Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Guru Olahraga SD di Blitar Taklukkan Rintangan di Siksorogo Lawu Ultra 2025 hingga Sukses Podium

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 15 Desember 2025 | 19:30 WIB

 

MENGUJI MENTAL: Galih Candra Aji saat melintasi titik turunan yang curam di Siksorogo Lawu Ultra beberapa waktu lalu.
MENGUJI MENTAL: Galih Candra Aji saat melintasi titik turunan yang curam di Siksorogo Lawu Ultra beberapa waktu lalu.

BLITAR - Dingin menusuk, kabut tebal, dan lintasan licin tak menyurutkan langkah Galih Candra Aji menuntaskan misinya hingga garis finis Siksarogo Lawu Ultra (SLU) 120 kilometer. Misinya sukses dan berhasil naik podium sebagai juara 1. Keberhasilan itu berkat konsistensi latihan selama berbulan-bulan.  

Galih Candra Aji tidak menyangka berhasil naik podium di event bergengsi lari lintas alam dengan jarak ratusan kilometer. Baginya, ajang Siksorogo Lawu Ultra ini bukan sekadar lomba, melainkan bagian dari perjalanan panjang menantang diri sendiri.

Ini menjadi momen kali kedua Galih mengikuti Siksarogo Lawu Ultra. Tahun lalu, dia turun di kategori 80 kilometer. Namun, tahun ini dia memberanikan diri naik kelas ke nomor 120 kilometer. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Galih telah menjajal Mantra Ultra dengan jarak 116 kilometer di kawasan Gunung Arjuno-Welirang.

“Rasanya sudah waktunya naik level. Pada event Mantra jaraknya hampir sama, jadi di Lawu ini saya ingin mencoba tantangan baru dan lebih jauh dari sebelumnya. Butuh latihan dengan jangka panjang,” ujar Galih.

Berbeda dengan sebagian pelari yang fokus latihan beberapa bulan menjelang lomba, Galih memilih jalur panjang. Sepanjang tahun dia menjaga konsistensi latihan. Baginya, tubuh harus disiapkan lebih dulu sebelum memutuskan ikut event, bukan sebaliknya.

Galih berlatih lari trail ini bukan karena hanya ikut event tertentu. Sebab, tiap event punya karakter berbeda, jadi yang disiapkan itu badan dan mentalnya. Apalagi karakter Gunung Lawu, menurut Galih, cukup menantang.

Kendala terberat justru datang saat pendakian kedua menuju puncak Lawu. Sekitar 1 kilometer menjelang puncak, cuaca berubah drastis. Kabut turun, hujan mengguyur, dan suhu anjlok tajam. Selain suhu yang dingin, kondisi lintasan di bulan Desember jauh lebih basah dibanding Agustus. Jalur makadam, tanjakan panjang, hingga udara menusuk menjadi kombinasi yang menguras energi.

“Suasananya dingin sekali. Beberapa kali harus berhenti sebentar, pakai jaket, bertahan supaya badan stabil lagi. Alhamdulillah bisa lanjut setelah hujan reda. Sedangkan untuk rute relatif aman,” kenang warga Desa Wonorejo, Kecamatan Talun ini.

Jika tanjakan masih bisa dihadapi, lintasan turunan menuju Candi Ceto menjadi ujian tersendiri. Lumpur licin memaksa Galih bermain aman. Saat itu, dia bahkan harus merelakan posisi terdepan. “Downhill ke Candi Ceto itu licin parah. Saya pilih aman daripada cedera. Di situ akhirnya saya tersalip,” katanya.

Meski demikian, pemuda 29 tahun ini berhasil menuntaskan lomba dengan catatan waktu sekitar 25 jam 17 menit 44 detik. Dia melewati garis finis bersama pelari lain, yakni Arif Wismoyono, dari total sekitar 58 peserta terdaftar. Namun bagi Galih, menyentuh garis akhir sudah menjadi kemenangan tersendiri.

Apalagi, Siksarogo Lawu Ultra tahun ini sempat diwarnai kabar duka. Dua peserta meninggal dunia dari kategori 15 kilometer. Galih mengaku baru mengetahui kabar itu beberapa jam setelah lomba, menjelang penyerahan hadiah.

“Awalnya enggak tahu. Baru dengar kabar setelah saya selesai lari. Saya kaget, enggak nyangka. Alhamdulilah saya bisa selesai dengan aman dan sehat,” tutur guru olahraga di sekolah dasar ini.

Menurut Galih, aspek keselamatan sebenarnya sudah diperhatikan panitia. Setiap peserta diwajibkan membawa perlengkapan wajib, mulai emergency blanket, jaket anti angin, P3K pribadi, peluit, headlamp, baterai cadangan, hingga nutrisi.

Maka dari itu, peserta kategori ultra juga harus menyertakan kualifikasi lomba sebelumnya serta surat cek kesehatan. Pelari pada kategori ini tidak semua bisa daftar, harus ada kualifikasi yang harus dipenuhi. Hal itu menjadi salah satu bentuk antisipasi supaya peserta yang akan berlari benar-benar siap secara fisik dan mental.

Perjalanan Galih di dunia lari dimulai sejak 2016, saat bergabung dengan komunitas Blitar Runners. Awalnya hanya fun run di aspal atau jalan raya. Namun sejak pandemi, dia mulai berlatih lebih terstruktur dan beralih ke trail running atau lari lintas alam.

Menurutnya, trail run memiliki pemandangan yang bagus untuk dinikmati, medannya menantang dan bisa mendatangi tempat-tempat yang tidak semua orang bisa melewatinya. Bagi Galih, filosofi lari trail sederhana namun dalam. Tujuan utama bukan sekadar garis finis, melainkan pulang ke rumah dengan selamat.

Podium di Siksa Rogo Lawu Ultra menjadi pencapaian pertamanya. Namun Galih justru menganggapnya sebagai awal, bukan puncak. Masih banyak event trail lain yang ingin ia jelajahi, baik di Jawa Timur maupun luar daerah.

“Ini baru permulaan. Yang penting bisa tampil maksimal, tidak cedera, dan finish dengan aman. Podium itu bonus. Finis itu bukan di garis akhir lomba, tapi saat kita bisa kembali ke rumah dengan kondisi baik,” pungkasnya.(*/c1/sub) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#juara 1 #Siksarogo Lawu Ultra #Galih Candra Aji #garis finis