Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda: Fondasi Persebaya Disebut Runtuh, Kritik Menggema Usai Laga Panas

Anggi Septiani • Kamis, 4 Desember 2025 | 03:00 WIB
Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda: Fondasi Persebaya Disebut Runtuh, Kritik Menggema Usai Laga Panas
Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda: Fondasi Persebaya Disebut Runtuh, Kritik Menggema Usai Laga Panas

BLITAR – Polemik internal Persebaya Surabaya kembali mengemuka setelah munculnya Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda yang kini viral di berbagai platform. Surat bernada keras itu menyuarakan keresahan mendalam suporter terhadap kondisi Green Force yang dinilai tak lagi memiliki fondasi kuat untuk bersaing. Kalimat “Kami sudah tidak lagi kecewa, kami sudah pada level menahan kemarahan,” menjadi simbol betapa frustrasinya para pendukung setia Persebaya di tengah performa tim yang naik turun.

Surat terbuka tersebut dirilis sehari setelah Persebaya hanya membawa pulang satu poin dari markas Bayangkara Presisi Lampung FC. Dalam tiga paragraf pertama, isu Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda bukan sekadar kritik biasa, tetapi representasi kekecewaan kolektif. Bonek menilai perjalanan klub tidak menunjukkan arah jelas, bahkan dianggap berada dalam lingkaran kesalahan berulang yang tak kunjung dipelajari.

Surat itu memulai kritiknya dengan pertanyaan tajam kepada Presiden Persebaya, Azrul Ananda. “Sadarkah Bapak bahwa segala rencana yang selama ini diagungkan justru tak pernah benar-benar berjalan sebagaimana mestinya?” tulis si penulis surat. Kalimat tersebut menggambarkan kelelahan emosional suporter terhadap manajemen yang dinilai terlalu sering melihat ke luar, bukan ke dalam tubuh klub sendiri.

Menurut para Bonek, manajemen Persebaya kerap menjadikan pelatih sebagai kambing hitam setiap musim. Pergantian juru taktik yang silih berganti dianggap sebagai indikasi ketidakmampuan klub membangun fondasi jangka panjang. “Setiap musim persoalan yang sama kembali muncul,” tulis mereka dalam surat yang kini menyebar luas.

Kritik berikutnya diarahkan kepada kebijakan transfer. Bonek mempertanyakan mengapa pemain yang bersinar justru mudah dilepas, seakan mempertahankan kualitas hanyalah mimpi bagi klub sebesar Persebaya. Bahkan kebutuhan pemain pelapis pun disebut tak terpenuhi, termasuk pelapis untuk Rivera yang sejak musim lalu menjadi sorotan.

Dalam surat itu, Bonek menegaskan agar manajemen tidak hanya mencari kesalahan pihak luar. Mereka meminta Azrul melihat lebih dalam pada orang-orang yang ia percaya menjalankan operasional klub. “Cobalah sekali saja menoleh ke dalam. Apakah orang-orang yang Bapak percayai sungguh menjalankan amanahnya?” tulis mereka.

Kritik tersebut menyoroti lemahnya struktur kerja internal yang dianggap menjadi akar masalah. Tanpa fondasi kuat, Persebaya dinilai hanya berputar dalam siklus yang sama: krisis—ganti pelatih—membangun ulang skuad—krisis lagi.

Meski keras, di balik kritik itu terselip harapan. “Persebaya tidak butuh janji lagi, yang dibutuhkan adalah perubahan nyata,” tulis sang Bonek. Surat tersebut ditutup dengan kalimat tegas namun penuh cinta: “Semangat, Pak. Masih banyak yang percaya.”

Ketegangan memuncak setelah Persebaya bermain imbang 1-1 melawan Bayangkara FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026 di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung. Gol bunuh diri Akil Safik membuat Persebaya unggul, namun gol Dendy Sulistiawan di injury time memaksa Green Force pulang tanpa kemenangan.

Pertandingan berlangsung ketat. Bayangkara FC menguasai bola, menciptakan 16 tembakan, dan menekan sejak menit awal. Persebaya mencoba bermain dengan serangan balik cepat, tetapi efektivitas yang selama ini menjadi masalah kembali terlihat.

Pelatih Bayangkara FC, Paul Munster, menyebut timnya kurang beruntung. “Kami mencetak gol bunuh diri. Sangat tidak beruntung,” ujarnya. Namun Munster justru memuji performa kiper Persebaya, Ernando Ari, yang tampil luar biasa dengan beberapa penyelamatan krusial.

Performa Ernando menjadi salah satu alasan Persebaya tidak pulang dengan tangan hampa. Dalam laga itu, ia mencatat sejumlah penyelamatan penting, termasuk dua peluang emas dari serangan cepat Bayangkara FC pada menit-menit akhir.

“Ernando menciptakan banyak penyelamatan bagus,” kata Munster. Penampilan sang kiper membuatnya kembali menjadi sorotan positif di tengah kondisi tim yang sedang goyah akibat tekanan suporter.

Kini bola berada di tangan manajemen. Surat Terbuka Bonek untuk Azrul Ananda telah menjadi opini publik yang sulit diabaikan. Suporter menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji baru. Mereka ingin perubahan struktural, pembenahan sistem, dan evaluasi menyeluruh terhadap orang-orang kepercayaan Azrul.

Satu hal kini jelas: suara Bonek semakin keras, dan Persebaya tidak lagi punya ruang untuk melakukan kesalahan yang sama.

Editor : Anggi Septiani
#bonek #azrul ananda #BRI Super League #ernando ari #persebaya surabaya