BLITAR - Siapa yang menyangka bahwa secangkir kopi yang Anda nikmati pagi ini memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang dan penuh misteri? Di balik aroma harumnya, Sejarah Kopi Arabika ternyata menyimpan fakta-fakta unik yang jarang diketahui publik. Mulai dari legenda penggembala kambing di dataran tinggi Etiopia hingga bagaimana Pulau Jawa pernah menjadi raja pasar kopi dunia di masa kolonial Belanda, semuanya merangkai narasi industri kopi yang kita kenal sekarang.
Tren minum kopi saat ini memang telah bergeser menjadi sebuah gaya hidup atau lifestyle yang tidak lagi mengenal batasan usia. Jika dahulu kopi identik dengan orang tua di warung kopi tradisional, kini anak muda lebih gemar menghabiskan waktu di coffee shop modern. Namun, di tengah popularitas Sejarah Kopi Arabika yang mendunia, banyak yang belum menyadari bahwa industri kopi di Indonesia sebenarnya sedang menghadapi tantangan besar meski konsumsinya terus meningkat pesat.
Memahami Sejarah Kopi Arabika memberikan perspektif baru tentang mengapa jenis kopi ini begitu istimewa. Nama "Arabika" sendiri merujuk pada peran besar bangsa Arab dalam mempopulerkan dan membudidayakan tanaman ini sejak abad ke-15. Sebelum menjadi komoditas global, biji kopi adalah tanaman liar yang ditemukan secara tidak sengaja dan bahkan sempat memicu perdebatan di kalangan otoritas agama karena efek stimulannya yang dianggap memabukkan.
Asal-usul kopi sering dikaitkan dengan legenda Kaldi, seorang penggembala kambing asal Etiopia sekitar tahun 850 Masehi. Kaldi menyadari kambing-kambingnya menjadi sangat energik setelah memakan buah beri liar. Penasaran, ia membawa buah tersebut ke seorang biarawan. Awalnya, biji tersebut dianggap aneh dan dibuang ke dalam api. Namun, saat terbakar, muncul aroma harum yang luar biasa kuat. Dari sinilah, biji yang terbakar itu dipungut, digiling, dan diseduh dengan air panas, menjadi cangkir kopi pertama di dunia.
Selain Kaldi, terdapat versi lain yang menyebutkan peran Syekh Abu Al-Hasan asy-Syadzili dan muridnya, Omar. Dalam pengasingannya di sebuah gua dekat kota Ousap, Omar bertahan hidup dengan mengunyah biji beri liar yang pahit. Untuk mengurangi rasa pahitnya, ia memanggang biji tersebut, namun malah menjadi keras. Omar kemudian merebusnya, dan terciptalah cairan hitam beraroma wangi yang memberinya energi ekstra. Cerita ini menyebar hingga ke Makkah, membuat kopi mulai dibudidayakan secara luas di Arabia Selatan atau Yaman.
Perjalanan kopi masuk ke Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kolonial Belanda. Pada tahun 1696, Belanda membawa bibit kopi dari Moka, Yaman, ke Batavia (Jakarta). Meskipun penanaman pertama gagal akibat banjir, Belanda tidak menyerah. Mereka membawa stek pohon dari Malabar dan berhasil menanamnya di Kedaung, Batavia. Keberhasilan ini memicu perluasan perkebunan ke Sumatera, Sulawesi, hingga Bali.
Puncaknya terjadi pada tahun 1711, ketika Bupati Cianjur, Raden Arya Wiratanu III, mengirimkan empat kuintal kopi ke Amsterdam. Inilah momen bersejarah ekspor kopi pertama Indonesia. Kopi Jawa atau yang kemudian dikenal sebagai Java Coffee secara mengejutkan memecahkan rekor harga lelang tertinggi di Belanda karena kualitasnya yang luar biasa, mengalahkan dominasi kopi Moka dari Yaman. Kualitas kopi Jawa bahkan membuat Raja Louis XVI dari Prancis meminta benihnya untuk ditanam di kebun raya Paris.
Namun, kejayaan Sejarah Kopi Arabika di Indonesia sempat runtuh pada tahun 1878. Wabah hama penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) menyerang hampir seluruh perkebunan kopi di dataran rendah. Penyakit yang disebabkan oleh jamur ini merusak daun hingga menyerupai karat besi dan menyebabkan gagal panen massal. Stok kopi dunia pun anjlok dan harga melonjak tajam.
Untuk menyelamatkan industri, pemerintah Belanda kemudian mendatangkan spesies baru, yaitu Kopi Robusta pada tahun 1907. Robusta dipilih karena lebih tahan terhadap penyakit dan hama dibandingkan varietas Arabika. Sejak saat itulah, peta perkebunan kopi di Indonesia berubah, di mana Robusta mendominasi dataran rendah, sementara Arabika tetap dipertahankan di daerah dataran tinggi yang lebih dingin dan minim risiko hama
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi