BLITAR - Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Blitar turut berpartisipasi dalam pameran nasional di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Mereka memamerkan sejumlah produk unggulan mulai dari pakaian, makanan ringan atau camilan lokal, hingga aksesoris buatan tangan. Targetnya, produk makin dikenal, jaringan bisnis bertambah luas, UMKM pun naik kelas.
Di tengah riuh keramaian Stadion Pakansari, Cibinong, akhir November lalu, ada sudut kecil yang memperkenalkan wajah potensi Blitar. Bukan lewat sejarah atau kulinernya yang legendaris, melainkan dari tangan-tangan kreatif para pelaku UMKM. Mereka hadir membawa harapan baru: menembus pasar nasional.
Melalui Rumah BUMN Blitar, yang selama ini menjadi rumah belajar sekaligus laboratorium bisnis UMKM lokal, ada tujuh pelaku usaha yang tampil di pameran nasional bertajuk Koplo Keliling (KOPLING) 2025. Pameran itu hasil kolaborasi PT PLN (Persero) dan Yayasan Semesta Membumi Indonesia (YSMI) yang menjadi ruang temu antara industri kreatif dan UMKM dari berbagai daerah.
Keikutsertaan mereka tidak sekadar pameran, tetapi hasil kurasi ketat. Produk-produk yang dibawa bukan sekadar cenderamata, melainkan representasi identitas. Mulai dari fesyen ecoprint yang memanfaatkan pewarna alami, kerajinan tangan dan aksesori handmade, hingga makanan olahan lokal dengan cita rasa khas Blitar.
“Acara seperti ini sangat penting bagi UMKM karena mereka bisa melihat bagaimana respons pasar secara langsung,” tutur Sulistyaningsih, pengelola Rumah BUMN Blitar. “Selain memperkenalkan produk, mereka juga belajar bersaing dengan pelaku usaha dari daerah lain,” imbuhnya.
Selama dua hari pameran, lapak UMKM Blitar justru yang paling banyak menyedot perhatian pengunjung. Pengunjung antusias menjajal kain-kain bermotif alami, mencari suvenir unik, atau sekadar mencicipi camilan lokal.
Selama pameran tersebut, omzet penjualan lumayan bagus. Di event perdana level nasional itu, mereka mencatatkan omzet hingga jutaan. Hari pertama, 74 produk terjual dengan omzet Rp 4,6 juta. Hari kedua, 27 produk terjual dengan omzet Rp 2,8 juta. ”Totalnya 101 produk dilepas dengan omzet Rp 7,4 juta,” ungkapnya.
Bagi Sulistyaningsih, angka itu lebih dari sekadar capaian transaksional. Dia membuktikan bahwa produk lokal bisa bicara banyak, asalkan diberi panggung dan dilatih untuk tampil. “Ini bukti bahwa UMKM kita tidak kalah bersaing. Ke depan, kami ingin lebih banyak mereka tampil di event nasional agar jejaring bisnis mereka semakin luas,” ujarnya.
Rumah BUMN Blitar sejatinya sudah lama menyiapkan fondasi bagi UMKM yang mereka dampingi. Mulai dari pelatihan peningkatan kapasitas, manajemen usaha, pengembangan produk dan kemasan, hingga strategi pemasaran digital. Inkubasi usaha pun diberikan agar para pelaku tak hanya berjualan, tapi juga punya arah bisnis.
Baca Juga: Evaluasi Tata Ruang Sumatera Pascabencana Banjir
Keikutsertaan di pameran level nasional menjadi pengalaman berharga sekaligus tanda bahwa UMKM lokal siap menjejak lebih jauh. Mereka bukan lagi sekadar pelaku usaha rumahan, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang lebih luas. “Harapan kami, mereka tidak hanya tampil, tetapi benar-benar naik kelas,” kata Sulistyaningsih.(*/c1/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah