciptakan peluang bersih.

Arema tidak hanya bergantung pada Dalberto, sang top skor sementara, tetapi juga mengandalkan distribusi bola yang merata. Serangan Arema banyak dibangun dari tengah karena seringnya gelandang Persebaya out of position. Meski bermain dengan 10 pemain setelah Matius diusir keluar lapangan, Arema tetap mampu melakukan transisi bertahan dan menyerang dengan baik.

Kritik untuk Skema Edu Perez

Ball possession tinggi yang diusung Eduardo Perez dianggap tidak efektif karena tidak diiringi progressive passing. Strategi Persebaya menahan bola terlalu lama justru membuat ritme permainan stagnan. Pemain seperti Arif Catur dan Dejan Tumbas pun beberapa kali kesulitan mengirim umpan akurat ke kotak penalti.

Fans Persebaya pun menganggap pemecatan Eduardo Perez sebagai langkah tepat agar tim tidak terus terpuruk. Dengan materi pemain yang sebenarnya unggul, manajemen berharap pelatih baru dapat meningkatkan tempo permainan, mengoptimalkan umpan langsung, dan memanfaatkan kecepatan para pemain sayap.

Momen Gol dan Pergantian Pemain

Pada babak kedua, Arema FC berhasil unggul setelah gol bunuh diri Dim Medimov yang salah mengantisipasi crossing Valdesi. Kesalahan ini menjadi titik balik laga. Pergantian pemain dilakukan Persebaya dengan masuknya Balinsa, Odivan, dan Rizki Dwi untuk meningkatkan intensitas serangan.

Persebaya akhirnya menyamakan kedudukan lewat Bruno yang memanfaatkan kesalahan passing pemain Arema FC. Setelah itu, kedua tim sama-sama memiliki peluang, tetapi tidak mampu menambah gol. Arema FC bahkan sempat mengancam lewat serangan balik meski hanya bermain dengan 10 pemain.

Siapa Pelatih Baru Persebaya? 

Usai hasil imbang ini, fokus suporter tertuju pada siapa sosok pengganti Eduardo Perez. Dengan target kembali bersaing di papan atas, pelatih baru diprediksi harus mampu membawa Persebaya tampil lebih agresif, cepat, dan variatif. Kecepatan pemain-pemain Bajol Ijo dinilai cocok dengan gaya kick and rush yang lebih langsung dan taktis.

Sementara itu, hasil imbang bagi Arema FC dianggap sebagai poin berharga, mengingat mereka biasanya kesulitan mencuri poin di kandang Persebaya. Disiplin permainan, organisasi pertahanan, dan efektivitas transisi membuat Arema semakin percaya diri menghadapi putaran kedua musiman ini.

Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi
#Super Big Match #liga 1 #persebaya #Arema FC #eduardo perez