BLITAR – menghadapi situasi tak terduga setelah tiga pemain mereka terusir dari lapangan. Meski tampil hanya dengan sembilan pemain sejak menit ke-44, Persebaya Surabaya memperlihatkan determinasi tinggi dan akhirnya sukses membawa pulang satu poin. Hasil ini sekaligus menjadi salah satu laga paling menegangkan yang dialami Persebaya Surabaya sepanjang musim.
Sejak menit awal, Persebaya sudah diterpa berbagai persoalan. Cedera yang menimpa sejumlah pemain kunci, termasuk Ricky Mitrevski yang masih menjalani pemulihan setelah operasi, membuat pelatih harus melakukan rotasi besar. Lelis yang kembali dipercaya turun sejak awal justru mengalami momen kelam yang tak terduga. Sorotan pun semakin tertuju pada bagaimana kondisi tim bertahan menghadapi tekanan tim lawan tanpa kehadiran beberapa pilar penting.
Awal pertandingan memperlihatkan betapa timpangnya kondisi lini belakang Persebaya. Dengan absennya Mitrevski, komunikasi di barisan bek terlihat berantakan. Beberapa kali, bola tanggung dan miskomunikasi terjadi, hampir menghasilkan petaka bagi Bajol Ijo. Komentar dari pengamat pertandingan menegaskan tidak adanya “leader” yang mengatur garis pertahanan dengan tegas.
Di pertengahan babak pertama, situasi semakin memburuk. Satu insiden terjadi ketika Hasan Nadif mengalami masalah pada tulang keringnya setelah terlibat duel keras. Kondisi ini membuat fokus pemain terganggu. Tak lama kemudian, petaka menyusul. Leo Lelis mendapat keputusan kartu merah yang membuat dirinya harus mandi lebih cepat. Persebaya pun kehilangan satu bek inti, menambah daftar masalah yang menimpa skuad.
Tak berhenti di situ. Mikel Alfredo, yang sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning, melakukan pelanggaran berisiko tinggi yang membuat wasit tak ragu mengangkat kartu kuning kedua. Seketika Persebaya bermain dengan sembilan pemain—sebuah situasi yang membuat penonton, baik di stadion maupun televisi, terperangah.
Drama semakin memuncak ketika satu pemain lagi dari Persebaya juga harus meninggalkan lapangan akibat kartu merah tambahan. Alhasil, tiga pemain sekaligus mandi lebih cepat. Dalam kondisi tersebut, banyak yang meyakini Persebaya akan kehilangan poin dan bahkan berpotensi kebobolan banyak gol.
Namun kenyataan berkata lain. Meski hanya menyisakan sembilan pemain, Persebaya memperlihatkan ketahanan luar biasa. Mereka tampil disiplin, fokus, dan menutup celah dengan rapat. Tekanan lawan yang terus datang mampu diantisipasi lewat blok, intercept, dan koordinasi garis pertahanan yang lebih hidup di sisa laga.
Stadion Maguwoharjo menjadi saksi bagaimana Persebaya menolak menyerah. Hujan yang turun deras seakan mempertebal dramatisasi laga. Serangan lawan berulang kali mengancam, namun Bajol Ijo tetap bertahan. Para pemain yang tersisa berlari, menutup ruang, dan berjuang mati-matian hingga peluit panjang berbunyi.
Ketika pertandingan berakhir, sorakan dan tepuk tangan terdengar keras dari tribun penonton. Meskipun bukan kemenangan, satu poin dari laga penuh tekanan itu terasa seperti pencapaian luar biasa bagi Persebaya. Dengan kondisi tim tidak lengkap, tekanan mental akibat kartu merah, hingga cuaca yang tidak bersahabat, hasil ini dianggap sebagai bukti mental baja para pemain.
Pertandingan ini juga memunculkan refleksi penting mengenai kebutuhan sosok pemimpin di lini pertahanan. Hilangnya komando menjadi penyebab utama beberapa kekacauan di awal laga. Namun sebaliknya, mental kolektif pemain dalam kondisi krisis justru menjadi cerita heroik yang memicu pujian publik.
Bagi Bonek, laga ini menjadi salah satu pertandingan yang patut dikenang. Persebaya pulang membawa satu poin, tetapi lebih dari itu—mereka membawa pulang penghormatan atas perjuangan keras yang dipertontonkan di lapangan.
Dengan sisa kompetisi yang masih panjang, Persebaya diharapkan mampu mengambil pelajaran, memperbaiki kedisiplinan, dan mengembalikan performa terbaik begitu para pemain yang absen kembali merumput.
Editor : Anggi Septiani