Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Gelap Bonek Kereta Api: Dari Dilempari Batu di Semarang Hingga Jadi Suporter Modern

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Rabu, 3 Desember 2025 | 01:00 WIB
Kisah Gelap Bonek Kereta Api: Dari Dilempari Batu di Semarang Hingga Jadi Suporter Modern
Kisah Gelap Bonek Kereta Api: Dari Dilempari Batu di Semarang Hingga Jadi Suporter Modern

BLITAR – Kisah perjalanan Bonek Kereta Api selalu menjadi bagian menarik dari sejarah suporter sepak bola Indonesia. Dalam puluhan tahun perjalanan Persebaya, kereta api bukan sekadar moda transportasi ekonomis, melainkan saksi hidup ketegangan, solidaritas, hingga perubahan besar yang dialami para suporter. Sebuah video dokumenter terbaru mengungkap cerita mendebarkan dari para Bonek yang pernah merasakan langsung teror ketika melakukan awayday menuju kota-kota lawan.

Awal Mula Tradisi Awayday dengan Kereta Api

Sejak era 1980–1990-an, Bonek dikenal sebagai salah satu kelompok suporter pertama di Indonesia yang melakukan perjalanan masal menggunakan kereta api. Alasannya sederhana: murah, bisa berangkat berombongan, dan memberikan ruang kebersamaan selama perjalanan.

“Kereta api itu pilihan paling ekonomis. Bisa rame-rame, bebas nyanyi, dan suasananya itu yang bikin nagih,” ujar seorang Bonek senior dalam video tersebut.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Ketika rombongan melewati daerah-daerah tertentu, gesekan dengan warga lokal kerap tak terhindarkan. Situasi panas antara suporter berbeda kota membuat kereta api yang ditumpangi rombongan Bonek sering menjadi sasaran serangan.

Teror Batu di Semarang: Kisah yang Tak Terlupakan

Dalam video, seorang suporter bercerita bagaimana pengalaman traumatisnya terjadi saat melewati Semarang, kota yang dikenal punya rivalitas klasik dengan Persebaya sejak era perserikatan.

Kereta yang ditumpanginya dilempari batu dari berbagai arah. Jendela pecah berhamburan, penumpang panik, dan banyak yang harus berlindung di bawah kursi.

“Disuruh tiarap, berlindung pakai kursi. Batu beterbangan dari kiri-kanan,” kenangnya.
Ia mengungkap bahwa pada masa itu, perjalanan melewati Semarang selalu dipenuhi kecemasan karena ketegangan suporter yang memuncak.

PT KAI sendiri pernah berupaya mengurangi potensi kericuhan dengan mengawal kereta bersama aparat dan melewati stasiun rawan tanpa berhenti. Namun kerugian materi akibat kerusakan sarana tetap saja terjadi, bahkan mencapai ratusan juta rupiah.

Citra Negatif Bonek dan Peran Media

Menariknya, video ini juga menyoroti bagaimana media dianggap turut memperkuat citra negatif Bonek. Aksi sosial, penggalangan dana, hingga kegiatan kemanusiaan suporter Persebaya jarang terangkat. Yang tampak di permukaan hanya sisi gelap: kericuhan, anarkisme, dan gesekan antarwilayah.

“Kalau bicaranya positif, media kurang tertarik. Tapi kalau soal keributan, cepat sekali naik berita,” ungkap narasumber lain.

Padahal, banyak kegiatan positif dilakukan Bonek selama bertahun-tahun. Sayangnya, pemberitaan tidak berimbang akhirnya membentuk persepsi publik bahwa Bonek identik dengan masalah.

Generasi Baru Bonek: Lebih Dewasa dan Kreatif

Waktu berjalan, generasi pun berganti. Bonek hari ini digambarkan jauh lebih dewasa, terorganisasi, atraktif, dan kreatif dalam mendukung klub kesayangan mereka. Tradisi awayday tetap hidup, tapi perilaku negatif semakin ditinggalkan.

Kereta api pun tetap menjadi moda utama perjalanan suporter Persebaya. Selain murah dan praktis, fasilitas kini jauh lebih baik dibanding era sebelumnya. AC, kipas angin, dan kenyamanan gerbong membuat perjalanan panjang tidak lagi sekeras masa lalu.

“Dulu nggak ada AC. Sekarang naik kereta bareng Bonek rasanya lebih nyaman. Ketemu teman-teman dari berbagai penjuru juga,” kata seorang Bonek yang menceritakan pengalamannya menuju laga final Liga 2.

Menutup Lembaran Lama dan Menatap Masa Depan

Video dokumenter ini menegaskan bahwa hubungan Bonek dan kereta api adalah bagian dari identitas mereka. Kisah gelap, lemparan batu, hingga rivalitas panas kini perlahan memudar. Suporter semakin dewasa, dan layanan kereta api juga semakin manusiawi.

Harapannya, gesekan antarwilayah akan menjadi cerita lama yang terlupakan. “Naik kereta itu dijaga baik-baik. Demi nama baik bersama,” pesan narasumber di akhir video.

 

Editor : Dimas Galih Nur Hendra Saputra
#kereta api #sepakbola #awaydays #bonek #persebaya