BLITAR – Kritik keras kembali mengarah pada manajemen Persebaya setelah performa tim dinilai tidak sejalan dengan target besar yang pernah dijanjikan Presiden Klub, Azrul Ananda. Sejumlah pendukung menyebut janji membawa Persebaya menjadi tim papan atas dan bersaing dalam perebutan gelar juara semakin sulit diwujudkan jika melihat kondisi saat ini.
Sorotan terutama mengarah pada inkonsistensi tim dan tidak stabilnya performa sepanjang kompetisi. Para pemain disebut belum menunjukkan kualitas yang mampu membawa Persebaya bersaing dengan klub-klub top Liga 1. Situasi ini memunculkan kembali pembahasan publik mengenai janji lama Azrul tentang pembangunan tim yang lebih kuat, profesional, dan siap juara.
Kritik muncul karena banyak pihak menilai Persebaya justru belum menunjukkan perkembangan signifikan. Harapan bahwa tim bakal menjadi kekuatan baru dalam persaingan papan atas dianggap masih jauh dari kenyataan. Beberapa pertandingan terakhir menunjukkan Persebaya sulit mempertahankan ritme, meskipun ada momen ketika tim sempat tampil meyakinkan.
Manajemen juga disorot karena keputusan rekrutmen pemain yang dianggap belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan tim. Struktur skuad yang tidak seimbang, rotasi yang kurang efektif, hingga dicoretnya beberapa pemain dalam waktu cepat menimbulkan tanda tanya besar mengenai arah pembangunan tim. Situasi tersebut memperkuat persepsi bahwa target besar yang dicanangkan belum ditunjang perencanaan yang matang.
Di sisi lain, pelatih menghadapi tekanan besar untuk mengangkat performa para pemain. Strategi di lapangan dinilai belum konsisten, sehingga Persebaya terlihat kesulitan mempertahankan dominasi selama 90 menit penuh. Kondisi ini semakin memperkuat narasi bahwa Persebaya masih membutuhkan banyak pembenahan, baik dalam aspek taktikal maupun mental bertanding.
Sejumlah suporter menilai manajemen harus segera melakukan evaluasi menyeluruh. Mereka menginginkan perubahan signifikan agar Persebaya kembali ke jalur persaingan yang kompetitif. Evaluasi tersebut tidak hanya soal teknis tim, tetapi juga mengenai komitmen manajemen dalam memenuhi janji lama yang terus diingat oleh publik.
Meski begitu, beberapa pendukung masih berharap tim mampu bangkit. Mereka meyakini Persebaya tetap memiliki potensi besar jika seluruh aspek—manajemen, pelatih, dan pemain—mampu bergerak searah. Harapan ini muncul karena Persebaya memiliki basis suporter yang luar biasa dan budaya klub yang kuat sebagai modal untuk bangkit.
Namun, hingga kini, hasil di lapangan menjadi ukuran paling konkret bagi para suporter. Setiap kali Persebaya gagal menang atau tampil di bawah ekspektasi, ingatan tentang janji-janji yang dulu pernah disampaikan kembali mencuat. Karena itu, tekanan terhadap manajemen semakin besar, terutama untuk membuktikan bahwa proyek jangka panjang yang pernah dijanjikan memang benar berjalan.
Ke depan, Persebaya dituntut menunjukkan konsistensi jika ingin keluar dari tekanan besar ini. Para suporter berharap perubahan nyata terjadi, bukan sekadar perbaikan sesaat. Mereka menunggu bukti bahwa Persebaya benar-benar bergerak menuju tim yang lebih solid, kompetitif, dan layak berada di papan atas.
Apakah janji besar Azrul benar-benar dapat diwujudkan atau justru semakin jauh dari kenyataan, semua bergantung pada langkah manajemen dan hasil pertandingan mendatang. Untuk saat ini, narasi yang paling kuat di kalangan suporter tetap sama: janji itu terancam gagal jika perubahan signifikan tidak segera terjadi. (*)
Editor : Rahma Nur Anisa