BLITAR – Isu Shin Tae-yong Persebaya kembali memanaskan jagat sepak bola nasional setelah Green Force belum juga menetapkan pelatih anyar usai melepas Eduardo Perez. Desakan Bonek agar manajemen mempertimbangkan nama Shin Tae-yong menguat di sejumlah kanal diskusi, terutama setelah gagalnya Persebaya mengamankan tanda tangan mantan pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares. Situasi ini membuat kursi pelatih kepala masih kosong dan kian menjadi sorotan jelang padatnya jadwal Superliga 2025–2026.
Bagi Bonek, peluang mendatangkan Shin Tae-yong Persebaya dianggap sebagai momentum kebangkitan. Mereka menilai mantan juru taktik Timnas Indonesia itu punya rekam jejak yang kuat dalam membangun disiplin, karakter, dan pendekatan taktis modern. Dorongan publik ini muncul dari kekhawatiran bahwa Persebaya kembali terjerembap pada ketidakstabilan musim lalu. Dalam kondisi itu, nama Shin dinilai sebagai pilihan paling ideal untuk mengembalikan identitas permainan Bajul Ijo.
Harapan terkait Shin Tae-yong Persebaya juga diperkuat oleh keberadaan Shin Sang-gi, anggota staf pelatih yang pernah bekerja berdampingan dengannya di Timnas Indonesia. Namun hingga kini, peluang kedatangan Shin masih sebatas spekulasi. Faktor finansial, nilai kontrak, serta kesediaannya kembali melatih klub Indonesia menjadi persoalan besar. Manajemen pun belum memberi tanda-tanda pasti terkait rencana perekrutan.
Sejak berpisah dengan Perez, Persebaya mengandalkan duet caretaker Uston Nawawi dan Shin Sang-gi untuk memimpin latihan dan menentukan strategi. Kombinasi ini sementara mampu menghasilkan performa cukup stabil, termasuk hasil imbang 1-1 melawan Bhayangkara FC. Meski begitu, Bonek menilai capaian tersebut belum cukup untuk target ambisius musim ini.
Uston Nawawi menegaskan bahwa yang terpenting saat ini adalah menjaga keseimbangan tim. Ia menilai seluruh pemain harus ikut bertanggung jawab dalam proses menyerang maupun bertahan. “Kami bertahan mulai dari pemain depan, sama juga dengan serangan dimulai dari belakang,” tegas Uston.
Di tengah isu panas soal pelatih, performa striker asing Mihailo Perovic turut menjadi pusat perhatian. Dalam 12 laga Superliga 2025–2026, ia baru mencetak dua gol. Catatan itu dianggap mengecewakan bagi penyerang berpengalaman. Tekanan dari tribun maupun media sosial pun semakin deras.
Menanggapi kritik itu, Uston Nawawi memberikan pembelaan. Ia menyebut kontribusi Perovic tidak bisa diukur dari jumlah gol semata. Striker asal Montenegro tersebut dianggap bekerja sesuai peran yang diberikan dalam skema tim, termasuk dalam duel kontra Bhayangkara FC.
Menurut Uston, tekanan terhadap Perovic terlalu berlebihan. Yang terpenting adalah sistem permainan berjalan konsisten sesuai rencana. Meski begitu, ia tetap berharap Perovic bisa lebih tajam ketika Persebaya bertandang ke markas PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie.
Pertandingan pekan ke-14 Superliga antara PSM Makassar vs Persebaya bukan hanya ajang perebutan tiga poin, tetapi juga duel dua kiper terbaik Tanah Air: Hilmansyah dan Ernando Ari.
PSM mengandalkan Hilmansyah yang tampil impresif dalam 11 laga—32 penyelamatan, satu intersepsi, tiga sapuan, dan harga pasar mencapai Rp3,04 miliar. Performanya yang konsisten membuatnya menjadi salah satu aset terbesar klub musim ini.
Di sisi lain, Persebaya menurunkan kiper langganan Timnas Indonesia, Ernando Ari. Ia mencatat 59 penyelamatan dari 11 laga, menjadikannya salah satu pemain dengan nilai pasar tertinggi di skuad Persebaya. Meski sering berada di bawah bayang-bayang kiper elite lain, Ernando dinilai unggul dari sisi ketenangan dan akurasi keputusan.
Selisih poin yang tipis—18 poin untuk PSM, 17 poin untuk Persebaya—membuat duel ini penting. Pemenangnya tidak hanya mendapat poin, tetapi juga legitimasi sebagai kiper paling superior saat ini.
Situasi Persebaya kini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, ada tuntutan besar Bonek untuk mendatangkan sosok top seperti Shin Tae-yong. Di sisi lain, ada kebutuhan menjaga stabilitas tim dengan mempertimbangkan kemampuan finansial klub.
Yang jelas, isu Shin Tae-yong Persebaya telah menciptakan euforia dan harapan baru. Keputusan manajemen dalam beberapa pekan ke depan dipastikan menjadi salah satu yang paling ditunggu publik sepak bola nasional.
Editor : Anggi Septiani