BLITAR - Unboxing iPhone 17 kembali jadi sorotan warganet setelah seorang YouTuber teknologi Tanah Air membagikan pengalaman membeli sekaligus membuka kotak iPhone 17 dan iPhone 17 Pro versi luar negeri. Dalam video tersebut, ia mengungkapkan total pajak, IMEI, dan bea masuk yang harus dibayar mencapai Rp8.934.131 untuk dua unit. Angka itu nyaris setara harga satu ponsel flagship di Indonesia, sehingga langsung menyulut perdebatan soal worth it atau tidak membeli iPhone lebih awal lewat jalur jastip.
Dalam unboxing iPhone 17 ini, sang kreator membeli dua varian sekaligus, yakni iPhone 17 warna hijau sage dan iPhone 17 Pro Cosmic Orange. Keduanya dibeli melalui jasa titip (jastip) Studio Ponsel. Semua urusan pajak, IMEI, dan bea cukai disebut sudah beres, lengkap dengan bukti pembayaran. Meski demikian, ia tetap menyarankan konsumen agar tidak terburu-buru membeli jika tidak benar-benar mendesak, mengingat versi resmi iPhone 17 dikabarkan akan masuk Indonesia pada awal Oktober.
Upgrade Signifikan di iPhone 17 Base Model
Sorotan utama dalam unboxing iPhone 17 justru bukan berada di varian Pro, melainkan pada model reguler. iPhone 17 kini hadir dengan satu ukuran layar saja, yakni 6,3 inci. Tidak ada lagi versi Plus karena posisinya digantikan oleh iPhone Air.
Hal paling mencolok ada pada layar. Untuk pertama kalinya, Apple menghadirkan refresh rate 120Hz di model non-Pro. Perubahan ini membuat pengalaman scrolling terasa jauh lebih mulus dibanding iPhone 16 yang masih bertahan di 60Hz. Saat dibandingkan langsung, perbedaannya sangat terasa, bahkan iPhone 16 terlihat seperti lag ketika disandingkan.
Dari sisi kamera, iPhone 17 membawa peningkatan signifikan. Semua kamera, termasuk ultra-wide, kini sudah 48 MP. Ini menjadi lonjakan besar mengingat generasi sebelumnya masih mengusung kamera ultra-wide 12 MP. Selain itu, desain kamera belakang tetap dua lensa yang tersusun vertikal.
Material layar juga mendapat peningkatan lewat Ceramic Shield 2 yang diklaim lebih kuat. Sementara pengisian daya disebut lebih cepat, dengan kemampuan mengisi 50 persen baterai hanya dalam 20 menit.
iOS 26 dan Efek “Liquid Glass”
Pada sesi awal penggunaan, iPhone 17 langsung menjalankan iOS 26. Tampilan antarmuka terbaru Apple ini mengusung efek transparan menyerupai kaca, yang oleh kreator disebut sebagai “liquid glass”. Animasi saat pertama kali dihidupkan menampilkan efek seperti gelembung kaca yang mengalir.
Namun, tidak semua fitur visual ini dianggap praktis. Ikon aplikasi berubah menjadi monochrome alias satu warna ketika mode transparan aktif. Hal ini membuat beberapa aplikasi terlihat hampir seragam dan membingungkan secara visual. Meski secara estetika terkesan futuristik, soal kenyamanan penggunaan masih menjadi bahan perdebatan.
iPhone 17 Pro: Keren, Tapi Tidak Menggoda
Berbeda dengan base model yang menuai banyak pujian, iPhone 17 Pro justru memicu reaksi campur aduk. Varian Cosmic Orange tampil dengan modul kamera memanjang di bagian belakang, desain yang oleh sebagian warganet disebut mirip ponsel Poco.
Bodi belakang iPhone 17 Pro mengombinasikan aluminium dan kaca dengan nuansa warna oranye metalik yang mencolok. Meski unik dan eksklusif, tidak semua menyukai gaya ini. Sang kreator bahkan mengakui belum sepenuhnya “masuk” dengan desain barunya.
Dari sisi kamera, iPhone 17 Pro membawa konfigurasi triple-camera 48 MP, termasuk telephoto. Apple memperkenalkan fitur “Fusion Zoom” hingga 8x. Namun saat diuji, hasil fotonya tidak selalu lebih tajam dibanding iPhone 16 Pro. Beberapa detail justru tampak lebih baik di generasi sebelumnya, membuat klaim upgrade kamera terasa belum sepenuhnya meyakinkan.
Lebih Worth It iPhone 17?
Menutup video, sang kreator mengaku justru lebih tertarik dengan iPhone 17 reguler ketimbang varian Pro. Dengan harga yang terpaut 3–4 juta lebih murah, iPhone 17 menawarkan layar 120Hz, kamera 48 MP di semua lensa, desain lebih segar, dan performa yang terasa signifikan meningkat dibanding iPhone 16.
Kesimpulannya, iPhone 17 dinilai sebagai pilihan paling “value for money” di generasi ini. Sementara iPhone 17 Pro lebih cocok bagi mereka yang mengejar desain unik dan branding eksklusif, bukan sekadar peningkatan performa.
Editor : Findika Pratama