BLITAR – Status pelatih Persebaya kembali menjadi sorotan besar setelah laga imbang kontra PSM Makassar memicu kemarahan kolektif Bonek. Suporter menilai kualitas permainan, rotasi, hingga keputusan teknis semakin tidak jelas, sementara manajemen belum memberikan kepastian terkait posisi pelatih tetap. Situasi ini membuat isu pergantian pelatih dan nasib skuad Bajul Ijo kembali memanas.
Ledakan kekecewaan Bonek terjadi setelah Persebaya gagal menang di laga kandang Super League. Bagi suporter, masalah bukan semata hasil imbang, tetapi serangkaian keputusan taktis yang dianggap tidak logis. Mereka menilai pelatih sementara Persebaya, Uston Nawawi, berada dalam tekanan berat, sementara manajemen belum menunjukkan arah jelas terkait nama pelatih Persebaya definitif.
Di tiga paragraf awal ini, fokus suporter tertuju pada tiga faktor utama: pembacaan permainan yang dianggap buruk, mentalitas pemain yang tidak stabil, dan kebijakan rotasi yang memantik tanda tanya. Semua itu memperkuat keyakinan Bonek bahwa Persebaya membutuhkan pelatih Persebaya yang lebih tegas, berpengalaman, dan mampu memaksimalkan potensi pemain.
Bonek Ledakkan Amarah di Instagram Klub
Kemarahan suporter terlihat jelas di kolom komentar Instagram resmi Persebaya. Usai pertandingan, unggahan klub langsung diserbu tuntutan evaluasi total, mulai dari desakan perubahan komposisi pemain hingga permintaan mendesak agar manajemen segera menentukan pelatih definitif. Kata-kata “out”, “evaluasi”, dan kritik pedas mendominasi ruang komentar tanpa filter.
Pemicunya bukan satu, tetapi berlapis. Keputusan tidak memainkan Diego Maricio sejak awal laga menjadi isu terbesar. Bonek menilai harga transfer Diego yang mencapai Rp4,78 miliar sia-sia karena sang striker hanya bermain dua laga dengan total 34 menit dari 13 pertandingan. Ketika kembali dicadangkan dan baru masuk menjelang akhir, kekecewaan suporter langsung memuncak.
Bagi Bonek, bukan hanya uang klub yang terbuang, tetapi momentum dan kreativitas serangan juga mandek tanpa Diego. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar terkait konsistensi strategi tim.
Perovic dan Raikovic Dinilai Memicu Kekacauan
Amarah suporter semakin meluap karena dua pemain senior justru menjadi pusat masalah. Mihailo Perovic dianggap memicu kekacauan setelah terlibat cekcok yang berujung kartu kuning pada menit 47. Suporter menilai aksi itu menunjukkan buruknya kontrol emosi pemain yang seharusnya memberi ketenangan.
Situasi diperburuk oleh insiden yang melibatkan Raikovic, yang kehilangan kendali berkali-kali hingga hampir menyerang pemain lawan. Pertandingan bahkan harus dihentikan dari menit 85 hingga 92 demi meredakan situasi. Bagi Bonek, momen itu menjadi bukti bahwa struktur permainan Persebaya hilang ketika tensi naik. Pemain berpengalaman yang diharapkan memimpin justru menjadi sumber kekacauan.
Diego Dicadangkan, Puncak Kemarahan Bonek
Jika kartu kuning dan emosi meledak adalah bara, maka pencadangan Diego adalah pemantik api terbesar. Para suporter menilai keputusan itu tidak masuk akal, terutama karena Persebaya sedang membutuhkan agresivitas di lini depan. Kekecewaan membesar karena Diego dianggap sebagai salah satu investasi termahal musim ini, tetapi kontribusinya minim akibat keputusan teknis yang tidak konsisten.
Bonek menilai stagnasi Persebaya bukan lagi soal statistik, melainkan tentang marwah klub. Mereka merasa manajemen gagal membaca momentum dan gagal mengeksekusi taktik yang tepat.
Rumor Pelatih Persebaya Menguat
Di tengah amarah yang masih terasa, rumor soal pelatih Persebaya kembali menguat. Uston Nawawi yang kini menjabat sebagai pelatih sementara akhirnya buka suara soal peluang menjadi pelatih tetap setelah dua laga berakhir imbang sejak dirinya memimpin.
Namun jawaban Uston justru membuat spekulasi semakin liar. “Kalau itu saya belum tahu,” ujarnya singkat usai laga melawan PSM Makassar.
Manajemen belum memberikan sinyal kuat apakah mereka akan menetapkan Uston sebagai pelatih definitif atau tetap mencari nama lain. Yang jelas, tim sudah kembali pada pola kerja yang lebih terstruktur di bawah mantan kapten Persebaya itu, meskipun kemenangan masih belum kembali diraih.
Uston Fokus, Manajemen Ditunggu Keputusannya
Uston menegaskan bahwa dirinya hanya menjalankan tanggung jawab sebagai pelatih sementara. Tanpa target khusus, ia berupaya mengembalikan performa tim dan berharap laga berikutnya bisa menghasilkan tiga poin. Namun publik menilai stabilitas sementara tidak cukup tanpa arah yang jelas dari manajemen.
Kini semua pihak menunggu keputusan penting: apakah manajemen Persebaya berani menetapkan Uston sebagai pelatih tetap atau memilih orang baru. Momentum pertandingan berikutnya bisa menjadi indikator kuat arah Persebaya menuju putaran kedua liga.
Dengan tensi suporter yang semakin tinggi, keputusan soal pelatih Persebaya akan menjadi kunci menentukan langkah Bajul Ijo ke depan. Publik berharap evaluasi bukan hanya janji, tetapi aksi nyata yang bisa mengembalikan marwah klub.
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi