BLITAR – Rumor Eduardo Almeida ke Persebaya kembali memanaskan diskusi para pendukung Green Force. Nama pelatih asal Portugal itu disebut masuk dalam daftar kandidat utama pengganti Edward Perez yang baru saja dilepas manajemen. Isu tersebut langsung menimbulkan tanda tanya besar di kalangan Bonek, terutama karena rekam jejak sang pelatih dianggap tidak meyakinkan dalam beberapa musim terakhir.
Keraguan publik terhadap Eduardo Almeida ke Persebaya muncul karena penampilan tim yang pernah ia tangani tidak menunjukkan progres berarti. Meski Almeida memiliki pengalaman melatih di Indonesia, catatan performanya dinilai jauh dari standar pelatih yang diharapkan memimpin klub sebesar Persebaya Surabaya. Kondisi ini membuat suporter bertanya-tanya mengenai arah keputusan manajemen jika benar memilih Almeida sebagai juru taktik baru.
Kualitas Almeida Jadi Sorotan
Perdebatan soal kualitas pelatih mulai menguat karena beberapa pendukung menilai gaya bermain Almeida cenderung monoton dan sulit berkembang di kompetisi lokal. Mereka khawatir pola permainan yang ia terapkan tidak cukup adaptif menghadapi dinamika pertandingan ketat, terutama di level Super League yang semakin kompetitif dari musim ke musim.
Situasi makin menarik setelah sebelumnya beredar kabar bahwa Persebaya sudah mendekati Bernardo Tavares. Namun kabar tersebut langsung dibantah oleh sang agen. Ia menegaskan bahwa tidak ada kontak resmi dengan klub manapun, termasuk Persebaya Surabaya. Bantahan itu membuat arah pemilihan pelatih kepala semakin tidak jelas dan memunculkan lebih banyak spekulasi mengenai kandidat yang sesungguhnya.
Statistik Buruk Jadi Beban
Keraguan makin kuat ketika publik melihat statistik Eduardo Almeida pada musim 2025–2026. Ia tercatat menjalani delapan pertandingan dengan hanya satu kemenangan, satu hasil imbang, serta enam kekalahan. Total empat poin dari delapan laga dianggap terlalu rendah untuk pelatih yang ditugaskan mengangkat performa Persebaya.
Manajemen diyakini memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan pelatih. Namun banyak pihak masih mempertanyakan apakah sosok dengan performa seperti itu layak dipercaya memegang proyek besar Green Force. Apalagi Persebaya membutuhkan figur kuat untuk memperbaiki inkonsistensi yang masih membayangi tim sepanjang putaran pertama.
Putaran Kedua Diprediksi Jadi Momen Bersih-Bersih
Kondisi Persebaya di musim ini memang belum sesuai harapan. Hingga pekan ke-13 Super League 2025–2026, Green Force masih berada di peringkat sembilan dengan raihan 17 poin. Catatan tersebut dinilai jauh dari status Persebaya sebagai klub besar dengan sejarah panjang di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Di saat beberapa tim tradisional seperti Persija Jakarta dan Persib Bandung mampu bersaing di papan atas, Persebaya justru kesulitan menemukan konsistensinya. Sementara itu tim muda seperti Borneo FC tampil gemilang sepanjang musim dan memperlihatkan stabilitas yang patut dicontoh.
Hasil kurang memuaskan di putaran pertama membuat manajemen Persebaya disebut bakal melakukan perombakan besar pada putaran kedua. Sektor pemain asing menjadi fokus utama evaluasi karena hanya Bruno Moreira dan Francisco Rivera yang mampu tampil stabil dan memberikan kontribusi mencolok sejauh ini.
Di lini depan, Green Force baru mencetak 14 gol dari 12 pertandingan. Catatan tersebut menggambarkan betapa tumpulnya lini serang musim ini. Bruno Moreira memimpin daftar pencetak gol klub dengan empat gol, disusul Rivera dengan tiga gol. Sementara dua striker asing lainnya, Mihailo Perovic dan Diego Mauricio, belum mampu memberikan dampak signifikan. Mauricio bahkan belum mencetak satu gol pun hingga pekan ke-13.
Performa pemain lokal seperti Malik Risaldi dan Rizki Dwi juga dinilai kurang maksimal. Minimnya kontribusi gol membuat Persebaya kesulitan menyelesaikan peluang emas di kotak penalti lawan.
Lini Belakang Tak Lebih Baik
Masalah tidak berhenti di sektor serang. Lini belakang Persebaya juga dalam kondisi memprihatinkan karena sudah kebobolan 12 gol. Tiga bek asing—Diedimov, Ristop Mitrevski, dan Leo Lelis—dinilai tidak cukup solid menjaga area pertahanan.
Kiper utama, Ernando Ari, bahkan harus berjibaku melakukan 49 penyelamatan sepanjang putaran pertama. Angka tersebut menggambarkan betapa rentannya lini belakang Green Force musim ini.
Melihat kondisi tersebut, satu atau lebih bek asing diyakini berpeluang didepak pada putaran kedua. Apalagi jika pelatih baru, termasuk kemungkinan Eduardo Almeida ke Persebaya, benar-benar datang. Figur pelatih baru diprediksi membawa perubahan besar termasuk melakukan bersih-bersih skuad demi mengangkat performa tim.(*)
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi