Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengenal Sosok Dosen asli Blitar Penakluk Gunung Lewat Lari Trail

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 1 Desember 2025 | 17:21 WIB
Mengenal Sosok Dosen asli Blitar Penakluk Gunung Lewat Lari Trail
Mengenal Sosok Dosen asli Blitar Penakluk Gunung Lewat Lari Trail

BLITAR - Selain seorang dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Gunanda Tiara Maharany, menyimpan kisah yang jauh lebih ekstrem dari rutinitas ruang kuliah.

Nanda, sapaan akrabnya, warga Kelurahan/Kecamatan Sananwetan, ini menjadikan jalan raya, gunung, tanah berlumpur, jalur curam, dan udara dingin sebagai tempat pelariannya secara harfiah. Dia adalah pelari trail yang menemukan rumah kedua di ketinggian.

Perjalanannya bersama olahraga lari tergolong unik. Dia tidak tumbuh sebagai pelari. Justru sebaliknya, dia pernah membenci lari dan lebih memilih olahraga voli yang sudah dikenalnya sejak kecil. Bahkan, saat kuliah di Bandung, Gunanda masuk tim inti bola voli ITB dan pernah meraih predikat Best Spiker ITB Cup 2014.

“Dulu aku suka banget main voli, apalagi ayah saya juga mantan pemain voli. Lari itu bener-bener olahraga yang paling aku benci. Namun saat menjadi dosen di ITS dan saya tidak punya teman, tiba-tiba ada teman dari Blitar untuk masuk komunitas lari. Awalnya diajak teman. Terus ya sekalian cari teman juga,” ujar Nanda.

Dia melanjutkan, semuanya berubah pada tahun 2022, momen ketika kesepian perlahan mengetuk pintu. Setelah enam tahun hidup di Bandung, pandemi memaksanya pindah ke Surabaya untuk kerja sebagai pengajar. Kota baru, suasana baru, namun sayangnya tanpa teman. Di saat itulah, seorang kawan memperkenalkannya pada dunia lari.

Dari ajakan sederhana itu, Nanda justru menemukan panggilan baru. Bahkan tidak berhenti di lari jalan raya, dia langsung jatuh cinta pada trail run, olahraga lari di medan alam yang menantang. Sebab, sebelumnya, Nanda suka dengan menanjak gunung.

Trail run pertama yang membuatnya jatuh hati adalah jalur tektok Gunung Penanggungan, medan yang nyaris selalu ia datangi. Selain itu, Nanda juga menaklukkan berbagai jalur di Gunung Kelud, mulai lewat Kediri, Karangrejo, hingga Tulungrejo. Di luar Jawa Timur, dia pernah menjajal trek menantang di Gunung Merbabu dan Sindoro. Meski sempat aktif lari hampir setiap bulan, tahun ini kegiatannya sedikit berkurang karena kesibukan sebagai dosen.

“Biasanya kalau weekday, aku fokus kerja. Weekend baru full main. Kadang ke gunung, kadang lari biasa. Saya sempat mengajak mahasiswa lari bareng, namun hanya omong saja, tidak aksi,” ungkapnya.

Nanda mengaku trail run memberinya ruang bebas yang tak dia temukan di aktivitas lain. Dia tidak hanya berlari, tapi juga berdamai dengan diri sendiri. Namun, medan itu jelas bukan tempat untuk manja. Dia sudah berkali-kali jatuh, tergelincir, tergores batu, dan bertemu binatang liar.

Bahkan, Nanda pernah ketemu ular besar, beruntung binatang itu hanya lewat. Meski begitu, dia tetap kembali. Lagi dan lagi. Bahkan tertawa setiap kali jatuh. Hal itu yang membuat trail run seru. Baginya, tantangan terbesar trail run bukan hanya lutut yang berhadapan dengan tanjakan tajam atau turunan licin, melainkan cuaca yang tak terduga.

“Kalau hujan bisa super licin. Kalau badai ya bahaya. Jadi harus siap fisik dan mental.”

Meski telah menaklukkan banyak jalur, Gunanda masih menyimpan mimpi besar, trail run ke Gunung Rinjani. Trek ekstrem yang menggabungkan lari dan aktivitas gunung itu sudah masuk daftar impiannya. “Ingin sekali ke Rinjani. Dengan ngecamp, dan sudah ada rencana sama teman-teman dalam waktu dekat ini,” pungkasnya. (jar/c1/ady) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#institut teknologi sepuluh nopember (its) #olahraga lari #pelari trail #Kecamatan Sananwetan #rutinitas ruang kuliah