Kematian Ayah dan Titik Terendah Sang Bintang
DDS mengawali karier olahraganya sejak usia 12 tahun, bermain di klub-klub Brasil sebelum merantau ke Korea, Thailand, hingga Indonesia. Dalam perjalanannya, ia sempat membela empat klub divisi pertama di Brasil, dan bahkan menyebut pernah bermain untuk Bayern Munich dan Atletico Madrid.
Namun, di tengah perjalanan kariernya, DDS menghadapi pukulan terberat: kehilangan sang ayah. Ayah DDS bukan hanya pendukung terbesar, tetapi juga pelatih dan sahabat terbaik dalam hidupnya.
"Saya kehilangan ayah saya, ayah saya meninggal. Dan setelah ini saya mengalami masalah depresi dan kesulitan untuk melanjutkan sepak bola... Saya kehilangan kendali dalam hidup saya, terkadang tidak berdoa, tidak berdoa untuk waktu yang lama," ujar DDS dengan nada emosional.
DDS mengakui bahwa depresinya begitu parah sehingga ia sempat kehilangan waktu bermain sepak bola untuk waktu yang lama. Situasi mental dan emosional yang kacau membuatnya sulit untuk profesional.
Istri: Sang Penyelamat dan Pendukung Terbesar
Titik balik dalam hidup DDS datang saat ia bertemu dengan istrinya. Ia menyebut pertemuannya dengan sang istri telah mengubah hidupnya secara total, membantunya kembali ke lapangan hijau dan mendapatkan kembali fokus.
"Saya bertemu istri saya dan mengubah hidup saya. Keluarga saya adalah hidup saya, istri saya adalah pendukung terbesar saya... Istri saya datang dan membantu saya secara mental dan emosional," ungkap DDS.
Meskipun istrinya tidak terlalu menyukai sepak bola dan jarang pergi ke stadion—karena lebih memilih tinggal di rumah, berdoa, dan fokus agar DDS bisa tampil baik—peran sang istri sebagai jangkar mental dan emosional sangatlah krusial. DDS menegaskan bahwa istrinya adalah segalanya baginya, sahabat terbaik nomor satu.
Fakta unik lainnya, ketika kontak pertama dengan manajemen Persib, DDS mengungkapkan bahwa negosiasi justru dimulai melalui istrinya dengan Pak Haji Dedi secara langsung, menunjukkan betapa sentralnya peran istri dalam keputusan kariernya.
Tolak Tawaran Gaji Dua Kali Lipat Demi Mindset
Profesionalisme DDS tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga dalam pengambilan keputusannya. Ia menceritakan momen di mana klub lain datang dengan tawaran resmi yang sangat menggiurkan, bahkan menjanjikan gaji dua kali lipat dari yang ia terima saat ini.
Namun, DDS memilih menolak uang tersebut demi pikiran dan mindset yang tepat.
"Saya tidak memilih uang, saya memilih pikiran saya... Saya percaya pada pekerjaan saya, saya selalu bekerja keras... Saya sangat senang bergabung dengan (Persib)," kata DDS, yang mengisyaratkan bahwa keputusannya adalah tetap setia pada klub yang memberinya kenyamanan mental dan emosional.
Ciro dan Ambisi Meraih Juara Bersama Persib
Saat ini, DDS dan Ciro Alves memiliki hubungan yang sangat dekat, bahkan saling mendukung.
"Ciro ini sahabatku, selalu berbicara untuk sebuah pertandingan untuk membantu sisi permainan, ini pemain yang sangat bagus dan sahabatku terbaik," jelas DDS.
Di tengah kondisi tim yang solid dan dukungan penuh dari keluarga serta sahabat, DDS kini memegang satu impian besar: meraih gelar juara Liga 1 bersama Persib.
"Aku terlalu menginginkan ini... aku pikir ini empat (kali) juara, kau mengerti sebelum meninggalkanku... Ini adalah mimpiku, Juara bersama P. Aku berusaha sebaik mungkin. Tempat ini, T (Tim/Klub), akan tetap selamanya di hatiku," pungkas David da Silva, menunjukkan dedikasi penuh untuk menulis sejarah bersama Maung Bandung.(*)
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi