BLITAR - April Triwahyu Ningrum bangkit dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan masa pemulihan kecelakaan. Dia membangun usaha makrame dan rajutan yang dipelajari secara otodidak. Lewat usahanya itu, kini dia mulai menularkan ketrampilannya merajut kepada orang lain.
Semua dimulai dari percobaan kecil, pelatihan digital marketing, hingga membuka stand pertama di event lokal. Bisnis rajutannya kini berkembang bersamaan dengan pekerjaan menulisnya, menjadi bukti bahwa kreativitas dapat menjadi ruang penyembuhan sekaligus pintu rezeki.
Ya, usai terkena layoff dari sebuah media online di Malang, dia berkenalan dengan benang makrame dari YouTube. Iseng mencoba, namun justru jatuh hati. “Aku kok bisa bikin? Kok nagih? Dari situ aku mulai belajar,” ujar perempuan 27 tahun ini.
Namun perjalanan tidak mulus. April mengalami kecelakaan yang membuatnya tak bisa berjalan selama dua bulan. Dalam kondisi sulit itu, dia berusaha agar tetap produktif dengan menjual amplop lebaran, menitipkan gantungan makrame ke temannya, hingga melatih jarinya membuat simpul-simpul rajut sederhana.
Kesibukan positif itu ternyata turut menjadi obat terapi dalam masa penyembuhan dan pemulihannya. Meski hasil karyanya tidak banyak yang terjual, tetapi cukup membuatnya bertahan.
Kesempatan belajar terbuka ketika dia mengikuti pelatihan Digital Marketing dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). Selama 10 hari tinggal, April tak hanya mempelajari pemasaran, di samping itu ia juga ikut kelas merajut privat. Dua kali pertemuan saja sudah membuatnya memahami dasar pola, sisanya dia latih sendiri lewat video tutorial di Youtube.
Mulanya dia membuat bunga, buah, hingga karakter lucu. Setiap simpul menjadi latihan kesabaran, setiap pola baru menjadi kemenangan kecil.
Pada Juli, untuk pertama kalinya April membuka stand. Pembeli berasal dari kalangan anak-anak. Mereka menyerbu produk kecilnya yang berupa gantungan kunci bunga, kuncit rambut rajut, hingga cardholder warna-warni. “Alhamdulillah ternyata anak-anak suka. Rasanya kayak usahaku benar-benar hidup,” katanya.
Dari sana, usahanya perlahan tumbuh. Ia membuka akun Shopee, Instagram, hingga TikTok. Memotret produk, mengunggah video, dan melakukan promosi kecil-kecilan. Namun, di sisi lain ia mendapati kendala bahwa ia harus membagi waktunya dengan pekerjaannya sebagai penulis lepas.
“Kadang lagi fokus rajut, tiba-tiba klien datang. Atau lagi nulis, ada yang pesan rajutan. Aku gak mau nolak rezeki, jadi harus pintar bagi waktu,” jelasnya.
Meski sering kewalahan, April mengaku merajut menjadi ruang healing. Saat penat menulis, dia kembali ke benang. Saat lelah merajut, dia kembali menulis. Keduanya seperti dua nafas yang membuatnya tetap bertahan.
April percaya, siapa pun yang memulai merajut tidak perlu takut salah, lambat, atau tidak laku. Yang terpenting adalah rasa suka yang membuat tangan terus bergerak dan hati tetap tenang. Dari simpul-simpul makrame hingga pola-pola rajutan, dia sedang menenun masa depannya sendiri. Sebab baginya, setiap benang selalu punya ujung yang bisa dirangkai kembali menjadi sesuatu yang indah.(*/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah